MAROS, – Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang biasanya berlangsung di ruang-ruang formal, kali ini hadir dengan suasana berbeda. Di tengah kepulan kopi dan riuh percakapan warga, nilai-nilai kebangsaan dibicarakan secara santai namun serius di Warkop Wa’ Kopi Tepi Sungai, Jembatan Butta Toa, Maros, Sulawesi Selatan, 18 Juni 2026.
Kegiatan tersebut menghadirkan Drs. A. Muawiyah Ramli, anggota DPR RI Komisi X dari Fraksi PKB yang lebih akrab disapa Puang Amure. Ia didampingi Wawan Mattaliu, Ketua DPC PKB Maros, serta Bang Jhoo, staf ahli Komisi X DPR RI. Sejumlah tokoh pemuda Kabupaten Maros turut hadir dan terlibat dalam dialog.
Pemilihan warkop sebagai tempat sosialisasi menjadi sesuatu yang menarik. Bukan sekadar tempat menikmati kopi, Warkop Wa’ Kopi Tepi Sungai disulap menjadi ruang perjumpaan antara wakil rakyat, tokoh masyarakat, pemuda, dan warga.
Di tempat yang jauh dari kesan seremonial itulah, pembahasan mengenai Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika mengalir dalam suasana yang lebih cair.
Puang Amure menekankan bahwa Empat Pilar Kebangsaan tidak semestinya berhenti sebagai materi sosialisasi atau slogan yang hanya terdengar dalam forum resmi. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, harus hadir dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi pedoman masyarakat dalam menghadapi perubahan zaman.
“Empat Pilar bukan hanya untuk dihafalkan, tetapi harus menjadi nilai yang hidup dalam kehidupan masyarakat. Terutama generasi muda, mereka adalah kekuatan bangsa yang akan menentukan wajah Indonesia ke depan,” ujar Puang Amure dalam dialog tersebut.
*Warkop Menjadi Ruang Demokrasi*
Ada pesan sosial yang kuat dari pemilihan lokasi kegiatan. Warkop yang selama ini identik dengan ruang berkumpul masyarakat justru dipilih sebagai tempat membicarakan masa depan bangsa.
Bagi kalangan pemuda, model sosialisasi seperti ini dinilai mampu mencairkan jarak antara masyarakat dan wakil rakyat. Diskusi kebangsaan tidak lagi terasa sebagai kegiatan yang kaku, melainkan menjadi percakapan yang dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari.
Di antara aroma kopi dan suasana khas tepian sungai, para peserta membahas berbagai persoalan kebangsaan, termasuk tantangan generasi muda, perkembangan teknologi, pentingnya toleransi, serta bagaimana menjaga persatuan di tengah derasnya arus informasi dan perbedaan pandangan.
Keberadaan tokoh-tokoh pemuda Maros dalam kegiatan tersebut juga memberi warna tersendiri. Mereka tidak hanya menjadi pendengar, tetapi turut menyampaikan pandangan dan pertanyaan mengenai kondisi sosial masyarakat serta tantangan generasi muda di daerah.
*Pemuda Maros dan Tantangan Zaman*
Puang Amure mengingatkan bahwa perkembangan teknologi digital membawa peluang sekaligus tantangan. Media sosial dapat menjadi sarana membangun kreativitas dan produktivitas, tetapi juga dapat menjadi ruang penyebaran hoaks, ujaran kebencian, provokasi, dan berbagai bentuk informasi yang dapat memecah belah masyarakat.
Karena itu, pemuda perlu memiliki kemampuan berpikir kritis serta menjadikan nilai-nilai kebangsaan sebagai filter dalam menyikapi berbagai informasi.
“Jangan sampai perbedaan pilihan, perbedaan pendapat, bahkan perbedaan latar belakang membuat kita kehilangan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa,” pesan Puang Amure.
Ia juga mengajak pemuda untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi mampu menjadi produsen gagasan dan karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kegiatan di Warkop Wa’ Kopi Tepi Sungai tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan kebangsaan dapat dilakukan dari mana saja.
Tidak harus selalu berada di gedung pemerintahan, hotel, atau ruang pertemuan resmi. Warkop, pasar, kampus, komunitas pemuda, hingga ruang-ruang publik lainnya dapat menjadi tempat untuk memperkuat kesadaran kebangsaan.
Justru dalam ruang yang lebih informal, dialog antara masyarakat dan wakil rakyat dapat berlangsung lebih terbuka.
Dari Jembatan Butta Toa Maros, pesan yang muncul sederhana: merawat Indonesia dapat dimulai dari ruang-ruang kecil tempat masyarakat bertemu, berbicara, saling mendengar, dan menghargai perbedaan.
Sosialisasi Empat Pilar yang digelar Puang Amure bersama jajaran pendampingnya itu akhirnya bukan sekadar agenda kelembagaan DPR RI. Ia menjadi sebuah perjumpaan kebangsaan yang mempertemukan politik, masyarakat, pemuda, dan budaya nongkrong dalam satu ruang yang sama.
Di tempat itu pula, secangkir kopi menjadi saksi bahwa pembicaraan tentang Indonesia tidak harus selalu dimulai dari ruang sidang.
Kadang, masa depan bangsa justru bisa dibicarakan dari sebuah meja warkop.
