MAKASSAR — Menjaga kebersihan lingkungan tidak selalu membutuhkan langkah besar. Di RT 002/RW 001, Kelurahan Rappokalling, Kecamatan Tallo, Makassar, sejumlah warga justru memulainya dari rumah dengan memilah dan mengelola sampah.
Mereka adalah para “pejuang sampah” yang setiap hari berupaya mengurangi sampah dari lingkungan sendiri. Salah satunya Dika, petugas yang mengangkut sampah yang telah dipilah oleh warga untuk kemudian dikelola lebih lanjut.
Ada pula Nurlia, seorang ibu rumah tangga yang memiliki hobi memasak. Ia memilih tidak membuang begitu saja sisa masakan dan sampah organik dari dapurnya, melainkan memilah dan mengolahnya secara mandiri.
Gerakan ini juga didukung Rahmi, pelatih bela diri sekaligus Ketua RT 002/RW 001 Kelurahan Rappokalling. Bersama warga dan para pejuang kecil, Rahmi menggerakkan pengelolaan sampah dari rumah ke rumah.
Sampah organik diolah menjadi makanan maggot dan kompos, sementara sampah anorganik seperti plastik dikumpulkan, ditimbang, kemudian ditukar dengan sembako.
Kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah bisa dimulai dari lingkungan terkecil. Warga tidak hanya menjaga kebersihan, tetapi juga menciptakan nilai manfaat dari sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
“Karena menjaga lingkungan bukan tugas satu-dua orang. Dari rumah, dari lorong, dari RT kita sendiri,” menjadi semangat warga dalam menjalankan gerakan tersebut.
Tidak perlu menunggu menjadi superhero untuk menjaga lingkungan. Cukup mulai dari sampah ta’.
Satu RT bergerak, satu lingkungan ikut berubah. Satu langkah kecil dari warga dapat menjadi bagian dari perubahan besar menuju Makassar yang lebih bersih dan bebas sampah.










