Langkah Terakhir Setiawan di Tanah Rantau, Korban Amuk Massa di Morowali, Diduga Mencuri Motor

  • Bagikan

Malam itu, Setiawan berlari sekuat tenaga. Napasnya tersengal, keringat membasahi tubuhnya. Di belakangnya, puluhan orang mengejar. Dalam kepanikan, lelaki 33 tahun asal Kabupaten Sinjai itu, melihat sebuah minimarket yang masih buka. Ia pun berlari masuk, berharap menemukan tempat aman untuk menyelamatkan diri.

Dalam vidio yang beredar di media sosial, Setiawan malam itu mengenakan kaos oblong warna hijau, ia berlindung di belakang kasir Indonaret. Wajahnya terlihat tegang, saat mendengar suara ratusan warga bersahut-sahutan, menambah ketegangan.

Massa terlihat mamadati halaman minimarket, teriakan warga menggema membuat orang sekitar panik, apalagi mereka yang sedang berada di dalam indomaret.

Sejumlah karyawan terlihat panik, mereka bingung antara menutup pintu dan meminta korban keluar.

Namun, puluhan warga sudah masuk ke dalam, ramai-ramai pukulan menghantam tubuh Setiawan. Barang-barang yang tertata rapi di rak indomaret pun berjatuhan. Sesekali terdengar suara memanggil polisi. Emosi warga tak terkendali, mereka tetap melayangkan pukulan dan tendangan ke tubuh Setiawan.

Setiawan bukanlah warga Morowali. Ia adalah seorang perantau yang datang mencari penghidupan di daerah yang dikenal sebagai salah satu pusat industri terbesar di Indonesia Timur.

Seperti ribuan perantau lainnya, ia meninggalkan kampung halaman demi harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Di Morowali, para perantau datang membawa mimpi. Mereka bekerja keras, meninggalkan keluarga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Tidak sedikit yang rela hidup sederhana di tanah orang demi mengirimkan uang untuk orang tua, istri, atau anak-anak mereka di kampung.

Namun perjalanan hidup Setiawan berakhir tragis.

Ia diduga terlibat dalam kasus pencurian sepeda motor. Dugaan tersebut memicu kemarahan warga yang kemudian mengejarnya.

Situasi yang awalnya hanya berupa dugaan berubah menjadi amuk massa yang sulit dikendalikan.

Padahal, dalam negara hukum, setiap orang berhak mendapatkan proses hukum yang adil. Benar atau salah, seseorang seharusnya diperiksa, diadili, dan diputuskan melalui jalur hukum, bukan oleh kemarahan yang meledak di jalanan.

Malam itu, kesempatan tersebut tak pernah benar-benar dimiliki Setiawan.

Peristiwa yang menimpanya meninggalkan duka yang mendalam. Bukan hanya bagi keluarga yang kehilangan, tetapi juga menjadi pengingat bagi banyak orang tentang bahaya tindakan main hakim sendiri.

Tangis Pilu Keluarga Sambut Jenazah Setiawan

Di kabupaten Sinjai, tangis keluarga pecah seketika ketika ambulans yang membawa jenazah berhenti di depan rumah. Kerabat dan tetangga yang telah menunggu sejak pagi tak kuasa menahan haru.

Suara tangisan bercampur doa mengiringi kedatangan Setiawan untuk terakhir kalinya.

Di antara kerumunan pelayat, anggota keluarga terlihat saling berpelukan. Kesedihan begitu terasa. Mereka masih sulit menerima kenyataan bahwa sosok yang selama ini dikenal sebagai pekerja keras itu kini telah tiada.

Dari peristiwa yang menawaskan Setiawan kita bisa belajar bahwa kemarahan yang tidak terkendali akan melagirkan penyesalan yang datang terlambat.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *