Bahan boleh sama. Tapi proses, rasa, dan cara menyuguhkan yang berbeda. Itulah yang ditawarkan kopi bisang. Selain rasanya tak kalah dengan kopi luwak, cara menyajikannya pun beda.
Biasanya minum kopi menggunakan cangkir atau gelas, saat meminum kopi bisang akan disuguhkan dengan batok kelapa.
Disebut kopi bisang karena, kopi ini dihasilkan dari gumoh (muntahan) bisang, binatang endemik Sulawesi Selatan. Bisang sejenis binatang pengerat, laiknya Luwak atau Musang (Paradoxurus Hermaphrodirus).
Tubuhnya sedikit lebih kecil dari luwak. Jika warna luwak didominasi warna hitam, maka warna cokelat buram menjadi ciri khas Bisang. Ekornya pun tak sepanjang Luwak. Kopi Bisang ini hanya bisa ditemukan di Kecamatan Latimojong, Luwu.
Menariknya, bisang hanya akan muntah jika pada sore hari setelah pagi harinya ia memakan kopi. Muntahannya pun di letakkan pada tempat-tempat tertentu saja. “Jika kopi luwak diproduksi dari kotoran binatang luwak, maka kopi bisang diperoleh dari muntahan Bisang.
Kopi yang di makan Bisang di Latimojong, awalnya tumbuh liar di sejumlah desa. Namun setelah mengetahui dan telah merasakan kopi bisang, pelan-pelan masyarakat mulai serius memperhatikan tanaman kopinya,” ujar Basir, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Luwu pada waktu itu wawancara tahun 2015.
Menurut Basir, tanaman kopi di Latimojong umumnya tumbuh di Desa Lambanan, Posi, Tibussang, Pajang, Ulusalu, Bone Posi. “Di situlah pusat tanaman kopi. Informasi kopi bisang ini awalnya kami peroleh dari informasi masyarakat sekitar, yang menceritakan bahwa kopinya sering dimakan binatang yang menyerupai kus-kus. Juga dibagian bawah tanaman kopi, banyak dijumpai kotoran binatang itu yang bercampur biji kopi. Masyarakat lalu iseng-iseng mengolah biji kopi tersebut hingga menjadi bubuk kopi. Ternyata setelah diseduh, rasanya sangat nikmat,” cerita Basir.
Untuk mempatenkan Kopi Bisang sebagai salah satu kekayaan Luwu. Pemerintah Kabupaten Luwu telah memiliki dua hak paten, dari Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) yaitu lisensi atas nama kopi Bisang dan KopiLatimojong. “Kita tidak mau kopi Bisang ini bernasib sama dengan kopi luwak. Semua bebas memproduksi atas nama kopi luwak.
Kopi Lokal Kualitas Internasional
Anda termasuk pencinta kopi atau sekadar penikmat saja? Bagaimana dengan sensasikopi khas Tana Toraja, Enrekang, dan Luwu? Ketiganya memang nikmat di seruput bukan? Inilah produk kopi khas Sulawesi Selatan dengan kualitas internasional.
Kopi asal Tana Toraja memang sudah lama jadi primadona dan telah menjadi merk dagang khas daerah ini. Terkenal di seluruh daerah bahkan ke tingkat internasional. Aroma kopi jenis Arabika sangat menggoda, dan memberikan sensasi tersendiri bagi penikmatnya.
Tidak heran jika, kopi tersebut di ekspor ke Jepang dan Amerika. Bahkan kopi ini, mengungguli Brazil dan Vietnam. Hal ini tentu tidak lepas dari rekor yang telah dipecahkan kopi Toraja sebagai kopi termahal yang pernah dijual tahun 2012 silam.
Tidak tanggung-tanggung Jepang, Taiwan dan Korea tidak ragu membeli walaupun masih dalam bentuk biji kopi hijau alias masih mentah.
Harganya US$ 45/kg, padahal saat itu harga kopi rata-rata hanya US$ 6-8/kg. Akibat harganya yang mahal, Toraja Sapan kini sejajar dengan kopi mahal lainnya seperti Kilimanjaro Coffee dan Columbia Supremo. Toraja Sapan masuk ke dalam jenis specialty coffee atau kopi spesial.
Untuk menikmati secangkir kopi mahal ini tidak perlu jauh-jauh ke Tana Toraja. Anda bisa mendapatkannya di beberapa warung kopi (warkop), cafe, hingga restoran berkelas lainnya. Antara lain di warkop phoenam, Dg sija’, warkop Bundu, dan restoran CCR.
Soal harga memang cukup terjangkau. Rata-rata dipatok Rp10 ribu untuk kopi plus susu dan Rp8.000 saja untuk kopi hitam tanpa susu.
Kendati demikian, harga ini menjadi dua kali lipat ketika Anda menikmatinya di restoran. Sebab hasil seduhan menggunakan mesin modern, ditambah suasana yang tidak Anda temukan di warkop. Harganya dibanderol Rp23 ribu per gelasnya. andi amriani










