Mahasiswa Unhas Ciptakan Pestisida Nabati Dan Pupuk Ramah Lingkungan

  • Bagikan

JENEPONTO_Mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin (Unhas) berhasil mengedukasi warga Desa Bulusibatang, Kecamatan Bontoramba, membuat pestisida nabati berbahan fermentasi limbah dapur. Dipelopori Shisilia Susan Amanda (20) dan Insyirah Najwa (21), inovasi ini membantu petani  mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sekaligus memanfaatkan sampah organik rumah tangga.

Program kerja KKN kelompok Unhas ini muncul dari keprihatinan akan tingginya biaya pestisida kimia dan menumpuknya limbah dapur di Desa Bulusibatang. Shisilia, mahasiswi jurusan pemanfaatan sumberdaya perikanan dari fakultas ilmu kelautan dan perikanan menggagas pelatihan pembuatan pestisida nabati fermentasi berbahan sisa organik seperti kulit buah, kulit bawang, sayur busuk, dan sisa nasi.

Program pestisida nabati dirancang oleh Shisilia. Ia mengumpulkan kulit bawang dan sisa sayuran, lalu memfermentasikannya selama 1-2 hari. Setelah difermentasi, larutan tersebut dicampur air molase dan EM4 untuk memperkaya unsur hara. Hasilnya adalah pestisida yang efektif mengendalikan sekitar 70 persen hama daun tanpa merusak ekosistem tanah.

“Kami melihat potensi besar limbah dapur yang selama ini terbuang. Melalui fermentasi anaerob dengan tambahan molase dan EM4, limbah itu bisa diubah menjadi larangan pengendali hama yang efektif dan ramah lingkungan,” jelas Shisilia saat pelaksanaan seminar program kerja di Aula Kantor Desa Bulusibatang, Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto.

Di sisi lain, Insyirah Najwa mengembangkan pupuk “Eco Kuda” yang terbuat dari kotoran kuda dan kultur mikroba EM4. Pupuk cair ini diaplikasikan seminggu sekali dan terbukti mempercepat pertumbuhan akar dan batang tanaman. Metode ini mudah dipraktikkan di pekarangan rumah dan kebun petani.

Dalam uji coba 1 minggu, program ini menunjukkan peningkatan hasil panen sebesar 20–25 persen. Rata-rata panen semula 30 kilogram per 20 meter persegi meningkat menjadi 37 kilogram. Penggunaan pestisida kimia turun drastis dari 100 persen petani menjadi sekitar 30 persen. Biaya produksi untuk pestisida dan pupuk pun berkurang, dari Rp 300.000 menjadi Rp 150.000 per rumah tangga per musim.

Faisal Wahidin selaku kepala desa mengaku terbantu. “Dulu beli pestisida atau pupuk kimia bisa habis Rp 300 sampau Rp 500 ribu per minggu. Pelatihan dari anak-anak KKN ini, saya bisa buat sendiri dari sampah dapur dan para peternak kuda bisa membuat kotoran ternak mereka jadi ladang cuan. Tanaman lebih sehat, kantong juga lebih hemat,” ujarnya.

‎Menurutnya, pupuk Eco Kuda praktis. Modalnya hanya kotoran kuda tetangga, limbah dapur jadi berguna..

Ibu ketua PKK, menyoroti perubahan mindset warga: “Program ini membuka wawasan kami bahwa sampah rumah tangga bukan hanya limbah, tapi peluang.”

Melihat keberhasilan ini, mahasiswa bersama pemerintah desa merencanakan langkah selanjutnya: pembentukan kelompok produksi mandiri untuk memperluas skala, pelatihan lanjutan tentang teknik fermentasi dan manajemen mikroba, serta pendampingan pascapanen agar hasil panen bisa dipasarkan dengan harga lebih kompetitif. Dengan dukungan penuh warga, inovasi ramah lingkungan ini diharapkan menular ke desa-desa sekitar dan memperkuat ketahanan pangan berbasis kearifan lokal.(Ra)

  • Bagikan
Exit mobile version