MAKASSAR – Rangkaian program Jelajah Sampah Pemerintah Kota Makassar resmi menuntaskan perjalanan di 15 kecamatan. Kecamatan Kepulauan Sangkarrang menjadi titik terakhir sekaligus penutup rangkaian kegiatan yang mengajak masyarakat untuk mengurangi, memilah, dan mengelola sampah sejak dari sumber.
Dalam kegiatan di Sangkarrang, sebanyak 426,3 kilogram sampah berhasil dikumpulkan dan dipilah. Jumlah tersebut terdiri dari 1,25 kilogram sampah organik, 223,05 kilogram sampah anorganik, dan 202 kilogram sampah residu.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Helmy Budiman, mengatakan Sangkarrang memberikan gambaran bahwa setiap wilayah memiliki tantangan dan karakteristik berbeda dalam pengelolaan sampah.
“Menutup rangkaian Jelajah Sampah di 15 kecamatan, Sangkarrang mengingatkan kita bahwa setiap wilayah punya tantangan dan cara pengelolaan sampahnya sendiri,” ujar Helmy.
Menurutnya, karakteristik kawasan kepulauan membuat pengelolaan sampah dari sumber menjadi semakin penting. Sampah yang dihasilkan masyarakat perlu ditangani sedekat mungkin dengan tempat asalnya agar tidak menimbulkan persoalan lingkungan.
“Di kawasan kepulauan, pengelolaan dari sumber menjadi semakin penting agar sampah yang dihasilkan dapat ditangani sedekat mungkin dengan tempat asalnya,” katanya.
Salah satu tantangan di Sangkarrang adalah sampah dari kawasan kepulauan tidak dikirim ke TPA Tamangapa. Kondisi tersebut membuat pengelolaan secara mandiri di tingkat sumber menjadi kebutuhan penting.
Sampah organik diharapkan dapat diolah, sementara sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dimanfaatkan atau didaur ulang. Di sisi lain, sampah residu perlu ditekan sebanyak mungkin melalui pemilahan dan pengolahan sejak dari rumah.
Helmy menegaskan berakhirnya rangkaian Jelajah Sampah di Sangkarrang bukan berarti gerakan pengelolaan sampah ikut berakhir.
“Sangkarrang jadi titik terakhir, tapi bukan akhir cerita. Jelajah Sampah boleh sampai di penghujung rute, tapi kebiasaannya jangan ikut berhenti,” tegasnya.
Menurutnya, selama pelaksanaan Jelajah Sampah, masyarakat telah diajak melihat secara langsung persoalan sampah di berbagai wilayah Kota Makassar. Dari 15 kecamatan yang dijelajahi, setiap kawasan memiliki karakteristik dan tantangan persampahan yang berbeda.
Karena itu, hasil terpenting dari program tersebut bukan hanya jumlah sampah yang berhasil dikumpulkan, tetapi tumbuhnya kebiasaan baru di tengah masyarakat.
“Setelah seluruh kecamatan dijelajahi, kebiasaan mengurangi, memilah, dan mengelola sampah justru harus terus dilanjutkan,” jelas Helmy.
DLH Kota Makassar mengajak masyarakat untuk meneruskan gerakan tersebut dari rumah dan lingkungan masing-masing. Pemilahan sampah organik, anorganik, dan residu diharapkan menjadi kebiasaan sehari-hari.










