Belasan Tahun Membersamai Qurban 3T: Menyalakan Harapan dari Pedalaman hingga Pulau Terluar Indonesia

  • Bagikan

Oleh: Abdullah Sartono

Takbir Idul Adha kembali menggema hingga ke pelosok negeri. Dari pedalaman Sulawesi hingga Pulau Pantar di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, gema “Allahu Akbar Walillahil Hamd” bukan sekadar seruan ibadah tahunan, melainkan tanda bahwa kepedulian umat Islam masih terus hidup dan bergerak menjangkau mereka yang selama ini berada jauh dari pusat perhatian.

Bagi sebagian masyarakat di perkotaan, daging qurban mungkin menjadi hal yang mudah ditemui setiap tahun. Namun bagi warga muslim dhuafa di kawasan 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) momentum Idul Adha memiliki makna yang jauh lebih dalam. Kehadiran hewan qurban adalah simbol cinta, perhatian, sekaligus pengingat bahwa mereka tidak sendiri.

Sudah belasan tahun saya membersamai perjalanan qurban di berbagai wilayah pelosok Indonesia. Dari pedalaman Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat hingga pulau-pulau kecil di Nusa Tenggara Timur, saya menyaksikan sendiri bagaimana qurban mampu menghadirkan kebahagiaan sederhana yang begitu membekas di hati masyarakat.

Di bawah naungan Yayasan Shohwatul Islam sejak 2017, program Qurban 3T terus berjalan dengan membawa amanah dari para Muhsinin, donatur mandiri, lembaga amil zakat nasional, hingga CSR perusahaan yang mempercayakan penyaluran qurbannya kepada relawan di lapangan.

Perjalanan menuju daerah terpencil tentu bukan perkara mudah. Ada medan berat, transportasi terbatas, cuaca yang tidak menentu, hingga distribusi yang harus melewati laut dan perbukitan. Namun semua perjuangan itu terasa ringan ketika melihat senyum masyarakat yang menerima manfaat qurban dengan penuh syukur.

Saya masih mengingat suasana di Pulau Pantar, Alor. Anak-anak berlarian membantu membawa kantong daging qurban. Para orang tua berkumpul sambil menahan haru. Sebagian dari mereka mungkin baru bisa menikmati daging qurban setahun sekali. Dalam kondisi ekonomi masyarakat pesisir yang serba terbatas, momen seperti itu menjadi kebahagiaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Di situlah saya memahami bahwa qurban sejatinya bukan hanya tentang menyembelih hewan. Spirit qurban jauh lebih besar dari itu. Ia mengajarkan tentang pengorbanan, kepedulian sosial, ukhuwah, dan semangat membangun kemanusiaan.

Qurban juga menjadi jembatan persaudaraan antarwilayah. Ketika masyarakat kota menitipkan amanah kepada relawan di pelosok negeri, sesungguhnya sedang terbangun ikatan emosional yang memperkuat persatuan umat. Laut dan jarak seakan tidak lagi menjadi penghalang untuk saling menguatkan.

Program qurban di wilayah Alor sendiri mulai berjalan sejak 2021 dan terus mendapat dukungan dari berbagai pihak. Tahun 2026 ini, Yayasan Shohwatul Islam kembali menerima amanah beberapa ekor sapi qurban melalui kolaborasi bersama LAZ Nurul Hayat dan para donatur lainnya. Amanah itu kemudian disalurkan ke sejumlah titik prioritas di kawasan 3T Indonesia.

Bagi kami para relawan, qurban bukan hanya kegiatan tahunan, tetapi bagian dari ikhtiar membangkitkan umat dan negeri. Tagline itu tidak berhenti sebagai slogan, melainkan diwujudkan melalui pelayanan masyarakat, penguatan dakwah, gotong royong, dan pendampingan sosial di daerah yang minim akses.

Hal yang juga menggembirakan adalah semakin banyak anak muda yang ikut terlibat dalam gerakan kemanusiaan ini. Mereka belajar tentang arti pengabdian dan pentingnya menghadirkan manfaat bagi sesama. Dari sinilah harapan tentang generasi yang peduli dan berempati mulai tumbuh.

Di tengah berbagai tantangan bangsa hari ini, semangat qurban dari pelosok negeri seharusnya menjadi refleksi bersama bahwa Indonesia dibangun bukan hanya oleh gemerlap kota-kota besar, tetapi juga oleh ketulusan orang-orang yang terus menjaga kepedulian hingga ke daerah terjauh.

Karena pada akhirnya, qurban bukan sekadar membagi daging. Qurban adalah tentang menghadirkan harapan.

Dan harapan itu terus menyala dari pedalaman hingga pulau terluar Indonesia.

Abdullah Sartono
Pegiat Kemanusiaan
dari Pulau Pantar, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur

  • Bagikan
Exit mobile version