Di atas langit Gaza, pagi selalu datang seperti biasa, tenang, rapuh penuh harap dan tak pernah benar-benar tenang. Di antara puing dan debu yang belum sempat mengendap, Raghad Ashour melangkah dengan satu tujuan sederhana tiba di ruang ujian.
Ia sudah membayangkan di ruangan itu menuliskan jawaban, Raghad selalu yakin ujian ini membuka jalan menuju masa depan yang selalu ia jaga dalam diam.
Namun, mimpi itu tidak pernah sampai. Siswi berusia 17 tahun tersebut tewas akibat serangan rudal dari drone menghantam kendaraan yang melintasi Jalan Rimal, pusat Kota Gaza, pada Senin pagi, 21 Juni 2026.
Dalam sekejap, perjalanan yang diniatkan sebagai langkah menuju masa depan berubah menjadi perjalanan pulang kepada Sang Pemilik kehidupan.
Bagi Raghad, ujian itu bukan sekadar lembar soal.Ia adalah pintu menuju mimpi yang ia rajut perlahan menjadi seorang guru. Di tanah yang berkali-kali terluka, ia ingin menjadi pengajar anak-anak membaca, menulis, dan percaya bahwa masa depan masih mungkin diperjuangkan. Mimpi itu sederhana, tapi di Gaza, kesederhanaan sering kali menjadi sesuatu yang paling mahal.
Raghad tidak pernah sampai di lokasi ujian, dentuman dari langit memecah pagi yang rapuh. Dalam satu kedipan waktu, semua yang ia bawa berupa buku, harapan, cita-cita seketika terlepas dari genggamannya.
Dalam perjalanan ia menutup mata untuk selama-lamanya, tak sempat berpamitan pada pada ibunya, orang tua tunggal yang membesarkannya dengan cinta setelah ayahnya meninggal.
Kabar duka itu pun diketahui, perempuan yang melahirkan Raghad itu, tak kuasa menahan tangisnya. Ia memeluk jenazah anaknya dengan perasaan pilu.
