LEBANON Angin berembus pelan, membawa sunyi yang terasa lebih berat dari biasanya. Di tengah barisan pasukan berseragam dari berbagai negara, tiga peti jenazah berbalut Merah Putih terbaring tenang dan diam, namun penuh makna.
Upacara militer yang digelar oleh UNIFIL berlangsung dalam keheningan yang tidak biasa. Tidak ada riuh, tidak ada gemuruh. Hanya langkah-langkah teratur, suara komando yang tertahan, dan tatapan-tatapan yang menyimpan duka. Ketika penghormatan terakhir diberikan, dunia seperti berhenti sejenak.
Upacara penghormatan untuk tiga prajurit TNI dilaksanakan pada Kamis (02/04/2026), di Bandara Internasional Rafik Harir, Lebanon.
Para prajurit dari berbagai penjuru berdiri tegap. Mereka mungkin berbeda bahasa, berbeda bendera, berbeda tanah kelahiran. Namun pagi itu, mereka dipersatukan oleh satu hal kehilangan yang sama.
Setelah pelaksanaan upacara pelepasan, jenazah tiga pahlawan penjaga perdamaian, akan di terbangkan ke Indonesia, di rumah keluarga masing-masing. Orang tua, anak dan istri prajurit yang gugur dalam menjalankan tugas, sudah menunggu bahkan sudah menggelar taziah.
Diketahui bahwa ketiga prajurit penjaga perdamaian, gugur dalam dua peristiwa yakni pada Ahad 29 Maret 2026, saat Israel menyerang posko UNiFIl Praka Farizal Romadhon sedang melaksanakan Salat Isya.
Sementara dua rekan lainnya, Kapten Zulmi Aditya Iskandar, dan Sersan Ichwan gugur saat ikut dalam konvoi mengantar logistik dan jenazah rekannya. Saat itu kendaraan yang digunakannya terkena ledakan pada Senin 30 Maret 2026.










