Saat langit Gaza terus dihujani peluru dan nyawa tak berdosa kembali berjatuhan, Hamas akhirnya membuka pintu dialog. Mereka menyatakan siap membahas proposal gencatan senjata terbaru yang digagas Amerika Serikat.
Pernyataan resmi Hamas disampaikan sebelum Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu bertemu dengan Presiden Amerika Donald Trump.
Dilansir dari uzma media, Hamas akan melakukan konsultasi internal dengan faksi dan pasukan Palestina untuk menghentikan agresi terhadap rakyat dan katanya telah memberikan tanggapan yang sesuai, Jumat ( 04/07/2025).
Kelompok Jihad Islam, sekutu dekat Hamas, turut menyatakan dukungannya terhadap upaya perundingan. Namun mereka menegaskan bahwa setiap langkah menuju gencatan senjata harus disertai jaminan tegas bahwa Israel tidak akan melanjutkan agresinya setelah para sandera dibebaskan.
Hamas sebelumnya menegaskan bahwa mereka hanya akan menyetujui kesepakatan jika terdapat jaminan kuat bahwa gencatan senjata ini akan menjadi langkah menuju penghentian total perang, yang hingga kini telah berlangsung hampir 21 bulan tanpa jeda.
Data terbaru dari otoritas kesehatan Gaza mencatat bahwa sejak dimulainya serangan Israel pada Oktober 2023, lebih dari 57.000 warga Palestina telah kehilangan nyawa.
Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak. Sebagian besar penduduk Gaza kini hidup tanpa tempat tinggal, sementara ancaman kelaparan massal semakin nyata di tengah blokade yang membatasi akses pangan, obat-obatan, dan bantuan kemanusiaan.
Rencana gencatan senjata yang tengah dibahas diyakini mencakup pembebasan bertahap terhadap 10 sandera Israel yang masih hidup, serta penyerahan jenazah 18 sandera lainnya oleh Hamas. Sebagai gantinya, Israel akan membebaskan sejumlah tahanan Palestina yang kini mendekam di penjara-penjara mereka.
Saat ini, diperkirakan masih ada sekitar 50 sandera yang ditahan di Gaza, dengan sedikitnya 20 orang di antaranya diyakini masih hidup.










