Puang Malang: Dari Kebun Sawit ke Cahaya Ilmu, Ikhtiar Sunyi Membangun Peradaban Qur’an di Kawasan Adat

  • Bagikan

Oleh Abdullah Sartono

Di sebuah kampung bernama Batunilamung, pada 31 Desember 1971, lahirlah seorang anak desa sederhana bernama Mudassir H. Shaleh, kelak lebih dikenal sebagai Puang Malang. Ia tumbuh dalam kultur masyarakat Kajang, sebuah wilayah yang lekat dengan nilai adat, kesahajaan, dan kearifan lokal. Tidak ada gemerlap kota, tidak pula kemewahan. Yang menemani masa kecilnya hanyalah tanah, hujan, kerja keras, serta doa-doa yang lirih namun tulus dari orang tua.

Sejak usia muda, Mudassir memilih berhijrah ke Kalimantan. Ia mengikuti saudaranya, Alimuddin, dan menekuni kehidupan sebagai petani kebun sawit. Di tanah rantau itulah ia ditempa oleh kerasnya hidup, belajar tentang jerih payah, disiplin, kesabaran, serta keyakinan bahwa rezeki selalu hadir bersama ikhtiar. Tak banyak yang menyangka, pengalaman hidup yang sunyi dan penuh ketekunan itu kelak menjadi modal penting dalam pengabdiannya di bidang pendidikan dan dakwah.

Titik balik itu datang ketika sebuah ajakan sederhana muncul untuk mendirikan Rumah Tahfiz Qur’an. Gagasan yang disampaikan oleh penulis ini mula-mula tampak kecil, namun sarat makna. Pada 2021, peletakan batu pertama dilakukan dan disaksikan langsung oleh Bupati Bulukumba terpilih saat itu. Sejak momen tersebut, visi yang awalnya terbatas pada rumah tahfiz berkembang menjadi cita-cita pendidikan Islam yang lebih luas dan berkelanjutan.

Di Malleleng, kawasan adat Ammatoa Kajang, berdirilah sebuah lembaga pendidikan Islam bernama Pondok Pesantren Nur Almasani, di bawah naungan Yayasan Masjid Nur Almasani. Secara kelembagaan, pesantren ini memiliki landasan hukum yang kuat, mulai dari SK Kemenkumham RI tertanggal 7 Juli 2022,
Akta Pendirian Notaris Lola Rosalina, SH, MKn Nomor 05 tertanggal 4 Juli 2022, terdaftar secara resmi di Kesbangpol Kabupaten Bulukumba.

Usianya memang masih muda—memasuki tahun keempat, namun jejak pengabdiannya mulai terasa nyata di tengah masyarakat.

Puang Malang dikenal sebagai sosok yang sederhana, rendah hati, dan ringan tangan membantu sesama. Ia bekerja dalam diam, tanpa sorotan berlebihan. Namun dari kesunyian itulah tumbuh banyak kebaikan. Rintangan demi rintangan menghadang, keterbatasan dana, lahan, bangunan, hingga tenaga pendidik. Meski demikian, pembangunan pesantren terus berjalan. Selalu ada jalan yang dibukakan, seakan menegaskan makna firman Allah SWT “Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolongmu.”

Pada Ahad, 28 Desember 2025, Pondok Pesantren Nur Almasani mencatat sejarah dengan menggelar wisuda perdana untuk Program Tahfiz dan pembelajaran Kitab Kuning metode kilat. Momentum ini menjadi bukti bahwa benih yang ditanam dengan kesabaran dan keikhlasan mulai menampakkan hasilnya.

Saat ini, Nur Almasani mengembangkan sejumlah program unggulan dengan menghadirkan para guru sesuai kompetensi bidangnya. Pesantren ini diarahkan untuk mencetak santri yang tidak hanya menghafal Al-Qur’an dan memahami kitab klasik, tetapi juga berakhlak mulia dan siap berdakwah di tengah masyarakat. Ia bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan ruang pembentukan karakter dan keikhlasan.

Puang Malang meyakini bahwa dakwah paling kuat adalah keteladanan. Ia mengajak keluarganya terlibat langsung dalam ikhtiar ini. Anak-anaknya sendiri ia titipkan di pesantren: belajar menghafal Al-Qur’an, memahami kitab kuning, serta menyiapkan diri sebagai generasi penerus dakwah. Di sanalah nilai-nilai itu diwariskan, bukan lewat kata-kata, melainkan melalui contoh nyata.

Di balik perjalanan panjang tersebut, tersimpan harapan yang sederhana namun sarat makna: lahirnya ulama-ulama muda dari kawasan adat Ammatoa Kajang melalui Pondok Pesantren Nur Almasani. Bagi Puang Malang, keberhasilan tidak diukur dari popularitas atau sorotan publik, melainkan dari seberapa banyak anak-anak kampung yang kembali dekat dengan Al-Qur’an, mencintai ilmu, dan menjaga martabat agama.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *