Oleh : Andi Amriani
Potensi komoditi lada non pestisida yang dikembangkan di kabupaten Luwu Timur (Lutim) terus dilirik, tidak saja dalam negeri, namun sudah merambah negara-negara Eropa.
Kondisi itu membuat sejumlah petani lada tetap menjaga, merawat tanamannya hingga musim panen tiba. Mereka bahkan rutin mengikuti pelatihan yang diadakan di balai pertemuan.
Para petani bahkan terlihat bersemangat mencari informasi atau tips menjaga produksi lada, agar mampu bersaing dengan daerah lain.
Bukan hanya itu, ketika petani mengetahui bahwa lada di negara Eropa khususnya di Amerika Utara harganya naik 15%-45%, semagat para petani untuk mengembangkan lada semakin besar.
Berbagai upaya dan kerja keras pun dilakukannya untuk memperkenalkan komoditi andalannya ini.
Tidak ketinggalan sejumlah eksportir juga membantunya dalam hal pemasaran. Eksportir pulalah yang memperkenalkan branding Sorowako Pepper ke pasaran eropa.
Seperti yang dilakukan Sainab Husain dari PT Pelangi Cahaya Mustika Divisi Agro Syariah, dengan melihat potensi bisnis lada non pestisida sangat besar dan mahal, ia pun melakukan screening kepada sejumlah petani dengan menerapkan pola pertanian ramah lingkungan. Sehingga lada non pestisida Lutim berkembang pesat.
“Jadi, lada yang non pestisida kualitasnya baik sehingga bisa diterima pasar Eropa bahkan permintaan semakin besar,” katanya.
Alasannya, saat ini konsumsi lada meningkat di pasar tradisional benua Eropa, yang berarti menjadi pasar empuk bagi petani lada di Lutim yang berkomitmen mengembangkan pola pertanian ramah lingkungan.
Dengan produk bebas pestisida diharapkan komoditas luwu timur ini bisa bersaing di pasar dunia. Tentunya sangat penting
menjaga kualitas produk lada Sorowako Pepper.
Selain itu, menjaga kualitas produk juga merupakan hal yang wajib. Sehingga semua sampel yang masuk harus melalui uji laboratorium, dengan menganalisis secara ketat mulai dari zat dan sifat kimiawai dari lada.
Perwakilan The Institute Arotop Food & Environment Jerman, Iris Cordero mengakui bahwa lada Sorowako Pepper memiliki kualitas yang baik, tinggal menjaga agar residu racun akibat pola budidaya menggunakan pestisida bisa dinihilkan.
Kepala Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Kementan, Dr Wiratno menjelaskan, pestisida merupakan sarana untuk membunuh hama-hama tanaman, dan dengan cepat dapat menurunkan populasi hama hingga meluasnya serangan dapat dicegah, dan kehilangan hasil panen dapat dikurangi.
“Benefit bagi produksi pertanian tanaman tersebut bukan tidak menimbulkan dampak, pestisida sintetik yang paling banyak menyebabkan kerusakan lingkungan dan mengancam kesehatan manus.










