TAHERAN–Hamas mengumumkan kematian Haniyah pada Rabu (31//2024) dan menyampaikan belasungkawa kepada rakyat Palestina, dunia Arab, dan umat Islam. Haniyah gugur setelah menghadiri pelantikan presiden Iran yang baru, Masoud Pezeshkian.
Ketua Biro Politik Hamas ini, berasal dari keluarga pengungsi Palestina yang diusir dari desa Jura, dekat Ashkelon, pada tahun 1948. Dia meninggalkan Gaza pada 2019 dan menetap di Qatar. Haniyeh memiliki 13 anak, tiga di antaranya tewas dalam serangan udara Israel pada April 2024.
Seperti di lansir dari Indonesia inside.id, Haniyah beberapa kali ditahan oleh Israel. Penangkapan pertama terjadi pada 1987 selama 18 hari, diikuti dengan penahanan administratif selama enam bulan pada 1988, dan penangkapan ketiga selama tiga tahun pada 1989. Pada 1992, dia diusir ke Lebanon Selatan bersama para pemimpin Hamas lainnya selama setahun.
Haniyah dikenal sebagai orator ulung dan menjadi salah satu pemimpin muda Hamas selama Intifada Pertama. Dia menjadi kepala staf Sheikh Ahmed Yassin pada 1997 dan memimpin blok “Perubahan dan Reformasi” dalam pemilu legislatif 2006 yang dimenangkan Hamas.
Selama kepemimpinannya, Haniyah selamat dari beberapa upaya pembunuhan, termasuk serangan udara yang melukai tangannya pada 2003 dan serangan pada iring-iringannya pada 2006. Rumahnya di Gaza juga beberapa kali menjadi sasaran serangan selama perang.
Setelah pengambilalihan Gaza oleh Hamas pada 2007, Presiden Mahmoud Abbas memberhentikan Haniyeh sebagai Perdana Menteri. Sejak itu, Haniyeh memimpin Hamas di Gaza hingga 2017, sebelum digantikan oleh Yahya Sinwar.
Israel memiliki sejarah panjang dalam menargetkan para pemimpin Hamas. Pada 2004, pendiri Hamas, Sheikh Ahmed Yassin, dan penggantinya, Abdul Aziz al-Rantisi, juga syahid dalam serangan Israel. Setelah kematian mereka, Haniyah mengambil alih kepemimpinan Hamas di Gaza.










