Ahmad Nausrau, Ulama Muda dari Kaimana, Harapan Kebangkitan Indonesia dari Timur

  • Bagikan
Silaturahmi Wakil Gubernur Papua Barat Daya, Ahmad Nausrau (Kiri, baju kaos abu-abu), Iftar Ramadhan 2025 lalu

Oleh: Abdullah Sartono

Ahmad Nausrau bukan sekadar nama dalam jajaran pejabat publik di Papua Barat Daya. Ia adalah representasi ulama muda, pemimpin religius, sekaligus tokoh generasi baru dari Timur Indonesia yang menghadirkan wajah kepemimpinan berbasis iman, kebijaksanaan, dan kedekatan sosial. Dengan latar belakang keilmuan Islam yang kuat serta pengalaman organisasi yang panjang, Nausrau tampil sebagai figur yang mampu menjembatani nilai-nilai keagamaan dengan realitas kebijakan publik, kadang menginspirasi, kadang menggugah, namun selalu berpijak pada kepentingan umat dan masyarakat luas.

Lahir dan tumbuh di Kampung Kayu Putih, Kaimana, sekitar 43 tahun silam, Ahmad Nausrau menghabiskan masa kecilnya jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Lingkungan sederhana membentuk karakter disiplin, religius, dan solidaritas sosial yang kuat. Nilai-nilai tersebut tidak ia pelajari dari buku-buku tebal, melainkan dari keteladanan keluarga, guru ngaji, dan kultur saling membantu di kampung halaman.

Kesadaran bahwa hidup bukan semata pencapaian individual, melainkan amanah sosial, tumbuh sejak dini. Nilai inilah yang kelak mewarnai seluruh perjalanan hidup dan kepemimpinannya.

Ketertarikan pada dunia keilmuan Islam membawanya merantau jauh dari rumah. Ia mondok di Pasuruan, menempuh pendidikan di Madiun, melanjutkan studi di Ma’had Al-Birr Universitas Muhammadiyah Makassar, kemudian di Al-Aqidah Jakarta, hingga lintas benua ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Perjalanan intelektual ini memperluas pandangannya, Islam tidak hanya soal ritual, tetapi juga peradaban, ilmu pengetahuan, toleransi, dan tanggung jawab sosial. Di Mesir, ia berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai bangsa dan latar budaya. Dari sana ia menyimpulkan bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan sumber kebijaksanaan.
Pengalaman merantau membentuk sikap rendah hati. Ketika kembali ke Kaimana, ia membawa ilmu tanpa jarak sosial—siap mengabdi sebagai pendidik, dai, perintis lembaga dakwah, hingga dipercaya memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) di tingkat kabupaten, provinsi Papua Barat, dan kini sebagai Ketua Umum MUI Papua Barat Daya.

Salah satu momen penting dalam kiprah publik Ahmad Nausrau adalah pidatonya dalam bahasa Arab tanpa teks pada acara Halal Bihalal di Pondok Pesantren Hidayatullah, Kabupaten Sorong. Pidato tersebut viral di media sosial karena mencerminkan kedalaman ilmu sekaligus kehangatan seorang pemimpin yang dekat dengan umat.

Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa Papua Barat Daya adalah wilayah yang hidup dalam harmoni dan saling menghormati antarumat beragama. “Papua Barat Daya adalah tempat di mana semua agama diterima dengan baik, masyarakat hidup rukun, dan nilai toleransi dijaga,” ujarnya. (Sumber: Hidayatullah.com)

Pidato ini bukan sekadar ekspresi retorika, melainkan simbol bahwa pemimpin daerah dari Timur Indonesia mampu berbicara dalam bahasa global, tanpa tercerabut dari akar lokal.

Di tengah jabatan publik, Ahmad Nausrau tetap mempertahankan gaya hidup sederhana. Ia menjaga hubungan dengan guru, sahabat lama, dan masyarakat kecil. Mengunjungi guru-guru masa sekolah, mencium tangan orang tua dan pendidik, serta duduk bersama warga di kampung-kampung pesisir dan pulau terluar menjadi pemandangan yang kerap terjadi.
Ia lebih banyak mendengar daripada berbicara, menampung aspirasi terkait pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan pokok masyarakat. Prinsipnya sederhana namun tegas. “Pemimpin bukan yang duduk paling depan, melainkan yang paling siap berdiri ketika rakyat membutuhkan.”

Masuknya Ahmad Nausrau ke dunia politik bukanlah ambisi personal. Dorongan datang dari tokoh masyarakat, ulama, dan generasi muda yang menginginkan pemimpin beriman sekaligus memahami realitas kemanusiaan. Ketika dipercaya sebagai Wakil Gubernur Papua Barat Daya, ia menyadari bahwa jabatan adalah amanah, bukan kehormatan semata.
Dalam berbagai kesempatan, termasuk khutbah Idul Fitri di Sorong, ia menekankan bahwa spiritualitas harus berdampak sosial.
“Ramadan adalah kado istimewa dari Allah untuk memperbaiki hidup. Setelah Ramadan berlalu, kepedulian sosial harus semakin nyata,” ujarnya. (Sumber: Antara News)

Sebagai Wakil Gubernur, Nausrau dikenal komunikatif dan terbuka. Ia menekankan disiplin dan keteladanan ASN, mendorong peningkatan layanan haji dan umrah, serta mendukung penguatan SDM lokal melalui pendidikan vokasi dan pariwisata. Ia juga menaruh perhatian besar pada legislasi partisipatif, khususnya terkait RUU Masyarakat Adat di Papua, agar kebijakan lahir dari suara langsung komunitas adat. (Sumber: realistis.id)

Gaya kepemimpinan Ahmad Nausrau memadukan religiusitas mendalam dengan pendekatan rasional dan kontekstual. Ia tidak berhenti pada wacana moral, tetapi mendorong agar nilai-nilai tersebut hadir nyata dalam kebijakan dan pelayanan publik.
Kisah hidupnya dari kampung sederhana di Kaimana hingga ruang kebijakan pemerintahan menjadi pesan kuat bagi generasi muda Papua, bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang untuk bermimpi dan memimpin.

Ahmad Nausrau menunjukkan bahwa religiusitas tidak bertentangan dengan modernitas, dan kekuasaan seharusnya berjalan seiring kebijaksanaan. Harapan kebangkitan Indonesia dari Timur, khususnya Papua Barat Daya, bertumpu pada kepemimpinan yang amanah, merakyat, sederhana, dan kolaboratif.

Bersama Gubernur Elisa Kambu, ia diharapkan mampu membawa Papua Barat Daya tumbuh sebagai daerah yang maju, inklusif, dan berdaya saing. Doa dan harapan publik menyertai langkah pengabdiannya—sebuah ikhtiar sunyi untuk Indonesia yang lebih adil dan bermartabat.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *