Oleh Abdullah Sartono.
Dalam kehidupan seorang pemimpin, tidak semua amanah datang sebagai kehormatan. Sebagian besar justru hadir sebagai ujian tentang sejauh mana ilmu, integritas, dan keikhlasan diwujudkan dalam pengabdian.
Semakin besar kepercayaan yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Atas izin Allah. H. Ahmad Nausrau, Wakil Gubernur Papua Barat Daya, kembali memperoleh kepercayaan sebagai Ketua DPD Gerakan Muslim Indonesia Raya (GEMIRA) Papua Barat Daya. Pengukuhan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan pembangunan daerah.
Di saat yang hampir bersamaan, Musyawarah Daerah I MUI Papua Barat Daya juga menetapkan struktur kepengurusan baru. Ahmad Nausrau dipercaya sebagai Ketua Dewan Pertimbangan MUI Papua Barat Daya, sementara kepemimpinan harian MUI diamanahkan kepada KH. Abu Bakar Lodji sebagai Ketua Umum. Susunan ini mencerminkan komitmen untuk menghadirkan ulama sebagai mitra strategis pemerintah sekaligus pelayan umat.
Kepercayaan yang terus diberikan kepada Bapak Ustaz H. Ahmad Nausrau menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati dibangun melalui rekam jejak pengabdian, bukan sekadar jabatan. Sosok pemimpin yang lahir dari rahim dakwah akan senantiasa memahami bahwa kekuasaan bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
“Kami bukan hadir sebagai pesaing organisasi Islam yang sudah ada, tetapi ingin menjadi mitra yang memperkuat gerakan dakwah. Kami ingin bersama-sama mewujudkan dakwah yang rahmatan lil ‘alamin bagi seluruh masyarakat Papua Barat Daya.” KH. Ahmad Nausrau
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan yang beliau bangun tidak hanya berorientasi pada kekuasaan, tetapi juga pada kolaborasi, persaudaraan, dan pelayanan. Dakwah tidak cukup hanya disampaikan melalui mimbar, tetapi juga diwujudkan dalam kebijakan yang berpihak kepada rakyat, program sosial yang menyentuh masyarakat, serta semangat membangun daerah secara bersama-sama.
Papua Barat Daya sebagai provinsi termuda memiliki tantangan dan peluang yang besar. Karena itu, sinergi antara pemerintah, ulama, tokoh adat, akademisi, pemuda, dan seluruh elemen masyarakat merupakan fondasi penting untuk membangun daerah yang maju tanpa kehilangan nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal.
Papua Barat Daya adalah provinsi muda yang menyimpan potensi besar sekaligus tantangan yang tidak ringan. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, ulama, tokoh adat, akademisi, pemuda, dan seluruh elemen masyarakat agar pembangunan berjalan seiring dengan penguatan moral, persatuan, dan keadilan sosial.
Kehadiran H. Ahmad Nausrau pada ruang pemerintahan, organisasi kemasyarakatan, dan lembaga keulamaan menjadi simbol penting bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya dengan kebijakan administratif. Ia memerlukan sentuhan nilai, hikmah, dan keteladanan. Ketika ulama dan umara berjalan beriringan dalam bingkai saling menasihati dan saling menguatkan, maka harapan akan lahirnya masyarakat yang religius, damai, maju, dan sejahtera semakin terbuka.
Semoga amanah yang diemban menjadi wasilah untuk memperkuat persaudaraan, membangun sumber daya manusia Papua Barat Daya yang unggul, serta menghadirkan kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada kemaslahatan umat dan kesejahteraan rakyat.
Selamat mengemban amanah. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing setiap langkah, menguatkan setiap ikhtiar, dan menjadikan seluruh pengabdian sebagai amal saleh yang pahalanya terus mengalir hingga hari kemudian.











Keren. Sukseskan berkhidmat ustadz
BarakallahuFiikum pak Wagub