MAKASSAR–Wali Kota Munafri Arifuddin melarang keras sejumlah sekolah di Makassar, menggelar acara penamatan siswa secara berlebihan. Seperti menggelar wisuda di hotel-hotel atau menyewa gedung di luar sekolah.
Menurut Appi sapaan akrab Wali Kota Makassar, acara penamatan di hotel membutuhkan biaya yang sangat besar. Tidak semua orang tua memiliki kemampuan yang sama sehingga mereka akan terbebani.
Acara sederhana sebaiknya dilaksanakan di sekolah sebagai tanda berakhirnya masa pendidikan anak, menurut Appi itu sudah cukup. “Tidak semua orang tua bisa menghadiri acara penammatan anaknya dan tidak semua memiliki uang banyak untuk membayar biaya penamatan,”katanya di Makassar.
Dia berharap semua sekolah bisa mengikuti kebijakan yang telah dikeluarkan, pihaknya pun telah menginstruksikan Dinas Pendidikan Makassar, untuk mensosialisasikan kebijakan tersebut ke sekolah-sekolah.
Selain itu, dia juga mengimbau agar semua siswa dan siswi agar perpisahan cukup di sekolah saja tidak ada kegiatan tambahan seperti konvoi kendaraan yang bisa jadi menimbulkan masalah baru.
Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah ini, sebagai dukungan menciptakan lingkungan pendidikan lebih inklusif dan tidak memberatkan orang tua siswa.
Jika ada sekolah yang melanggar kebijakan yang dikeluarkan oleh wali kota maka pihak kepala sekolah harus mempertanggungjawabkan.
Dari data yang dihimpun timurindonesia, dari tahun ke tahun acara wisuda yang digelar di hotel mulai dari tingkat TK hingga SMA menuai banyak protes dari orang tua siswa, apalagi bagi mereka yang memiliki lebih dari satu anak yang akan tamat.
Biaya perpisahan mencapai angka jutaan rupiah, belum lagi orang tua dibebankan untuk menyewa pakaian yang akan digunakan wisuda. Bukan hanya itu, di lokasi acara wisuda biasanya banyak yang menawarkan untuk mengabadikan momen perpisahan, biayanya pun sangat besar.










