MAKASSAR, 3 November 2025 — Tokoh adat pemuda Sulawesi Selatan, Ryan Latief La Kaseng, mengecam keras pernyataan komika Pandji Pragiwaksono yang diduga menghina adat dan budaya masyarakat Tanah Toraja. Ia menilai candaan Pandji dalam salah satu penampilannya telah melukai perasaan masyarakat Toraja, khususnya dalam hal prosesi adat pemakaman yang sangat sakral.
Ryan Latief La Kaseng, yang juga Ketua DPD LBH Lira Sulsel dan Ketua DPD Sulsel Laskar Hukum Indonesia, merupakan cucu dari Datu Luwu ke-24, La Kaseng To Sibengngareng Petta Matinroe ri Kaluku Bodoe, Raja atau Pajung Luwu. Ia juga keturunan dari Sangalla, salah satu tiga marga bangsawan tinggi di Tana Toraja bersama Makale dan Buntao.
Dalam keterangannya, Ryan menegaskan bahwa adat Toraja bukanlah bahan lelucon, karena mengandung nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun.
“Pandji harus meminta maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat Tanah Toraja. Tradisi pemakaman kami bukan komedi, tapi bagian dari penghormatan tertinggi terhadap leluhur,” ujar Ryan tegas di Makassar.
Lebih lanjut, Ryan menjelaskan bahwa prosesi pemakaman adat Toraja, dikenal dengan nama Ritual Rambu Solo, merupakan tradisi suci yang sarat makna spiritual dan sosial.
Upacara ini melibatkan serangkaian ritual, mulai dari penyembelihan kerbau, pembuatan patung Tau-Tau, hingga penguburan di gua batu yang melambangkan kehormatan bagi arwah leluhur.
Selain itu, pesta pemakaman adat juga menjadi simbol kebersamaan keluarga besar dan penghormatan terhadap kehidupan setelah kematian.
“Masyarakat Toraja percaya arwah leluhur tetap hidup dan menjaga keturunan mereka. Jadi, upacara pemakaman bukan sekadar peristiwa duka, tapi bagian dari hubungan spiritual antara manusia dan alam,” tambah Ryan.
Ryan Latief menilai, sebagai figur publik, Pandji seharusnya lebih sensitif terhadap nilai-nilai budaya lokal, terlebih Indonesia memiliki beragam adat istiadat yang harus dihormati. Ia berharap kasus ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak agar lebih menghargai keberagaman budaya nusantara.
