Festival Kala Monolog 2024 bertema ”Susur Kota, Susur Ingatan”, ada hal berbeda dari tahun sebelumnya, tahun ini konsep yang diberlakukan dengan mengundang kelompok teater dari berbagai daerah di Indonesia. Dari Indonesia timur hingga Indonesia barat. Kelompok yang bersedia ikut akan dikurasi dengan mengirimkan berupa sinopsis pertunjukan mereka melalui video rekam, yang akan mereka pentaskan langsung pada tanggal 16-20 Oktober di Gedung Mulo Kota Makassar.
Ada beragam naskah yang dipentaskan pada kelompok teater yang terpilih sebagai penampil di Festival Kala Monolog dengan kesesuaian tema festival. Tiap kelompok menafsir naskah berdasarkan tema, serta membuat naskah sendiri dari tema yang telah ditentukan. Ada pula yang menafsirnya sesuai local wisdomnya, mengotak-atik naskah sesuai dengan tafsiran konteks hari ini, dan mengelaborasi dari riset menjadi naskah monolog.
Festival Kala Monolog 2024 bertujuan untuk upaya menghubungkan warga dengan sejarah kota juga pada sejarah warga itu sendiri. Muara upaya tersebut adalah terciptanya keterikatan emosi terhadap kota sebagai ruang hidup juga menguatkan identitas warga yang dikemas dalam seni pertunjukan teater monolog.
Sejak 2015, Kala Teater melalui Festival Kala Monolog telah melibatkan penulis serta pegiat teater untuk menuliskan naskah khusus untuk dipentaskan di festival tersebut. Hingga penyelenggaraan pada 2022 lalu, Festival Kala Monolog telah melibatkan 111 aktor, 10 kota di Indonesia, 6 diskusi, 5 workshop, 60 naskah teater, dan 1 kumpulan buku naskah monolog.
Kala Teater selaku penggagas program Festival Kala Monolog juga menginisiasi proyek Kota dalam Teater (city in theatre project). Proyek ini merupakan proyek pembacaan isu kota melalui riset terhadap warga kota berdurasi sepuluh tahun (2015-2025).
Kota, Kekerasan, dan Kisah
Menurut Wirth, kota adalah pemukiman yang relatif besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang‐orang yang heterogen kedudukan sosialnya. Akibatnya hubungan sosial menjadi longgar acuh dan tidak pribadi (impersonal relation).
Melihat Festival Kala Monolog berkerja untuk berupaya menghubungkan ingatan warga dengan kota merupakan hal yang perlu direspons dengan serius. Kehadirannya memberikan kontribusi signifikan mengenai perkembangan suatu kota melalui seni pertunjukan monolog.
Sebagaimana pada naskah Perempuan dan Nasi Panci karya Nurul Inayah yang diperankan oleh Waode Nurul Hasanah juga sebagai sutradara bercerita tentang seorang perempuan tamatan SMA yang dilanda tak dapat pekerjaan, dia tak sanggup melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya dikarenakan kekurangan finansial. Seperti pada kutipan tersebut;
Nah, setelah lulus SMA, saya lantas bertemu dengan Pak Dahlan. Dia adalah seorang doktor, jurusan komunikasi. Sebagai seorang doktor, dia masih sangat muda. Pak Dahlan mengajak saya bergabung dengan salah satu partai yang cukup besar. Awalnya saya tentu ragu, masa lulusan SMA seperti saya bisa langsung menjadi kader partai, padahal pengalaman pun saya tidak punya.
“Ci, kamu harus yakin pada diri sendiri. Saya tahu kamu pasti merasa rendah sebab hanya lulusan SMA. Tapi saya yakin kamu ini punya kecerdasan yang luar biasa untuk bergabung dengan partai ini. Lagi pula, saya melihat peruntungan kamu pastinya bisa membawa banyak perubahan baik dalam partai,” kata-kata Pak Dahlan mampu meyakinkan saya.
Dialek Makassar begitu kuat dibawakan ke atas panggung pertunjukan monolog, Waode Nurul Hasanah nampaknya mengusai itu dengan sangat lihai memerankan tokoh Ci pada naskah Perempuan dan Nasi Panci yang mengisahkan sosok perempuan yang diperalat sebagai petugas partai oleh si Pak Dahlan. Ci seorang tamatan SMA dengan keterbatasan finasial untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dia juga menjadi tulang punggung keluarga sebagai anak pertama yang harus menafkahi saudara-saudara mereka. Pak Dahlan mengajak Ci untuk ikut dalam partai yang dimana dia salah satu calon legislatif pada partai tersebut.
Pertunjukan monolog mini properti mendukung peristiwa yang ia lakoni. Properti pertunjukan yang digunakan ialah sebuah kursi dan panci serta baju kemeja berwarna putih serta kostum yang dia persiapkan belapis-lapis di tubuhnya, menjadi perubahan adegan yang dia lakoni. Pertunjukan itu kira-kira berlangsung selama kurang lebih 40 menit lamanya.
Sebelum Ci memulai peristiwa pertunjukan dia memberikan kita (penonton) informasi tentang permohonan maaf terkait kenyamanan dan keluhan yang keluar dari mulut Ci. Maka dari itu, kalian penonton cukup dengarkan cerita saya di atas panggung.
Kami mendengarkan keluhan yang dialami Ci yang bekerja bersama Pak Dahlan adalah salah satu calon legislatif yang diusung. Sebagai orang yang turut bertanggung jawab dalam memberikan saya peluang bergabung dalam partai ini, tentunya saya lebih giat mendatakan jumlah suara secara pribadi untuk Pak Dahlan. Setiap hari setelah pulang mendata, Pak Dahlan tentunya selalu memanggil saya di rumahnya untuk mengevaluasi hasil pendataan saya.
“Kamu terlihat sangat kelelahan setiap hari harus masuk dari rumah ke rumah,” kata Pak Dahlan melanjutkan pembicaraan setelah ruangan hanya tinggal kami berdua. Tangannya pelan-pelan meraba paha dan menyentuh bagian tubuh saya yang selama ini saya jaga untuk orang yang saya cintai kelak.
“Kamu jangan bersuara dulu, Ci, saya akan pelan-pelan.”
Ya Tuhan…. Saya tidak sanggup bicara dan berbuat apa-apa. Dia kemudian menyerang dengan buas ke atas tubuh saya, dibukanya baju dan seluruh lembar pakaian saya tanpa tersisa. Saya hanya bisa meronta dalam diam, melihat wajah Pak Dahlan telah terbenam dalam keberahian yang hina.
Tiba-tiba perempuan itu memukul-mukul tubuhnya sendiri. Dia melihat ke sekeliling dengan ketakutan, berlari mengelilingi panggung seolah menghindari bayangannya sendiri yang terus mengikutinya. Sambil berteriak, meronta-ronta, dan menangis keras, ia membuka pakaiannya dengan tergesa-gesa. Rupanya dalam pakaiannya tersebut ada pakaian lainnya.
Kekerasan yang dialami Ci menjadi traumatik pada dirinya yang sudah mempercayai seseorang bisa membantu perekonomian keluarga Ci. Akan tetapi dia hanya dimanfaatkan sebagai pelampiasan kebirahian Pak Dahlan.
Pertunjukan tersebut menuai refleksi terhadap kita warga yang seringkali menganggap bahwa hal kekerasan itu hanya perkelahian saja, akan tetapi kekerasan itu luas cakupannya, yakni kekerasan seksual, kekerasan budaya, dan kekerasan politik.
Budaya kekerasan adalah sikap dan keyakinan yang telah diajarkan sejak kecil dan mengelilingi kehidupan sehari-hari tentang kekuasaan dan kebutuhan kekerasan. Budaya kekerasan merupakan salah satu bentuk kekerasan yang tidak langsung, atau cultural violence dalam istilah Johan Galtung.
Hal serupa pada pertunjukan Perempuan Etalase Mitos sebagaimana yang telah diceritakan melalui acara pernikahan yang menentukan tarif ratusan juta hingga milyaran rupiah. Perempuan harus bersikap malebbi’ ialah sopan perkataan dan perilakunya, anggun, sosok yang dimuliakan dan juga dijaga kehormatannya. Sosok tokoh perempuan dambaan itu diperankan oleh Annisa Effendi dengan pembawaan karakternya yang tidak menggambarkan sikap malebbi’.
Sebagaimana yang telah dituliskan dalam naskah,
“Astaga Ma, sudah lama sekali peristiwa itu. Apa hubungannya dengan ini? Perihal saya belum punya anak Ma?” kakak yang masih dengan lembut berusaha membantah Mama.
Pembantahan seorang anak pada ibunya yang selalu ingin terlihat malebbi’ anaknya, itu hanya untuk diperlihatkan pada tetangga sekitarnya saja. Kemarahan itu menandai sebuah hal tak masuk akal oleh anak yang karakternya ingin bebas dari belenggu orang tuanya. Kebelengguan itu menjadi problem pada dirinya yang dituntut menjadi perempuan yang lembut.
“ Pokoknya Nak perempuan itu harus bersikap lembut. Kalau jalan memperhatikan langkah, janganlah berjalan dengan kaki yang terbuka lebar sekali, rangka-rangka.” Nasehat mama dengan gaya khas ibu-ibu yang selalu merasa dirinya benar. “Jadi Ma, bagaimana caranya mau jalan, kalau kaki tidak terbuka. Dijepit begini lututku? Atau kukasi rapat kakiku terus lompat-lompat? Kayak pocong Ma?” timpalku sambil tertawa setelah memperagakan ucapanku.
Annisa Effendi selaku aktor yang memainkan karakter naskah tersebut, akan lebih menarik mendalami tokoh jika ada pembanding tokoh dengan latar belakang berbeda. Pencarian karakter itu penting untuk mengasah kemampuan seorang aktor, akan menjadi menarik lagi apabila dia mencoba memainkan layaknya perempuan turis. Pasti memancing kreativitas seorang aktor pada naskah tersebut, tentu ada sudut pandang budaya berbeda memahami tokoh perempuan.
Selain dari itu, keaktoran Annisa Effendi memanfaatkan ruang eksplorasi karakter, sifat, dan pikiran. Meskipun permintaan naskah sesuai realitas yang terjadi, akan tetapi kecerdasan seorang aktor bisa mendobrak itu, kadang kala seorang aktor takut keluar dari permintaan naskah. Padahal keduanya itu, mempunyai ruang yang berbeda atau masing-masing memiliki proses kerja kreatif.
Penggunaan properti manekin sebagai cerminan dari seorang perempuan yang melanggar norma adat Sulawesi Selatan yang amat terlarang seorang perempuan memainkan gendang pada saat acara tertentu, dengan akibat dia tak akan diberikan buah hati ketika selesai melaksanakan pernikahan. Hal itu, menjadi polemik bagi sebagian masyarakat sebab bertentangan dengan rasionalitas. Di era yang serba modern ini, nampaknya pamali itu masih terpegang oleh kelompok masyarakat tertentu.
“Tolong” adalah naskah monolog yang ditulis oleh N. Riantiarno, mengisahkan perjalanan penuh penderitaan Atikah, seorang pekerja migran yang mempunyai harapan besar agar dapat memperbaiki kehidupan yang lebih baik. Namun yang terjadi, ia justru dibenturkan pada kenyataan bahwa ia telah terjebak dalam jeratan siksaan dan ketidakadilan di negeri orang. Di tengah keterasingan dan keputusasaan, dia terus mencari harapan dan mempertahankan tekadnya untuk bertahan hidup, hingga nanti kembali ke Indonesia dan bertemu Mudasir suaminya, Mak dan Bapak.
Monolog naskah Tolong karya Nano Riantiarno yang diperankan Kadek Eky Virji disutradarai oleh A.A. Sagung Mas Ruscitadewi sangat detail menggambarkan peristiwa dramatik di atas panggung dengan kisah amat berat. Peristiwa yang mengandung faktor kemiskinan, kekerasan, dan kisah yang tragis berhasil digambarkan pada pertunjukan monolog tersebut.
Kadek menjiwai peran Atikah sebagai pekerja migran penuh emosional. Kesedihan yang dialami Atikah di negeri orang terasa pada pertunjukan monolog itu. Kekerasan dialaminya pun bisa kami rasakan dengan kekuatan rasa Kadek. Kecerdasan emosional dalam melakoni peristiwa tersebut, membawa kita ke suasana yang dialami oleh tokoh Atikah.
Properti berupa empat tiang dari bahan bekas gulungan plastik bening menjadi sekat kotak. Dua tiang lagi berada di belakang terbungkus kain yang sejajar dengan tiang bekas gulungan plastik, penanda sebuah ruang Atikah yang mengalami sebuah kejadian pelik. Dengan kostum yang dikenakan layaknya seorang pekerja buruh di negeri orang.
Faktor kemiskinan dapat menjadikan seseorang untuk melakukan pekerjaan apapun untuk mencukupi kehidupannya, salah satu pekerjaan yang banyak dilakukan untuk mengatasi kemiskinan yang dihadapi adalah menjadi pekerja di negeri orang untuk mencari nafkah demi keluarganya, meskipun pekerjaan itu membuat banyak orang merasakan kerinduan bahkan penyiksaan yang dialami. Seperti pada kutipan berikut;
Tapi, Mudasir, demi Tuhan, saya bekerja. Saya memperoleh upah karena saya bekerja. Saya bukan pemalas. Saya bangun sebelum subuh. Untuk membersihkan rumah.
Kejahatan seksual terhadap perempuan berpotensi meninggalkan bekas dan dendam yang sangat menghina dan menyakiti perempuan. Kondisi tersebut dinilai sebagai bentuk kekerasan psikis yang jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan kekerasan fisik yang sering dialami perempuan (Baso, 2021).
Salah satu kutipan yang menggambarkan pelecehan seksual yang diterima oleh Atikah yang dilakukan oleh majikannya sebagai berikut:
Pada bulan ketigabelas, suatu malam, majikan lelaki mendatangi saya. Nampak mabuk dia. Waktu itu, sekitar pukul sebelas. Dia masuk kamar, menutup pintu, duduk di pinggir ranjang dan menatap saya dengan diam. Buru-buru saya duduk di kepala ranjang, balas menatap dia dengan mata heran.
Kutipan tersebut, bahwa wajah dan bentuk tubuh Atikah menggoda majikan laki-laki. Bentuk tubuh yang proporsional dengan pakaian Atikah membangkitkan hasrat majikannya. Pada bagian ini, majikan laki-laki mau masuk ke kamar Atikah karena seksualitasnya yang ditunjukkan dari tubuhnya. Atikah yang sedang tertidur awalnya tidak melihat kedatangan majikannya, tapi ketika majikan mengunci pintu Atikah langsung menyadari dirinya berada dalam situasi yang berbahaya dan langsung duduk bersimbah keringat.
Kerinduan akan negerinya sendiri dari berbagai peristiwa kekerasan yang dialaminya, terlihat di saat akhir pertunjukan ketika dia sedang mengambil bendera merah putih tersembunyi di balik karung goni. Lalu ia mengambilnya dengan perlahan ia berjalan menuruni panggung kemudian membagikan bendera satu per satu kepada penonton baris depan.
Gelar, Citra, dan Gaya
Prodo Imitatio bercerita tentang seseorang yang mendapatkan gelar sarjana yang tidak sesuai dengan prosedur akademik dikarenakan dia telah melewati jalur khusus serba cepat. Dia membeli gelar itu lalu dia memamerkannya kepada seluruh penonton agar dia diterima di masyarakat. Hal itu, membuat masyarakat risih dengan perilakunya, sisi lain, dia bisa menjadikannya mata pencarian ke masyarakat yang membutuhkan gelar pendidikan.
Kritik yang disampaikan melalui pertunjukan monolog tersebut adalah masih ada orang yang melakukan praktik suap untuk memudahkan segala hal. Seperti yang dilakukan orang tua Prodo Imitatio yang menyuap sekolah untuk mempermudah segala urusan anaknya. Jelas tindakan suap adalah tindakan kejahatan. Tindakan suap yang lain ditemukan dalam kutipan berikut.
“Jadilah aku seorang sarjana yang lulus karena permainan uang!”
Gelar adalah sebutan kehormatan atau kesarjanaan yang diberikan kepada seseorang yang telah memenuhi syarat tertentu. Gelar dapat ditambahkan pada nama seseorang sebagai awalan (prefiks) atau akhiran (sufiks) untuk menunjukkan bahwa telah menyelesaikan pendidikannya. Pertunjukan Prodo Imitatio diperankan Sabri Sahafuddin yang disutradarai oleh Muhammad Imran mengajak kita penonton berdiri dari tempat duduk masing-masing untuk memberikan penghormatan kepada aktor atas pencapaian menyelesaikan pendidikan sarjana.
Pencapaian itu terasa bahwa dia telah melewati fase dengan usaha kerasnya mengerjakan tugas akhir. Panggung berisi kain putih, trap yang berdiri di tiap sisi kiri, kanan, dan tengah panggung. Di atasnya tersimpan buku-buku sebagai penanda bahwa bahan referensi dia meraih gelar akademik. Suatu kehormatan yang berharga apabila dia telah melewatinya. Dia memperlihatkan foto-foto terdahulu yang sudah lama meraih gelar tersebut, ada apa dengan gelar pada pertunjukan tersebut? Ternyata dalam pertunjukan monolog Prodo Imitatio ingin menyampaikan pesan bahwa gelar bisa diraih dengan mudah apabila kita memiliki uang, segalanya bisa dilakukan dengan mudah.
Seperti yang dilakukan oleh Prodo Imitatio yang menggunakan uang atau suap untuk lulus dengan mudah. Selain menyuap, uang digunakan untuk melakukan praktik curang seperti mendapatkan gelar, tertuang dalam kutipan berikut.
“Bisnis jual beli gelar memang sudah menggurita tanpa upaya memberantasnya, niscaya akan banyak sarjana, magister, doktor palsu.”
Kritik yang disampaikan melalui kutipan tersebut adalah masih ada bisnis jual beli gelar yang terjadi. Bisnis ini merupakan bisnis yang dilarang, karena melakukan praktik curang dalam mendapatkan gelar. Walaupun demikian, praktik jual beli gelar ini kurang diperhatikan oleh pihak berwajib, sehingga praktik ini tidak pernah putus sampai saat ini.
Pengamatan penulis mengenai pertunjukan tersebut, menjadi hal yang menarik pada konteks hari ini, yang sedang tren di masyarakat yaitu jual beli gelar. Bukan hanya gelarnya, tetapi mengenai pendidikan yang terkelola secara amburadul. Kebijakan perguruan tinggi kita begitu rumit dan birokratis, sehingga akan memberikan ruang alternatif yang lebih mudah, yakni membeli gelar.
Gelar yang kita dapatkan menjadi citra proses transaksi jual beli. Citra itu akan memperburuk suatu kualitas perguruan tinggi apabila fenomena dibiarkan begitu saja. Perlu kiranya sebuah regulasi yang tepat sasaran untuk menindaklanjuti kejadian tersebut, semisal gelar yang dia dapatkan akan ditarik kembali jika ketahuan melakukan hal itu, agar dampak ke masyarakat tidak pragmatis.
Sebagaimana pada pertunjukan Belanja Citra yang disutradarai oleh Arman Dewartri, ia memasuki situasi masa kini yang akrab dengan harga diri seorang perempuan yang amat sangat terstigma bahwa perempuan bugis itu mahal harganya. Kemahalan itu dinilai dari latar belakang sosial, pendidikan, dan keluarga.
Belanja Citra diperankan Dwi lestari Johan mengkritik citra melalui panggung pertunjukan monolog. Pertunjukan itu menunjukkan kemahalan citra pada suatu acara pernikahan merupakan tanggungjawab berat bagi sebagian masyarakat. Karena tak semua kelompok masyarakat menyanggupi sesuai permintaan yang telah ditentukan. Pertunjukan tersebut, menitikberatkan pada persoalan citra yang diberikan pada perempuan yang akan disandingkan ke pernikahan.
Panggung monolog Belanja Citra berisi properti meja panjang yang bisa dimuat tumpukan buku-buku, majalah, asbak, toples berisi penuh uang koin, yang beralas kain putih, serta lampu hiasan kamar setinggi seratus tiga puluh centimeter. Nampaknya penata artistik mempertimbangkan matang properti yang dihadirkan. Tak hanya itu, penata musik ikut serta ke atas panggung pada sisi kanan belakang panggung. Seakan ruang yang akan dihadirkan tak lain dari suatu keterkaitan. Antara aktor dan penata musik.
Penyutradaraan Belanja Citra amat rapi menjahit peristiwa ke peristiwa lainnya. Seperti membawa kita pada pengalaman menyaksikan sebuah adegan film yang ada unsur sinematik di dalam pertunjukan. Kreativitas sutradara berperan penting dalam monolog tersebut. Sehingga kita penonton terbawa pada suasana peristiwa tersebut.
Dari pertunjukan Belanja Citra kita merenungi kembali acara pernikahan itu untuk siapa dan bagaimana.
Sedangkan di masyarakat Bugis, bahwa prosesi pernikahan menghabiskan biaya yang tinggi. Tujuannya untuk menaikkan status sosial hingga memperluas relasi kuasa. Susan Bolyard Millar dalam Perkawinan Bugis menuliskan, tradisi uang panaik menjadi penanda status yang boros, bersifat pamer dan agresif.
Arti dari pertunjukan Belanja Citra menjadi sebuah gaya hidup pamer dalam artian ingin diakui dirinya terhormat di masyarakat. Belanja Citra pada konteks acara pernikahan sama halnya membeli gaya hidup yang akan dipamerkan ke orang lain. Sementara, gaya hidup makin harinya semakin meningkat, seakan tak ada habisnya, tujuannya tak lain menunjukan citra diri sebenarnya.
Gaya hidup adalah pola hidup seseorang yang meliputi aktivitas, minat, pendapat, dan perilaku. Gaya hidup juga dapat diartikan sebagai cara seseorang menggunakan waktu dan uangnya. Relasi antar pertunjukan diatas berkaitan erat dengan gaya hidup di masyarakat untuk menjadi bahan refleksi atas memahami kehidupan melalui pertunjukan monolog.
Berdasarkan pengamatan penulis mengenai pertunjukan monolog di atas, mengandung beragam kritik terhadap fenomena sosial budaya masyarakat yang menyimpan terkait kekerasan, perempuan, dan ketidakadilan pada kondisi sosial budaya masyarakat. Maka dari itu, kehadiran Festival Kala Monolog perlu dukungan bersama untuk memberikan ruang reflektif melalui pertunjukan monolog pada kehidupan kita sehari-hari. Agar warga tetap memberikan ruang aman, ramah, dan inklusif bagi kehidupan sosial masyarakat.
Festival Kala Monolog 2024 ini terselenggara atas dukungan Dana Indonesiana, Kemendikbudristek, LPDP dan Fase Rawat Pekan Kebudayaan Nasional 2024.










