MAKASSAR – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid As Sa’id, Jalan Lombok, Kota Makassar, menjadi momentum untuk menguatkan persatuan dan meneguhkan semangat kebangsaan.
Kegiatan yang berlangsung pada 6 September 2026, menjelang Salat Zuhur, tersebut diikuti sekitar 500 jamaah. Peringatan Maulid Nabi itu mengangkat pesan tentang pentingnya meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Lokasi Masjid As Sa’id yang berada di kawasan Pecinan Makassar juga dinilai menjadi gambaran nyata kehidupan masyarakat yang hidup berdampingan dalam keberagaman.
Pesan utama yang disampaikan dalam peringatan tersebut adalah bahwa Islam membawa nilai rahmatan lil alamin, dengan mengedepankan kemanusiaan, kebaikan, persatuan, serta sikap saling menghormati.
Hikmah Maulid disampaikan dua ulama, yakni Al Ustadz Habib Aqil bin Abdul Qadir Baraqbah, Pembina Madrasah An Nabawiyah, dan Al Ustadz Husein bin Salim Bachmid, Pimpinan Pondok Pesantren Daar Alkhairat, Palu, Sulawesi Tengah.
Keduanya menyampaikan pesan tentang pentingnya menghadirkan kembali semangat dan akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Sifat Rasulullah berupa shiddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), adil, serta semangat menjaga persatuan menjadi nilai yang ditekankan dalam hikmah Maulid tersebut.
Para penceramah juga mengingatkan bahwa membalas kejahatan dengan kebaikan memang mudah diucapkan, tetapi tidak selalu mudah diwujudkan. Diperlukan keimanan dan keteladanan kepada Rasulullah SAW agar nilai tersebut dapat benar-benar diterapkan dalam kehidupan.
Doa untuk Indonesia
Di penghujung acara, doa dipanjatkan oleh Habieb Faisal Dzein Al Habsyie, Pendiri sekaligus Dewan Syuro Majelis Sholawat Al Musthofa Kota Palopo.
Dalam doanya, ia memohon agar kecintaan umat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW semakin kuat.
“Ya Rabb, pangkas jarak yang jauh hati dan dekatkan dengan hati Muhammad. Jangan ada tirai yang menghalangi kecintaan kami kepada Muhammad dan kepada-Mu, ya Allah,” demikian salah satu doa yang dipanjatkan.
Ia juga memohon agar cahaya Rasulullah SAW senantiasa hadir dalam kehidupan keluarga dan umat Islam.
Doa tersebut kemudian diarahkan pada harapan terhadap masa depan Indonesia.
“Ya Allah, ya Rabb, jadikan NKRI negeri Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Jadikan negeri ini selaras dengan kebaikan alam dan kebaikan perilakunya,” lanjutnya.
Harapan lainnya adalah agar Indonesia menjadi negeri yang subur dan makmur, dengan masyarakat yang tidak melupakan rasa syukur kepada Allah SWT.
Dihadiri Sejumlah Tokoh
Peringatan Maulid Nabi di Masjid As Sa’id tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh organisasi.
Di antaranya Pendiri dan Deklarator FPI Sulsel Habieb Ir. Muhsin Al Habsyie, tokoh masyarakat Haji Bur yang dikenal sebagai penggiat properti sekaligus Ketua Majelis Dzikir, serta Habieb Alwi, Imam Besar Masjid As Sa’id.
Turut hadir pula M.A. Rachman, mantan Komisaris PDAM Kota Makassar, yang disebut pernah menjadi juru bicara FPI dan aktivis UMI 98, serta Ketua FPI Sulsel Habieb Muhammad.
Sekitar 500 jamaah mengikuti rangkaian Maulid dengan khidmat dan antusias. Peringatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi pengingat untuk menerapkan akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan keluarga, masyarakat, dan kehidupan berbangsa.
Semangat tersebut dirangkum dalam harapan agar Indonesia terus menjaga persatuan dan mampu berlayar menghadapi berbagai tantangan zaman menuju bangsa yang aman, adil, makmur, dan diberkahi.










