Bencana Mengancam, Daerah Aliran Sungai Di Sulawesi Selatan Mengalami Kerusakan Kritis

  • Bagikan

MAKASSAR _Berdasarkan data Landscape For Climate-Reselient Livelihoods (Land4Lives) on Indonesia menyebutkan sebagian besar DAS Bila Walanae berada dalam kategori rawan bencana banjir, kekeringan, dan tanah longsor. Luasan area banjir, kekeringan,dan tanah longsor tinggi berturut-turut sebesar 15. Dan 27% dari total luar DAS.
Berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan RPDAS Bila Walanae disimpulkan bahwa dokumen Rencana Pengelolaan DAS ((RPDAS) tahun 2010-2025 kurang berhasil dalam mencapai tujuannya. Banyak program yang dirancang belum menghasilkan dampak yang nyata dalam meningkatkan kapasitas penyangga DAS.
Data kajian hidrologi seluas 166.974 ribu ha (22%) areal DAS Bila Walanae berada dalam kondisi sangat kritis dan kritis.
Daerah aliran sungai (DAS) Bila Walanae adalah salah satu DAS terbesar di Sulawesi Selatan yang telah lama menopang penghidupan masyarakat, terutama petani. Namun, sekitar 22% wilayah DAS Bila Walanae dalam kondisi kritis – terutama di wilayah hulu – karena alih fungsi lahan dan deforestasi, menurunkan produktivitas lahan serta meningkatkan risiko bencana alam. Kajian menunjukkan bahwa kapasitas penyangga DAS Bila Walanae akan terus menurun, jika tidak diintervensi.
DLHK, BPDAS, dan Forum DAS Sulawesi Selatan serta CIFOR-ICRAF Indonesia menggelar kegiatan konsultasi publik, yang akan membahas strategi-strategi untuk membenahi DAS Bila Walanae, baik dari aspek biofisik maupun sosial-ekonomi di Hotel Max One Makassar Senin (25/05/2025).
Konsultasi tersebut menghadirkan sejumlah pemateri yakni Kabid DAS dan Konservasi DLHK Nazaruddin Kammisi, Ketua Forum DAS Dr. Usman Arsyad ,Kasubbag perencanaan BPDAS Jeneberang -Saddang, Selly Oktavia Hariany dan Direktur CIFOR-ICRAF country program Indonesia, Andree Ekadinata.

Ketua Forum DAS, Dr. Usman Arsyad mengatakan kondisi daerah aliran sungai di Sulawesi Selatan banyak yang rusak,”bahwa kondisi DAS di Sulawesi Selatan itu banyak yang rusak itu betul, jadi dan kondisinya itu sudah harus dipulihkan daya dukungnya ada beberapa komponen biofisiknya itu yang sudah mengalami kerusakan”.

Kasubbag perencanaan BPDAS Jeneberang – Saddang, Selly Oktavia Harian mengatakan”kita punya 14 prioritas di Sulawesi Selatan tapi ada juga yang diluar Provinsi Sulsel seperti Larina Dan Saddang tapi di Sulawesi Selatan DAS Bila Walanae dan jeneberan prioritas penanganannya karena dalam posisi kritis”.
Sementara itu Direktur CIFOR-ICRAF country program Indonesia, Andree Ekadinata mengatakan”untuk bisa memulihkan dan mengelola data dengan baik kami percaya bahwa supaya perlindungan itu harus bisa berjalan seiring dengan upaya untuk bisa memberikan manfaat ekonomi bagi petani.”
Konsultasi Publik terkait dengan rencana pengelolaan sumber daya air ini dapat menghasilkan skenario pengelolaan DAS yang mencakup reboisasi, dan konservasi tanah serta air dan mengurangi limpasan permukaan. Dengan demikian dapat berkontribusi dalam menurunkan resiko banjir, longsor, dan kekeringan di wilayah Bila Walanae.

  • Bagikan
Exit mobile version