Di Antara Lapar dan Rasa: Ramadan, War Takjil, dan Cinta Bernama Indonesia

  • Bagikan

MAKASSAR _Indonesia bukan hanya gugusan pulau, tetapi juga gugusan rasa. Dari Rendang Minangkabau hingga Coto Makassar, dari Papeda di Maluku hingga Gudeg di Yogyakarta, kuliner Nusantara adalah bukti nyata bahwa sejarah kita dibangun di atas perjumpaan bukan penyeragaman. Peta kuliner Indonesia menunjukkan bahwa setiap daerah memiliki cita rasa khas, namun tak satu pun lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari akulturasi: pertemuan tradisi lokal dengan pengaruh Arab, India, Tiongkok, Eropa, dan sesama anak bangsa.

Lihatlah bagaimana Rendang memadukan teknik memasak lama dengan rempah-rempah yang dahulu datang melalui jalur perdagangan India dan Arab. Atau Coto Makassar yang kaya bumbu, menyimpan jejak interaksi pelaut dan pedagang lintas bangsa. Bahkan Papeda, makanan sederhana berbahan sagu, menunjukkan kearifan lokal masyarakat timur yang beradaptasi dengan alamnya. Sementara Gudeg merepresentasikan kelembutan rasa Jawa yang manis dan sabar.

Akulturasi kuliner ini menemukan momentum reflektifnya saat Ramadan. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi menahan ego, mengendalikan nafsu, dan merawat kesadaran sosial. Ketika azan magrib berkumandang, meja-meja berbuka di berbagai daerah menampilkan identitas lokal masing-masing kolak, es pisang ijo, bubur kampiun, hingga jalangkote. Namun esensinya sama: berbagi dan mensyukuri.

Di bulan puasa, kita menyaksikan bagaimana keberagaman rasa justru memperkuat persaudaraan. Orang Jawa merindukan rendang, orang Sumatera menikmati bakso, orang Sulawesi menyukai pempek. Tak ada sekat identitas di hadapan hidangan berbuka. Semua melebur dalam satu kesadaran: kita berbeda, tetapi duduk di meja yang sama.

Di sinilah puasa dan akulturasi kuliner bertemu. Puasa mendidik kita untuk tidak rakus pada perbedaan, tidak alergi pada keberagaman. Ia mengajarkan pengendalian diri bahwa kekayaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan dirayakan. Kuliner Nusantara adalah metafora Indonesia: beragam bahan, beragam bumbu, dimasak dalam api sejarah yang panjang, lalu menjadi hidangan bernama keindonesiaan.

Keindonesiaan kita bukanlah keseragaman rasa, melainkan harmoni cita rasa. Seperti gulai yang memadukan santan dan rempah, seperti soto yang memiliki banyak varian namun tetap disebut soto. Dalam konteks ini, puasa menjadi ruang kontemplasi: sudahkah kita menjaga “rasa” persatuan itu? Sudahkah kita menahan diri dari sikap yang merusak kebersamaan?

Ramadan seharusnya bukan hanya memperkaya spiritualitas, tetapi juga memperhalus cara kita memandang sesama. Sebab sebagaimana makanan yang lezat lahir dari perpaduan, bangsa ini kuat karena perjumpaan.

Maka ketika kita berbuka hari ini, sesungguhnya kita sedang merayakan lebih dari sekadar makanan. Kita sedang merayakan sejarah, akulturasi, dan identitas kolektif bernama Indonesia sebuah bangsa yang dibangun oleh rasa, dan dijaga oleh kesadaran untuk tetap bersama.

Penuli Rizal Syarifuddin, Dosen tetap Fakultas Teknik Universitas Islam MakassarKandidat doktor Rekayasa Industri FTI Universitas Islam Indonesia.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *