MAKASSAR—Saleh Aljafarawi, seorang jurnalis Palestina yang selama ini, terkenal dengan keberaniannya melaporkan berbagai peristiwa yang terjadi di Gaza, tewas ditembak tentara Israel saat sedang meliput peristiwa di lapangan, Ahad (12/10/2025).
Selama ini, Saleh aktif menyebarkan berita tentang Palestina di akun instagramnya meskipun media sosial miliknya berkali-kali diblokir. Namun, dia tetap dengan penuh semangat dan keberanian membagikan video, foto-foto dan berita tentang kehancuran warga Gaza selama perang.
Tewasnya Saleh, sungguh menggemparkan aktivis kemanusiaan dan mengejutkan seluruh jurnalis disejumlah negara. Tewasnya lelaki berusia 28 tahun ini, dibunuh setelah disepakatinya genjatan senjata tidak hanya melukai hati keluarganya, tetapi seluruh teman-teman se profesinya.
Tewasnya lelaki kelahiran 22 november 2007 ini, meninggalkan jejak yang tak terlupakan dalam dunia jurnalisme Palestina. Kematian tragisnya menambah daftar panjang korban jiwa dari kalangan jurnalis yang berjuang di medan perang. Keberanian dan komitmennya dalam meliput kebenaran tetap menjadi inspirasi bagi banyak generasi jurnalis yang akan datang.
Sejumlah media memberitakan kematian Saleh dengan versi yang berbeda, ada yang menyebut dia diculik lalu dibunuh, dan ada juga media lokal yang mengabarkan dia tewas ditembak saat sedang menjalankan tugas meliput perang antara Israel dan Hamas, d daerah Sabra, Palestina Ahad (12/10/2025).
Lelaki yang juga merupaka influenser terkenal di Palestina ini, saat ditemukan sudah dalam kondisi tidak bernafas ini, mengenakan pakaian anti peluru dan di bagian depannya bertuliskan Pers, tujuh peluruh bersarang di dadanya.
Saleh Al-Jafarawi menjadi saksi langsung dari kebijakan dan serangan yang menargetkan warga sipil, sebuah genosida yang berlangsung selama bertahun-tahun, di mana hak-hak dasar warga Palestina dirampas. Sebagai seorang jurnalis yang tidak hanya menulis, tapi juga merasakan kesedihan dan penderitaan langsung dari rakyat Gaza, Saleh tidak pernah mundur.
Ia terus melaporkan dengan detail tentang pembunuhan massal, penghancuran rumah, dan penderitaan yang tak terperi yang dihadapi oleh rakyat Palestina, meskipun itu berarti ia harus berisiko kehilangan nyawanya.
Ia adalah seorang jurnalis yang tahu bahwa tugasnya lebih dari sekadar melaporkan berita. Bagi Saleh, jurnalisme adalah cara untuk membongkar ketidakadilan, untuk memperlihatkan kepada dunia apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok pengepungan Gaza. Tujuh peluru di tubuhnya menjadi tanda bahwa suara kebenaran itu sendiri menjadi ancaman.
