MAKASSAR_Ketua Laskar Hukum Indonesia, Ryan Latief, menanggapi mangkirnya Sultan Demak Surya Alam dari panggilan kedua aparat penegak hukum. Menurutnya, ketidakhadiran tersebut merupakan bukti bahwa terlapor menganggap remeh proses hukum yang sedang berjalan.
“Panggilan kedua belum juga diindahkan. Ini bukti bahwa Sultan Demak seolah menganggap enteng penegakan hukum. Oleh karena itu, kami dari Laskar Hukum Indonesia bersama LBH Lira akan menggerakkan massa untuk melakukan demonstrasi di Polda Sulsel. Kita semua sama kedudukannya di depan hukum,” tegas Ryan Latief.
Ryan juga menyoroti sikap Sultan yang menganggap remeh surat undangan Polda Sulsel sehingga aparat seakan harus mendatanginya langsung ke wilayah Demak. Ia menilai hal ini tidak pantas dilakukan.
“Masak petugas disuruh datang ke Demak? Emangnya siapa dia Sultan Surya Alam. Jangan sampai terjadi konflik horizontal akibat ulah dugaan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Sultan Demak. Kita ini sama-sama aliran darah kerajaan, tapi harus menunjukkan adab dan budi pekerti yang luhur, bukan justru melakukan dugaan penipuan yang dituduhkan kepadanya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Ryan menantang Sultan Demak untuk membuktikan sikap ksatria dan tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin.
“Kalau dia gentle sebagai seorang raja, seharusnya mampu bertanggung jawab dan menunjukkan jati dirinya. Kalau memang benar seorang Sultan, datang dong hadapi hukum. Kalau sikapnya begini, tidak layak disebut Sultan, jangan sampai terjadi perang Baratayuda kalau tidak menghormati proses hukum yang berlaku di Republik ini” pungkas Ryan Latief.
“Kasus ini sudah kami teruskan juga ke Presiden Republik Indonesia, Kapolri, dan Gubernur BI terkait dugaan adanya pelanggaran hukum. Karena ini menyangkut kerajaan, dan menyebut kerajaan itu tidak boleh main-main — nanti bisa kena azab, bisa kena karma. Pada saat somasi ke Sultan Demak, kami juga menyoroti adanya dugaan uang palsu, penipuan, dan penggelapan, apalagi sudah menyebut nama institusi resmi seperti PIN Bank Indonesia. Hal ini tidak bisa dianggap sepele,” tutup Ryan Latief.
