MAKASSAR – Membakar sampah mungkin terlihat sebagai cara cepat untuk mengurangi tumpukan sampah di rumah atau lingkungan sekitar. Namun, kebiasaan tersebut justru dapat menimbulkan persoalan baru, mulai dari pencemaran udara hingga risiko kebakaran.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Helmi Budiman, mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan pembakaran sebagai cara untuk menangani sampah.
Menurut Helmi, persoalan sampah tidak bisa diselesaikan dengan kebiasaan lama yang justru berpotensi membahayakan lingkungan.
“Buang sampah sembarangan membuat lingkungan tercemar, membakar sampah bisa memicu polusi dan kebakaran, sementara penggunaan wadah sekali pakai terus menambah timbunan sampah,” kata Helmi.
Ia menjelaskan, membakar sampah dapat menghasilkan asap yang mencemari udara. Selain mengganggu kualitas udara di sekitar permukiman, pembakaran sampah juga dapat memicu kebakaran apabila api tidak terkendali.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk mengelola sampah dengan cara yang lebih baik, dimulai dari rumah masing-masing.
Helmi mengajak masyarakat membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah berdasarkan jenisnya, serta mengolah sampah yang masih memiliki nilai guna.
“Buang pada tempatnya, pilah sampah ta’, olah sampah ta’, jangan ki’ bakar sampah, dan biasakan ki’ bawa wadah guna ulang,” ajaknya.
Selain pembakaran sampah, DLH Makassar juga mengingatkan dampak kebiasaan membuang sampah sembarangan. Sampah yang dibuang tidak pada tempatnya dapat mencemari lingkungan, merusak ekosistem, mengotori saluran air, hingga berpotensi memicu banjir.
Persoalan lainnya adalah penggunaan wadah dan plastik sekali pakai yang terus menambah volume timbunan sampah di perkotaan.
Karena itu, perubahan kebiasaan masyarakat menjadi salah satu kunci dalam mengurangi persoalan sampah.
Helmi mengajak warga untuk mulai menerapkan kebiasaan sederhana, seperti membawa wadah guna ulang, memilah sampah dari sumber, tidak membuang sampah sembarangan, serta yang paling penting tidak membakar sampah.
“Terlihat sepele, tapi dampaknya bisa ke mana-mana,” ujarnya.
DLH Makassar berharap kesadaran tersebut dapat dimulai dari lingkungan terkecil, sehingga kebiasaan baik dalam mengelola sampah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
