Oleh: Abdullah Sartono
Di tengah padatnya agenda pejabat publik, tidak semua pemimpin masih menyisakan ruang untuk sekadar duduk santai, berbincang hangat, dan menyambung ukhuwah dengan sahabat lama. Namun hal itu justru terlihat dari sosok Wakil Gubernur Papua Barat Daya, Ahmad Nausrau, saat menyempatkan diri bersilaturahmi dengan para alumni Ma’had Al-Birr di kawasan Anjungan Pantai Losari, Kamis malam, 7 Mei 2026.
Bagi sebagian orang, pertemuan itu mungkin hanya terlihat sebagai reuni biasa. Namun sesungguhnya, ada pesan penting yang tercermin dari suasana sederhana namun penuh makna tersebut: bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kedekatan dengan manusia, bukan sekadar jabatan dan protokoler.
Di tengah gemerlap kota Makassar, Ahmad Nausrau hadir tanpa sekat. Ia bercengkerama hangat bersama tokoh dan alumni Ma’had Al-Birr, di antaranya Jumadil Muhammad, Hassan, Munawir, hingga penceramah Hasbi. Tidak ada suasana formal yang kaku. Yang tampak justru keakraban, canda ringan, dan dialog yang mengalir alami.
Di sinilah letak kekuatan seorang pemimpin. Bukan hanya mampu berbicara di podium, tetapi juga hadir sebagai sahabat di tengah masyarakat. Ahmad Nausrau memperlihatkan bahwa silaturahmi bukan sekadar tradisi sosial, melainkan energi moral untuk menjaga persaudaraan dan membangun kepercayaan.
Hal lain yang menarik dari sosoknya adalah konsistensi menjaga hubungan lintas daerah dan lintas generasi. Ia dikenal kerap memanfaatkan waktu transit di berbagai kota untuk bertemu sahabat, tokoh masyarakat, maupun jaringan alumni. Sebuah kebiasaan sederhana, namun di era yang serba cepat dan individualistik, hal itu menjadi sesuatu yang semakin langka.
Kemampuan Ahmad Nausrau berkomunikasi dalam berbagai bahasa, mulai dari bahasa daerah, bahasa Indonesia, hingga bahasa Arab dan Inggris juga mencerminkan keluasan wawasan dan kemampuannya menjembatani beragam kalangan. Sosok seperti ini penting bagi Indonesia timur, kawasan yang membutuhkan pemimpin inklusif, berkarakter, dan mampu membangun konektivitas sosial maupun budaya.
Pertemuan hangat di Pantai Losari itu akhirnya bukan hanya menjadi ajang temu kangen alumni Ma’had Al-Birr. Lebih dari itu, ia menjadi pengingat bahwa kekuatan bangsa ini sejatinya dibangun dari hubungan antarmanusia yang tulus, dari ukhuwah yang terus dijaga, dan dari pemimpin yang tetap membumi meski berada di puncak kekuasaan.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, publik tentu merindukan hadirnya figur-figur pemimpin yang tidak hanya cerdas secara administratif, tetapi juga hangat secara emosional dan dekat dengan umat. Dan pada titik itulah, Ahmad Nausrau memberi teladan bahwa pengabdian tidak selalu ditunjukkan lewat pidato besar, tetapi juga lewat kesediaan meluangkan waktu untuk menjaga silaturahmi.










