Simpul Pangan Nusantara di Makassar Soroti Masa Depan Ketahanan Pangan Sulsel di Tengah Perubahan Iklim

  • Bagikan

MAKASSAR – Ancaman perubahan iklim, alih fungsi lahan, dan ketergantungan terhadap komoditas pangan tertentu menjadi tantangan bagi masa depan ketahanan pangan Sulawesi Selatan. Persoalan tersebut menjadi fokus pembahasan dalam Simpul Pangan Nusantara, Konferensi Ilmiah Sistem Pangan Berkelanjutan (KISPB) 2026 seri Sulawesi Selatan, di UNHAS Hotel and Convention, Makassar, Rabu (7/10/2026).

Forum yang mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah, mahasiswa, dan pegiat pangan ini menghadirkan 43 makalah dan 19 poster ilmiah yang membahas inovasi pertanian, agroforestri, pangan lokal, ketahanan gizi, hingga tata kelola lanskap.

Kegiatan dibuka Asisten I Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. M. Ishaq Iskandar. Sejumlah tokoh turut memberikan paparan ilmiah, di antaranya Direktur Asia Landscape Alliance, Dr. Sonya Dewi, dan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Rismaneswati.

Konferensi ini menjadi ruang kolaborasi untuk menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat dan arah kebijakan pembangunan pangan di Sulawesi Selatan.

Salah satu isu yang mengemuka adalah pentingnya diversifikasi pangan berbasis potensi lokal, mulai dari jagung, ubi, tanaman pangan alternatif hingga hasil hutan, sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan di tengah perubahan iklim.

Pengalaman Kabupaten Bone menjadi salah satu contoh penerapan di lapangan. Melalui program Land4Lives yang dijalankan ICRAF bersama pemerintah daerah sejak 2021, telah dibangun 43 kebun pangan komunal dan 506 kebun pekarangan keluarga.

Sebanyak 605 warga, dengan 73 persen di antaranya perempuan, juga telah mengikuti peningkatan kapasitas terkait pangan lokal, gizi, dan ketahanan iklim.

Program tersebut turut mengintegrasikan pendekatan Isi Piringku berbasis pangan lokal ke seluruh 38 puskesmas di Kabupaten Bone, serta mengembangkan kurikulum muatan lokal Pangan Lokal untuk Ketahanan Iklim yang telah diuji coba di 32 SD dan SMP dengan lebih dari 2.000 siswa.

Dalam siaran program ini juga disebut telah mendorong pengarusutamaan ketahanan pangan, ketahanan iklim, dan keadilan gender dalam dokumen perencanaan pembangunan Sulawesi Selatan.

Sementara itu, Andree Ekadinata, Direktur ICRAF Indonesia, bersama para pemangku kepentingan lainnya terlibat dalam rangkaian konferensi yang menjadi bagian dari penutupan riset-aksi Land4Lives, dengan dukungan Pemerintah Kanada melalui Global Affairs Canada.

Selain seminar ilmiah, kegiatan ini juga menghadirkan dialog multipihak yang mempertemukan pemerintah, akademisi, pegiat pangan, dan generasi muda untuk membahas peluang pengembangan sistem pangan berkelanjutan.

Rangkaian kegiatan Land4Lives di Sulawesi Selatan akan dilanjutkan dengan Dialog Multipihak di Makassar pada 8 Oktober 2026

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *