Oleh: Abdullah Sartono
Dalam lanskap dakwah Indonesia yang terus bergerak dinamis, kehadiran Wahdah Islamiyah menjadi fenomena yang patut dicermati secara serius. Organisasi ini tidak tumbuh melalui gebrakan sensasional, melainkan berkembang secara perlahan, berakar kuat, dan menyebar lewat kerja-kerja sunyi yang konsisten. Dari lorong-lorong kampus, masjid, hingga pelosok desa, jejak dakwahnya kian nyata terutama di kawasan Indonesia Timur seperti Makassar dan sekitarnya.
Hari ini, kader-kader Wahdah tidak lagi sekadar menjadi penggerak majelis taklim atau pengisi mimbar-mimbar kecil. Mereka telah bertransformasi menjadi agen perubahan di berbagai sektor kehidupan—pendidikan, ekonomi, sosial, hingga pelayanan umat. Lembaga pendidikan yang dibangun, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, serta geliat usaha kader berbasis nilai, menjadi bukti bahwa dakwah tidak berhenti pada retorika, tetapi menjelma menjadi aksi nyata yang dirasakan luas oleh masyarakat.
Salah satu kekuatan utama Wahdah terletak pada karakter dakwahnya yang santun dan merangkul. Hal ini tercermin dari sosok sentral seperti Zaitun Rasmin, yang selain memimpin Wahdah juga aktif di Majelis Ulama Indonesia. Ketokohan beliau merepresentasikan wajah Wahdah yang teduh—tegas dalam prinsip, namun lembut dalam pendekatan. Tidak mengherankan jika kader Wahdah semakin diterima oleh berbagai kalangan, baik tokoh masyarakat maupun umat secara umum.
Namun, perjalanan dakwah tentu tidak selalu mulus. Polemik yang sempat muncul terkait pernyataan Ustaz Zaitun mengenai isu global menunjukkan bahwa Wahdah juga menghadapi dinamika eksternal. Menariknya, respons organisasi melalui klarifikasi dan sikap kader senior justru mencerminkan kedewasaan internal. Ini menegaskan bahwa organisasi besar tidak diukur dari minimnya ujian, tetapi dari cara menyikapinya.
Momentum penting kembali tercatat melalui penyelenggaraan Halal Bihalal 1447 H dan Tabligh Akbar Nasional di Bulukumba. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ajang konsolidasi akbar yang mempertemukan kader dan simpatisan dari berbagai daerah.
Apresiasi dari pemerintah daerah menjadi sinyal kuat bahwa Wahdah tidak hanya diterima di kalangan umat, tetapi juga diakui oleh pemangku kebijakan. Sinergi ini penting dalam membangun harmoni antara dakwah dan pembangunan daerah.
Yang menarik, semangat kebersamaan tidak hanya tampak di panggung utama. Di sepanjang jalur menuju lokasi acara, kisah ketulusan justru tumbuh dari bawah. Inisiatif seorang kader di Bantaeng yang membuka warung makan gratis bagi peserta menjadi gambaran nyata ruh dakwah Wahdah memberi tanpa pamrih, melayani tanpa banyak bicara.
Dukungan dari kader pengusaha dan sponsor juga menunjukkan bahwa jaringan Wahdah tidak hanya kuat secara ideologis, tetapi mulai mandiri secara ekonomi. Kombinasi ini menjadi modal penting dalam membangun gerakan dakwah yang berkelanjutan.
Jika dianalogikan, Wahdah hari ini ibarat “gadis jelita” yang mulai menarik perhatian dalam panggung peradaban. Ia hadir dengan pesona nilai, kesederhanaan sikap, dan kekuatan jaringan. Sejumlah kadernya bahkan telah berkiprah di pemerintahan, mengisi ruang-ruang strategis, dan menjadi inspirasi bagi umat.
Meski demikian, masih ada pekerjaan rumah yang tidak ringan. Sebagai organisasi nasional, Wahdah belum sepenuhnya optimal memainkan peran di ranah politik praktis. Padahal, kebijakan publik merupakan salah satu kunci perubahan besar dalam kehidupan umat. Masih banyak kader yang tampak “malu-malu” memasuki wilayah ini, meski memiliki kapasitas dan integritas.
Berbeda dengan sebagian kelompok yang terjebak dalam perdebatan panjang soal ikhtilaf fikih, Wahdah justru memilih jalur dakwah produktif. Mereka lebih fokus membangun daripada memperdebatkan, lebih menekankan solusi daripada memperbesar perbedaan. Inilah kekuatan sekaligus keunikan Wahdah yang layak dipertahankan.
Meski demikian, keterlibatan dalam politik tetap tidak bisa dihindari sepenuhnya. Kehadiran tokoh seperti Tamsil Linrung dalam agenda-agenda Wahdah menjadi sinyal bahwa jembatan antara dakwah dan politik mulai terbangun, meski masih perlu diperkuat.
Pada akhirnya, Halal Bihalal dan Tabligh Akbar Syawal 1447 H ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan momentum refleksi dan peneguhan arah perjuangan. Wahdah Islamiyah kini berada di persimpangan penting: mempertahankan ritme dakwah yang sudah baik, atau melangkah lebih jauh mengambil peran strategis dalam skala nasional bahkan global.
Umat menanti bukan hanya dakwah yang menenangkan, tetapi juga kepemimpinan yang mampu menentukan arah.
Selamat dan sukses atas terselenggaranya Tabligh Akbar dan Halal Bihalal Syawal 1447 H.










