JAKARTA_Komunitas Arisan Happy Perempuan Indonesia Maju (PIM) berbagi kasih di Pesantren dan Panti Asuhan Daarul Aitam di Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (12/7/2025), pagi jelang siang.
Bakti sosial tersebut dipimpin Hj. Dewie Yasin Limpo tersebut, bertujuan untuk menjadi pengingat bahwa cinta dan iman bisa mengubah masa depan.
Komunitas arisan Happy PIM menggelar kegiatan santunan dan berbagi kebahagiaan bersama anak-anak yatim serta para penghafal Al Quran. Dalam balutan kesederhanaan, kegiatan itu menjadi momentum menyentuh—pengingat bahwa cinta sejati tak selalu berwujud megah, namun hadir lewat ketulusan memberi dan menyentuh jiwa yang rapuh.“Tugas kita hari ini adalah menyiapkan generasi yang memiliki watak baik, cinta Al Quran, dan hidupnya memberi manfaat bagi sesama,” ujar Dewie dalam sambutannya, suaranya tenang namun menyala oleh keyakinan.
Dewie, yang dikenal di Sulsel sebagai tokoh perempuan dan pemerhati sosial itu, percaya, negeri ini membutuhkan lebih banyak pelita yang tak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga jernih secara spiritual. Dan pelita-pelita itu tengah tumbuh di pondok-pondok pesantren, seperti Daarul Aitam, di mana anak-anak yatim menghafal Kalamullah dengan penuh ketekunan dan semangat.
“Kami ingin Daarul Aitam tidak hanya mencetak penghafal Al Quran, tetapi juga pemimpin masa depan. Pemimpin yang memuliakan kitab sucinya, membela kebenaran, dan membawa Indonesia menjadi negeri yang dirahmati, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” kata Dewie, disambut haru para ibu-ibu dan pengurus pesantren.
Kegiatan ini, tak hanya simbol keimanan. Ia adalah wujud nyata dari cinta yang tak bersyarat, pengingat bahwa di tengah kehidupan kota yang hiruk-pikuk, masih ada ruang untuk berbuat baik, dan ada komunitas perempuan yang percaya bahwa tangan yang memberi tak pernah kehilangan apa-apa.
Suasana makin syahdu ketika KH. Ir. Muhammad Djamal Assagaf, pengasuh Pesantren dan Ketua Yayasan Arrabithah Al Alawiyah, memberikan tausiah di hadapan para santri dan ibu-ibu PIM. Dengan suara yang lembut namun menggugah, Habib Muhammad Djama Assagaf menyampaikan bahwa sebaik-baiknya umat Islam adalah mereka yang peduli terhadap anak yatim.
“Rumah terbaik bukan yang mewah dindingnya, tetapi rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang dipelihara dengan kasih sayang,” ucapnya, dan ruangan itu pun seolah senyap oleh hening yang penuh perenungan.
Ciganjur Jadi Saksi Cinta yang Tulus
Di akhir acara, anak-anak yatim menyuguhkan doa-doa dalam suara yang lantang dan bersih, mengalir dari hati yang belum tercemar dunia. Di sana, tak ada yang kaya atau miskin, tua atau muda. Yang ada hanya satu: kemuliaan memberi, dan keindahan menerima.
Satu per satu anggota PIM menyalami anak-anak itu, mata bertemu mata, tangan menggenggam tangan. Tidak ada kamera yang mampu menangkap utuh kehangatan momen itu karena cinta, kadang tak bisa difoto. Ia hanya bisa dirasakan.
