SRI Sebut PSI Berpeluang Tembus Senayan 2029, Tujuh Variabel Jadi Sorotan

  • Bagikan

MAKASSAR – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai memiliki sejumlah modal politik yang dapat membuka peluang untuk menembus parlemen pada Pemilu 2029.

Analisis tersebut disampaikan Lembaga Survei dan Konsultan Politik Suara Rakyat Indonesia (SRI). SRI menilai sejumlah variabel yang sedang dibangun PSI, mulai dari penguatan struktur partai hingga perubahan basis pemilih, menjadi faktor yang perlu diperhitungkan menuju Pemilu 2029.

Ketua SRI, Mahfud HM, mengatakan analisis lembaganya melihat adanya sejumlah indikator yang telah dipenuhi PSI dalam mempersiapkan diri menghadapi kontestasi politik berikutnya.

“Dari analisis kami, variabel dan indikator yang dimiliki serta dikerjakan PSI sudah mengarah pada terbukanya jalan untuk menembus Senayan pada Pemilu 2029. Namun, seluruh indikator tersebut tetap harus dibuktikan melalui kerja politik dan perolehan suara di lapangan,” ujar Mahfud HM.

Menurut SRI, sedikitnya terdapat tujuh variabel utama yang menjadi perhatian.

Pertama, penataan dan penguatan struktur PSI hingga tingkat akar rumput. Penguatan organisasi dinilai menjadi modal penting untuk memperluas jangkauan partai, terutama di wilayah perdesaan.

Kedua, soliditas kader. SRI menilai konsistensi gerak kader di tingkat daerah akan menjadi salah satu faktor penting dalam mengubah popularitas partai menjadi dukungan elektoral.

Ketiga, efek Joko Widodo atau Jokowi Effect. SRI melihat posisi Jokowi sebagai tokoh sentral yang dikaitkan dengan PSI berpotensi memberikan efek ikut serta atau coattail effect terhadap elektoral partai.

Keempat, SRI menyoroti potensi migrasi elite politik dari partai lain ke PSI. Bergabungnya tokoh politik nasional maupun daerah dinilai dapat membawa jaringan dan basis pendukung baru.

Kelima, rebranding PSI. Partai yang selama ini identik dengan pemilih muda dan masyarakat perkotaan dinilai sedang berupaya memperluas segmentasi melalui isu ekonomi kerakyatan, petani, nelayan, pekerja ekonomi kreatif serta pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Keenam, kualitas dan rekrutmen calon anggota legislatif (caleg). SRI menilai keberadaan caleg yang memiliki basis massa riil, baik dari kalangan tokoh masyarakat, tokoh adat, pengusaha, pemuda maupun aktivis, dapat menjadi faktor penting dalam memperkuat suara PSI di masing-masing daerah pemilihan.

Ketujuh, kekuatan logistik dan kampanye berbasis data. Pemetaan basis suara berdasarkan hasil pemilu sebelumnya serta karakteristik pemilih dinilai dapat membantu PSI menentukan wilayah prioritas dan strategi kampanye.

Peneliti Senior SRI, Zubhan Ekafriansyah, yang turut mendampingi penyampaian analisis tersebut, mengatakan tantangan PSI bukan sekadar membangun popularitas, tetapi mengubah dukungan tersebut menjadi suara yang tersebar di berbagai daerah pemilihan.

“Kuncinya bukan hanya pada popularitas partai atau figur, tetapi bagaimana struktur, kader, caleg dan kerja sosial dapat berjalan secara serentak sampai ke bawah. Jika basis perkotaan dapat dipertahankan sekaligus diperluas ke masyarakat perdesaan, maka peta elektoral PSI dapat mengalami perubahan,” kata Zubhan.

PSI Masih Harus Membuktikan di Lapangan

Analisis SRI tersebut datang dengan tantangan yang tidak ringan. Pada Pemilu 2024, PSI memperoleh sekitar 4,26 juta suara atau 2,81 persen suara sah nasional, sehingga belum memenuhi ambang batas parlemen 4 persen yang berlaku saat itu.

Karena itu, target menuju Senayan pada 2029 membutuhkan peningkatan suara yang cukup besar dibandingkan hasil 2024.

Sementara itu, aturan ambang batas parlemen untuk Pemilu 2029 juga belum dapat dianggap final. Putusan Mahkamah Konstitusi terkait parliamentary threshold 4 persen meminta pembentuk undang-undang merumuskan kembali ketentuan tersebut sebelum Pemilu 2029.

Dengan demikian, pernyataan SRI mengenai PSI yang diproyeksikan menembus Senayan merupakan analisis dan penilaian lembaga survei, bukan hasil resmi ataupun kepastian perolehan kursi pada Pemilu 2029.

Bagi PSI, pekerjaan terbesar dalam tiga tahun ke depan adalah membuktikan apakah penguatan struktur, rebranding, migrasi elite, efek figur, rekrutmen caleg dan strategi berbasis data tersebut benar-benar mampu dikonversi menjadi suara pemilih.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *