Penulis, Rizal syarifuddin Dosen Fakultas Teknik Universitas Islam Makassar
MAKASSAR _Ujung semester ganjil tahun pelajaran 2025/2026 segera berakhir. Di sekolah-sekolah, rapor akan dibagikan. Bagi sebagian anak, momen ini mungkin disambut dengan senyum bangga. Namun, bagi sebagian lainnya, rapor justru menghadirkan kegelisahan. Ada anak-anak yang pulang ke rumah dengan langkah lebih pelan, menyimpan perasaan gagal yang tidak selalu bisa mereka ucapkan. Di balik rangking kelas, ada luka yang sering luput dari perhatian kita.
Rangking kelas selama ini dianggap sebagai hal biasa dalam dunia pendidikan. Ia dipahami sebagai cara untuk memacu semangat belajar dan mengukur prestasi. Namun, tanpa disadari, rangking juga mengajarkan anak untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Ketika posisi menjadi ukuran utama, anak mulai menilai dirinya dari angka dan urutan, bukan dari usaha dan proses yang telah ia jalani.
Sekolah sejatinya adalah tempat anak belajar dan bertumbuh dengan aman. Di sanalah anak seharusnya berani mencoba, bertanya, dan melakukan kesalahan. Sayangnya, sistem rangking kerap membuat sebagian anak merasa tidak cukup baik. Usaha yang dilakukan terasa sia-sia karena yang dilihat hanya hasil akhir. Anak pun belajar bahwa nilai lebih penting daripada proses.
Dalam semangat pendidikan inklusif, cara pandang seperti ini patut dikaji ulang. Setiap anak memiliki kemampuan, kecepatan belajar, dan latar belakang yang berbeda. Ada yang cepat memahami pelajaran, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Rangking kelas tidak memberi ruang bagi perbedaan tersebut. Ia menempatkan semua anak dalam satu ukuran yang sama, lalu mengurutkannya.
Dampak rangking tidak hanya pada hasil belajar, tetapi juga pada kondisi psikologis anak. Anak yang terus berada di peringkat bawah berisiko kehilangan kepercayaan diri dan motivasi. Rasa takut gagal bisa tumbuh sejak dini. Padahal, belajar sejatinya adalah proses jatuh bangun, bukan sekadar soal menang dan kalah.
Sering kali rangking kelas dibela atas nama persiapan menghadapi persaingan di masa depan. Namun, dunia hari ini membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan bersaing. Dunia membutuhkan manusia yang mampu bekerja sama, saling menghargai, dan berempati. Nilai-nilai ini sulit tumbuh jika sejak awal anak dibiasakan untuk selalu dibandingkan.
Menolak rangking kelas bukan berarti menolak prestasi. Prestasi tetap penting dan patut diapresiasi. Namun, cara menilai prestasi perlu dibuat lebih adil dan manusiawi. Pendidikan seharusnya membantu anak memahami kelebihan dan kekurangannya, bukan sekadar menunjukkan posisinya di antara teman-temannya.
Alternatif penilaian sebenarnya sudah lama dikenal. Penilaian berbasis kompetensi, deskripsi perkembangan belajar, portofolio karya, dan catatan naratif guru dapat memberikan gambaran yang lebih utuh tentang kemampuan anak. Dengan cara ini, anak dinilai berdasarkan perkembangan dirinya sendiri, bukan dibandingkan dengan orang lain.
Pembagian rapor seharusnya menjadi momen refleksi, bukan sumber ketakutan. Rapor idealnya menjadi alat komunikasi antara sekolah dan orang tua tentang bagaimana anak belajar dan apa yang perlu didampingi ke depan. Anak pun pulang ke rumah dengan harapan, bukan dengan perasaan gagal.
Sudah saatnya sistem rangking kelas ditinggalkan sebagai pusat penilaian. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memberi ruang tumbuh bagi semua anak, tanpa kecuali. Di ujung semester ini, mari kita bertanya bersama: apakah kita ingin mencetak anak-anak yang unggul di atas kertas, atau anak-anak yang tumbuh percaya diri dan merasa dihargai?
