MAKASSAR – Aksi Jelajah Sampah di Kecamatan Rappocini berhasil mengumpulkan dan memilah sebanyak 66,28 kilogram sampah. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mendorong masyarakat agar menjadikan pemilahan sampah sebagai kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar dilakukan saat kegiatan berlangsung.
Dari total sampah yang terkumpul, sebanyak 20,40 kilogram merupakan sampah organik, 25,92 kilogram sampah anorganik, dan 19,96 kilogram sampah residu.
Pemilahan tersebut dilakukan untuk memastikan setiap jenis sampah mendapatkan penanganan dan pengelolaan yang sesuai. Sampah organik dapat diolah, sampah anorganik yang masih bernilai dapat dimanfaatkan atau didaur ulang, sementara sampah residu diarahkan ke jalur pengelolaan akhir.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Helmy Budiman, mengatakan pemilahan sejak awal menjadi langkah penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif.
“Sampah yang dipilah lebih mudah dikelola. Tidak semua sampah berakhir sama. Ada yang bisa diolah, dimanfaatkan kembali, dan ada yang menjadi residu. Karena itu, pemilahan sejak awal menjadi langkah penting,” ujar Helmy.
Menurutnya, kegiatan Jelajah Sampah bukan hanya bertujuan membersihkan lingkungan, tetapi juga memberikan edukasi langsung kepada masyarakat mengenai pentingnya mengurangi dan memilah sampah dari sumber.
Helmy mengajak warga Kecamatan Rappocini bersama para Ketua RT dan RW untuk mempertahankan kebiasaan tersebut meskipun kegiatan Jelajah Sampah telah selesai.
“Setelah aksinya selesai, giliran kebiasaannya yang diteruskan. Mari ki’ mulai dari rumah, pilah sampah ta’, dan ajak lingkungan sekitar ikut bergerak,” pesannya.
DLH Kota Makassar berharap gerakan pemilahan sampah dapat tumbuh dari lingkup terkecil, mulai dari rumah tangga, kemudian berkembang di lingkungan RT/RW hingga menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Kebiasaan sederhana seperti memisahkan sampah organik, anorganik, dan residu dinilai dapat memberikan dampak besar apabila dilakukan secara konsisten oleh masyarakat.
Karena itu, DLH Makassar terus mendorong warga untuk menjadikan pemilahan sampah sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari. Sampah yang dihasilkan dari rumah masing-masing menjadi titik awal perubahan menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih baik.
