Update KM Virgo Transport 8: Bangkai Kapal Bergeser 1,6 Mil, 129 Orang Masih Dicari

  • Bagikan
KM Virgo Transport 8

BANJARMASIN – Operasi pencarian korban KM Virgo Transport 8 yang terbalik dan tenggelam di perairan Masalembo, Laut Jawa, memasuki hari ketiga, Selasa (15/9/2026).

Perkembangan terbaru menunjukkan posisi bangkai kapal mengalami pergeseran sekitar 1,6 nautical mile atau mil laut ke arah barat dari titik awal kecelakaan.

Kapal juga berada dalam kondisi terbalik dan kini berada di dasar laut dengan kedalaman sekitar 30 meter. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan bagi tim SAR dalam melakukan pencarian korban di dalam badan kapal.

Kepala Basarnas Mohammad Syafii mengatakan pergeseran posisi kapal diketahui dari perubahan titik datum selama operasi SAR hari kedua. Pergeseran tersebut dipengaruhi arus di sekitar lokasi kejadian.

“Posisi datum atau titik letak dari kapal Virgo Transport 8 ini ada pergeseran. Dari yang kemarin saya sampaikan, saat ini sudah bergeser kira-kira 1,6 nautical mile (mil laut) ke arah barat dalam kondisi terbalik,” kata Syafii.

129 Orang Masih Dalam Pencarian

Berdasarkan pembaruan Basarnas hingga Senin (14/9) pukul 22.00 WITA, dari total 243 orang yang berada di KM Virgo Transport 8, sebanyak 114 korban telah ditemukan.

Rinciannya, 108 orang selamat dan enam orang meninggal dunia, sementara 129 orang lainnya masih dalam pencarian.

Sebagian korban telah dibawa menuju Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Proses identifikasi korban meninggal juga dilakukan oleh tim DVI Polri.

KM Virgo Transport 8 sebelumnya berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin. Kapal dilaporkan mengalami keadaan darurat dan hilang kontak di sekitar perairan Masalembo pada Minggu (13/9/2026).

Bangkai Kapal Berada di Kedalaman 30 Meter

Basarnas mengungkap bangkai KM Virgo Transport 8 berada pada kedalaman sekitar 30 meter.

Meski kedalaman tersebut relatif tidak terlalu ekstrem untuk operasi bawah laut, kondisi kapal yang terbalik dan masih berpotensi bergerak membuat proses penyelaman harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

Syafii mengatakan posisi kapal yang tengkurap menimbulkan risiko bagi penyelam. Karena itu, operasi masuk ke badan kapal tidak bisa dilakukan secara sembarangan.

“Kalau misalkan posisinya tengkurap pada saat tim penyelam itu masuk, tentunya memiliki risiko tersendiri dan operasi hanya bisa dilaksanakan apabila memenuhi ketentuan dan safety first, artinya jaminan aman,” ujar Syafii.

Basarnas juga mempertimbangkan keberadaan sekat atau ruang kosong di dalam kapal yang dapat membuat badan kapal terus bergeser mengikuti arus.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena perubahan tekanan di ruang tertutup dapat membahayakan penyelam.

“Kalau kita sampai memaksakan untuk masuk, apabila kita membuka misalkan salah satu sekat dari ruang kosong ini, di situ ada perubahan tekanan yang luar biasa, tentunya ini akan sangat membahayakan,” kata Syafii.

KRI Canopus Dikerahkan untuk Pencarian Bawah Laut

Untuk memperkuat pencarian, KRI Canopus dikerahkan menuju lokasi kecelakaan.

Kapal tersebut memiliki teknologi yang dapat membantu pencarian bawah laut, termasuk drone bawah air, multibeam echo sounder dan remotely operated vehicle (ROV).

Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu tim memetakan kondisi bangkai kapal dan area di sekitarnya tanpa harus langsung mengandalkan penyelam dalam kondisi cuaca yang belum sepenuhnya mendukung.

Basarnas sebelumnya menunda pencarian bawah laut karena kondisi cuaca dan gelombang belum memungkinkan penyelam bekerja secara aman. Tim Kopaska TNI AL, penyelam khusus TNI AL dan personel Basarnas telah disiapkan untuk operasi tersebut.

Basarnas Prioritaskan Keselamatan Penyelamat

Selain mencari korban yang masih hilang, Basarnas harus memastikan operasi tidak menimbulkan korban baru.

Sebelumnya Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan pencarian akan terus dimaksimalkan hingga korban ditemukan, namun keselamatan personel tetap menjadi pertimbangan.

“Kami akan berusaha semaksimal mungkin, tetapi tentunya dengan memperhatikan kondisi-kondisi di lapangan. Jangan sampai kemudian operasi ini menimbulkan korban berulang,” tegas Dudy.

Dengan masih adanya 129 orang yang belum ditemukan, operasi SAR KM Virgo Transport 8 masih menjadi perhatian utama. Tim gabungan terus melakukan pencarian dari permukaan hingga bawah laut dengan menyesuaikan kondisi cuaca dan keamanan lokasi.

Basarnas memastikan strategi pencarian akan terus dikembangkan berdasarkan kondisi bangkai kapal dan perkembangan di lapangan.

  • Bagikan
Exit mobile version