Kisah Yuyun UMKM Makassar Binaan Bank Indonesia, Mengubah Kain Kafan Jadi Busana Bernilai Tinggi

  • Bagikan

Membangun usaha fashion tidak selalu harus dimulai dari bahan yang populer dan mudah diterima pasar. Terkadang, justru bahan yang tak lazim juga mampu membuka jalan bagi lahirnya sebuah inovasi.

Seperti Yuyun Nailufar, salah seorang pelaku UMKM asal Makassar, ia memiliki kecintaan besar terhadap dunia fashion. Perempuan kelahiran 1980 ini,
memilih kain kafan sebagai bahan untuk menciptakan produk busana.

Brand Thope merupakan usaha yang dirintis Yuyun sejak tahun 1996. Saat itu, ia memulainya dengan semangat dan ketekunannya dalam menenun. Ia bahkan tidak pernah berpikir ada tanggapan negatif masyarakat terhadap produknya.

Sebaliknya, ia selalu optimis dan yakin bahwa brand yang diciptakannya akan selalu dicari, apalagi ia menghadirkan desain-desain yang elegan, mewah dan trendy. Untuk produk yang diciptakannya memang diperuntukkan bagi kalangan ekonomi atas.

Padahal selama ini, kain Thope dikenal sebagai kain yang digunakan untuk membungkus jenazah. Namun, Yuyun melihatnya dari sudut pandang berbeda. Di balik persepsi yang melekat di masyarakat, ia justru menemukan peluang untuk menghadirkan sesuatu yang bernilai ekonomi.

Bagi Yuyun, kain Thope dapat diolah menjadi produk fashion yang memiliki karakter, keunikan, dan nilai jual. “Saya melihat kain kafan bagus, tapi kenapa hanya dipakai dalam tanah. Dari situ muncullah ide untuk membuat produk fashion,” katanya saat dimintai komentarnya Senin (26/10/2026), di Makassar.

Awal-awal merintis, Yuyun mengaku usahanya masih seperti berjalan di tempat, belum menemukan pasar dan masih minim dalam hal promosi, saat itu omzet yang didapatkan masih dikisaran Rp3.000.000 perbulan sementara harga bahan baku cukup tinggi.

Kendati demikian, Yuyun tidak pernah patah semangat. Ia terus mencari tempat untuk belajar, tentunya bisa mendapatkan pelatihan yang mampu mendorongnya mengembangkan usaha agar tercapai target yang telah ia tentukan.

Yuyun pun aktif mencari informasi untuk belajar mengembangkan bisnisnya, baik dilingkup pemerintahan, perusahaan swasta dan perbankan.

Ketertarikan Yuyun untuk mengembangkan usahanya membawanya bergabung dalam program pendampingan UMKM Bank Indonesia (BI), yakni REWAKO. Ia sebenarnya telah lama ingin mengikuti program tersebut, tetapi baru berhasil lolos seleksi pada 2022.

Kesempatan itu pun dimanfaatkannya dengan mengikuti berbagai tahapan dan rangkaian kegiatan, mulai dari seleksi usaha, kurasi produk, bootcamp, hingga pendampingan intensif selama satu tahun.

Pengalaman itu menjadi titik penting dalam perjalanan usahanya. Di balik produk yang selama ini ia kerjakan dengan penuh kecintaan, ternyata ada banyak hal yang masih perlu dipelajari. Yuyun mulai menyadari bahwa semangat dan keterampilan membuat produk saja belum cukup untuk membawa usaha tumbuh lebih jauh.

Omzet Meningkat Setelah Ikut REWAKO

Program REWAKO yang diinisiasi Bank Indonesia (BI) menjadi salah satu upaya untuk mendorong pelaku UMKM agar berkembang dan naik kelas. REWAKO merupakan singkatan dari Resilient, World-class, Agile, dan Knowledgable, yang mencerminkan semangat membangun UMKM agar tangguh, berdaya saing, adaptif, serta memiliki wawasan dan pengetahuan yang mumpuni.

Bagi Yuyun Nailufar, program ini bukan sekadar kesempatan mengikuti pelatihan, melainkan pintu untuk mengenali potensi usaha sekaligus membenahi hal-hal yang selama ini luput dari perhatiannya.

Perempuan berusia 46 tahun ini, merasakan banyak perubahan pada usahanya sejak ikut program REWAKO yang diinisiasi Bank Indonesia. Salah satunya dari omzet usaha yang tadinya sekitar Rp3 juta menjadi Rp10 juta per bulan.

“Saya kadang berpikir, kenapa saya terlambat lulus pelatihan di BI. Padahal sangat luar biasa ilmunya, mentornya keren-keren. Imu yang kita dapat memang daging,bukan kaleng-kaleng,”jelasnya.

Ia bahkan memberikan saran kepada semua UMKM pemula yang dikenalnya untuk mencari tahu program REWAKO dan mendaftar untuk ikut pelatihan. Sebab tidak ada rugi yang kita dapatkan saat ikut pelatihan.

Ada satu hal yang membuat Yuyun merasa sedikit menyesal, ia berharap bisa mengenal program REWAKO lebih awal. Baginya, ilmu yang diperoleh selama mengikuti pembinaan Bank Indonesia jauh melampaui ekspektasinya. Bukan hanya materi pelatihan, tetapi juga pengalaman dan bimbingan dari para mentor yang dinilainya sangat berkualitas.

“Kadang saya berpikir, kenapa saya terlambat lulus pelatihan di BI? Padahal, ilmunya luar biasa dan mentornya keren-keren. Ilmu yang kita dapat itu benar-benar daging, bukan kaleng-kaleng,” ungkapnya.

Pengalaman tersebut membuat Yuyun tak ingin pelaku UMKM lain melewatkan kesempatan serupa. Ia kerap menyarankan para pelaku usaha, terutama yang baru merintis bisnis, untuk mencari informasi mengenai program REWAKO dan mencoba mengikuti proses seleksinya.

Dari Ruang Pelatihan hingga Panggung Pameran

Tidak hanya dibina, menurut Yuyun Bank Indonesia juga membukakan pintu pasar bagi pelaku UMKM. Peserta yang mengikuti program kegiatan REWAKO diajak untuk berkunjung ke tempat para pelaku UMKM yang sudah sukses.

Yuyun dan para peserta REWAKO, pada saat itu di ajak ke Bali, mengunjungi pelaku UMKM yang sudah sukses menjalankan bisnisnya yang tentunya binaan dari Bank Indonesia. “Dari pelatihan bersama BI, saya banyak mengenal tentang pewarnaan untuk kain tenun saya,” katanya lagi.

Bagi Yuyun, salah satu pengalaman paling berkesan selama mengikuti pembinaan BI adalah kesempatan membawa produknya ke panggung pameran nasional di Jakarta. Tak semua pengalaman belajar diperoleh di ruang pelatihan. Melalui pameran, ia berkesempatan memperkenalkan busana berbahan kain Thope kepada pasar yang lebih luas.

“Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya. Bisa ikut dan hadir dalam pameran nasional merupakan pengalaman yang luar biasa,” kenangnya.

Di pameran tersebut, produk Thope racikannya mendapat perhatian dari pengunjung, termasuk para istri pejabat negara. Yuyun mengaku terkesan karena sejumlah pembeli tertarik pada produknya tanpa banyak menawar harga.

Salah satu momen yang paling diingatnya adalah ketika sebuah kardigan berbahan kain Thope terjual seharga Rp1,8 juta. Menurut Yuyun, busana tersebut dibeli oleh istri Panglima yang menjabat saat itu.

Baju dan blazer yang dibanderol hingga Rp5 juta per potong pun laris terjual di pameran tersebut.

Pengalaman berharga lainnya datang ketika ia mendapat undangan menghadiri gala premier yang digelar di rumah jabatan gubernur. Kesempatan itu kembali menjadi ajang untuk memperkenalkan karya-karyanya. Di acara tersebut, produk fashion berbahan kain Thope miliknya juga habis terjual.

Dari penjualan selama pameran,dan gala premier Yuyun menyebut berhasil meraih total omzet hingga Rp1 miliar.

Diakhir wawancara Yuyun, tak henti-hentinya memberikan tanggapan positif terhadap kegiatan yang diinisiasi oleh Bank Indonesia, dia bahkan menekankan kepada seluruh pengusaha UMKM khususnya yang masih muda untuk mengikuti pelatihan program REWAKO, kata Yuyun tidak ada ruginya sebaliknya banyak mendapatkan ilmu dan keuntungan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *