Penulis
Rizal Syarifuddin
Dosen Fakultas Teknik Universitas Islam Makassar.
Bencana alam yang kembali melanda negeri ini terasa seperti luka yang terus dibuka ulang. Sumatera kembali dikejutkan oleh banjir bandang yang menerjang pemukiman, meluluhlantakkan rumah-rumah, dan menyisakan kesedihan yang tak mudah dipulihkan. Namun di balik gelombang air yang membawa lumpur dan kayu, sesungguhnya ada suara lirih dari alam yang telah terlalu lama kita acuhkan. Kita sering menyebut banjir bandang sebagai musibah, seakan ia datang tanpa sebab, tanpa pertanda. Padahal, banyak dari tragedi ini adalah akibat langsung dari kesalahan kita sendiri. Hutan-hutan yang dulu berdiri megah di perbukitan Sumatera kini kian gundul, ditebang habis, diratakan untuk perkebunan monokultur dan pembukaan lahan lainnya. Pepohonan yang menjadi benteng terakhir penahan air lenyap, meninggalkan tanah telanjang yang tak lagi mampu mengikat air sebagaimana mestinya.
Lebih menyedihkan lagi, luka itu diperparah oleh aktivitas tambang yang merusak kawasan konservasi alam. Lubang-lubang tambang dibiarkan menganga seperti luka di kulit bumi, mencemari sungai, merusak habitat, dan mengubah bentang alam yang seharusnya dilindungi. Banyak kawasan yang statusnya jelas sebagai hutan lindung atau daerah konservasi tetap dijamah alat berat dengan alasan ekonomi. Faktanya, pemanfaatan lahan yang serampangan ini bukan hanya merusak keanekaragaman hayati, tetapi juga mempercepat terjadinya bencana ekologis. Ketika bukit-bukit dikeruk dan tanah digali tanpa kendali, air hujan tidak lagi punya tempat untuk meresap. Ia turun, membawa serta lumpur dan material tambang, menuruni lereng, dan akhirnya meledak menjadi banjir bandang di pemukiman yang tak siap menanggungnya.
Tata kelola lingkungan kita sedang menghadapi krisis serius. Kebijakan yang seharusnya melindungi hutan dan kawasan konservasi sering kalah oleh kepentingan jangka pendek. Pengawasan yang lemah, birokrasi yang tertatih, dan penegakan hukum yang tidak konsisten membuat kerusakan alam terus berlanjut. Namun meski situasinya tampak gelap, harapan itu belum benar-benar hilang. Alam selalu memberi kesempatan kedua, selama manusia mau belajar dan berubah. Upaya reforestasi harus dilaksanakan secara besar-besaran dan sungguh-sungguh, bukan sekadar seremoni penanaman bibit untuk dokumentasi. Rehabilitasi kawasan konservasi yang rusak akibat tambang harus menjadi prioritas, dengan kebijakan yang tegas dan berbasis sains. Konsesi lahan yang merusak harus dicabut, dan para pelaku perusakan harus mendapatkan sanksi yang setimpal, bukan hanya teguran administratif.
Restorasi sungai dan daerah aliran sungai perlu digerakkan melalui pendekatan ekologis yang komprehensif, bukan hanya proyek betonisasi yang mempercantik pinggiran sungai tanpa memulihkan ekosistemnya. Penegakan hukum lingkungan harus dijalankan dengan konsisten dan tanpa pandang bulu. Perusahaan tambang yang beroperasi di kawasan konservasi harus dihentikan, dan kerusakan yang mereka tinggalkan harus dipulihkan melalui mekanisme yang tegas. Di sisi lain, masyarakat juga harus diedukasi bahwa menjaga alam bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau aktivis lingkungan, tetapi kewajiban moral setiap warga negara. Menghormati pohon, air, tanah, hutan, dan sungai adalah bagian dari identitas bangsa yang semestinya kita jaga.
Sumatera menangis bukan hanya karena hujan yang turun terlalu deras, tetapi karena kita gagal menjaga pundaknya. Banjir bandang bukan sekadar persoalan curah hujan tinggi, tetapi terutama persoalan nurani: bagaimana kita memperlakukan bumi yang memberi kita hidup. Di tengah kepedihan ini, kita tak boleh hanya menjadi pengamat bencana. Kita harus menjadi bagian dari solusi, menjadi penjaga dan pelindung alam yang selama ini kita biarkan tersakiti. Alam telah memberi peringatan yang sangat jelas. Kini sejarah akan mencatat, bukan berapa banyak bencana yang menimpa kita, tetapi seberapa sungguh-sungguh kita memperbaiki diri setelah semua ini. Semoga dari langkah-langkah kecil yang kita mulai hari ini, hutan-hutan bisa kembali berdiri gagah, sungai-sungai mengalir jernih, kawasan konservasi pulih dari kerusakan tambang, dan hubungan kita dengan alam kembali penuh hormat dan keseimbangan. Semoga Sumatera dan seluruh Indonesia kembali menemukan kedamaian dengan bumi yang kita pijak.
