MAKASSAR, 10 November 2025 – Peringatan Hari Pahlawan Nasional tahun ini kembali menjadi momentum refleksi bagi bangsa Indonesia untuk menilai ulang makna sejati dari sejarah dan kepahlawanan. Melalui tulisan berjudul “Objektivitas Sejarah dan Kepahlawanan”, tokoh masyarakat dan aktivis , Dahsyat mengajak publik untuk memahami bahwa sejarah dan gelar pahlawan seharusnya ditulis serta diberikan secara objektif dan berlandaskan nilai kebenaran.
Dalam pandangannya, sejarah menurut ilmu pengetahuan merupakan rekaman peristiwa masa lalu yang disusun secara ilmiah dan sistematis, dengan fokus pada aktivitas manusia sebagai makhluk sosial agar dapat memberi pelajaran bagi masa kini dan masa depan.
Sementara pahlawan, secara umum didefinisikan sebagai sosok yang gagah berani, rela berkorban untuk membela kebenaran, serta berbuat dengan ikhlas demi kepentingan orang banyak, bangsa, dan negara.
Dahsyat menilai, penulisan sejarah sering kali tidak lepas dari kepentingan ideologi, politik, dan kekuasaan. “Sejarah sering dijadikan alat untuk membangun identitas nasional sesuai agenda politik tertentu,” ujarnya. Karena itu, menurutnya, penulisan sejarah yang jujur, lengkap, dan objektif sangat penting agar masyarakat dapat belajar dari kesalahan masa lalu dan membangun peradaban yang lebih baik.
“Sejarah seharusnya memberi ruang bagi semua suara, bukan untuk menghapus masa lalu, tetapi untuk melengkapi narasi yang ada,” tulisnya.
Terkait gelar kepahlawanan, Dahsyat menegaskan bahwa penentuannya harus bersumber pada sejarah yang utuh dan memenuhi aturan ketat berdasarkan nilai kebenaran, objektivitas, transparansi, serta kemanfaatan nyata bagi masyarakat.
Dalam momentum Hari Pahlawan 10 November 2025 ini, Presiden Prabowo Subianto atas nama negara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 40 tokoh yang dinilai berjasa bagi bangsa. Meski keputusan ini menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat, Dahsyat mengajak publik untuk menghormati keputusan negara.
“Pahlawan itu bukan nabi yang hidup tanpa cacat dan dosa. Pahlawan tidak harus disukai semua orang, tetapi mereka yang telah berbuat baik dan berjasa bagi bangsa dan negara,” tegasnya.
Ia menutup refleksi Hari Pahlawan tahun ini dengan pesan klasik namun sarat makna:
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan jasa para pahlawannya.”tutup Dahsyat










