MAKASSAR – Kegiatan Jelajah Sampah di Kecamatan Tamalanrea kembali menjadi momentum bagi Pemerintah Kota Makassar untuk mengajak masyarakat membangun kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan secara berkelanjutan.
Dalam aksi plogging tersebut, sebanyak 13,06 kilogram sampah berhasil dikumpulkan dan dipilah berdasarkan jenisnya. Sampah tersebut terdiri dari 1,02 kilogram sampah organik, 3,12 kilogram sampah anorganik, 8,74 kilogram sampah residu, serta 0,18 kilogram sampah bahan berbahaya dan beracun (B3).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Helmy Budiman, mengatakan jumlah sampah yang ditemukan dalam kegiatan tersebut bukan sekadar angka. Menurutnya, hal yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat dapat membangun kebiasaan agar sampah yang tercecer di jalan maupun ruang publik semakin berkurang.
“Kalau sampahnya masih ada, berarti kita masih punya pekerjaan. Harapannya, sampah yang ditemukan makin sedikit,” ujar Helmy.
Menurutnya, sampah yang ditemukan sepanjang rute plogging memberikan gambaran mengenai kondisi lingkungan di kawasan Tamalanrea. Sampah tersebut berasal dari jalan dan ruang publik yang dilalui peserta, menunjukkan masih adanya sampah yang belum terkelola dengan baik.
Bagi DLH Makassar, kegiatan Jelajah Sampah bukan hanya tentang memungut sampah yang tercecer. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi sarana edukasi agar masyarakat memahami pentingnya mengurangi, memilah, dan mengelola sampah sejak dari sumbernya.
“Jelajah Sampah Tamalanrea bukan hanya tentang berapa banyak sampah yang berhasil dikumpulkan, tetapi tentang membangun kebiasaan bersama agar jalan dan ruang publik di Tamalanrea semakin minim sampah tercecer,” jelasnya.
Helmy menegaskan, memungut sampah memang dapat membuat lingkungan terlihat lebih bersih. Namun, langkah tersebut baru menjadi bagian awal dari upaya penanganan sampah.
Hal yang lebih penting, kata dia, adalah memastikan sampah tidak kembali tercecer setelah kegiatan berakhir. Karena itu, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci dalam menjaga kebersihan lingkungan secara konsisten.
Masyarakat diajak mulai mengurangi sampah yang dihasilkan, memilah berdasarkan jenisnya, serta mengelolanya melalui jalur yang sesuai. Kebiasaan tersebut diharapkan tidak hanya diterapkan selama kegiatan Jelajah Sampah, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Aksi di Tamalanrea menjadi pengingat bahwa menjaga kebersihan tidak berhenti ketika kegiatan selesai. Perubahan justru terlihat dari apa yang kita lakukan setelahnya, dari cara kita memperlakukan sampah yang kita hasilkan setiap hari,” katanya.
DLH Kota Makassar juga mengajak masyarakat bersama-sama menjaga ruang publik dan lingkungan sekitar. Sebab, lingkungan yang bersih tidak dapat diwujudkan hanya melalui satu aksi, melainkan membutuhkan kebiasaan yang terus dipelihara.
Dengan demikian, keberhasilan Jelajah Sampah di Tamalanrea ke depan bukan hanya diukur dari banyaknya sampah yang berhasil dikumpulkan, tetapi justru dari semakin sedikitnya sampah yang ditemukan di jalan dan ruang publik.
“Harapannya, sampah yang ditemukan makin sedikit,” menjadi pesan utama gerakan tersebut.










