JAKARTA – Gelombang seruan boikot terhadap Adidas kembali menguat setelah perusahaan olahraga asal Jerman tersebut mendapat sorotan terkait promosi yang menampilkan mantan anggota militer Israel atau IDF.
Kontroversi itu muncul di tengah situasi konflik Israel-Palestina yang masih menjadi perhatian dunia. Promosi Adidas yang melibatkan mantan anggota IDF dinilai sejumlah pihak tidak sensitif terhadap penderitaan warga Palestina.
Sorotan terhadap Adidas semakin kuat setelah promosi tersebut dikaitkan dengan narasi kemanusiaan dan olahraga. Kritik kemudian berkembang di media sosial dan memunculkan seruan agar masyarakat memboikot produk Adidas.
MUI Kecam Promosi Adidas
Peringatan terhadap promosi tersebut disampaikan Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional sekaligus Presiden Koalisi Asia Pasifik untuk Al-Quds dan Palestina, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim.
Sudarnoto menyoroti promosi Adidas yang menampilkan mantan anggota IDF serta perkembangan Israel-Indonesia Future Program (IIFP).
“Saya mengecam keras promosi agitatif Adidas dan program Israel-Indonesia Future Program ini,” ujar Sudarnoto dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Menurut Sudarnoto, perkembangan tersebut tidak bisa dilepaskan dari pertarungan narasi dan public diplomacy yang berlangsung di tengah konflik Israel-Palestina.
MUI Soroti Pertarungan Narasi
Sudarnoto mengatakan terdapat upaya untuk membangun citra Israel sebagai negara modern, simpatik dan normal, sementara penderitaan rakyat Palestina berisiko tersisih dari perhatian publik internasional.
Menurut dia, masyarakat perlu lebih kritis terhadap berbagai promosi yang menggunakan isu kemanusiaan, olahraga, pendidikan, kepemudaan maupun profesionalisme.
“Karena itu kita semua harus kritis bahwa promosi yang dikemas dengan isu kemanusiaan, olahraga, pendidikan, kepemudaan atau profesionalisme dapat menjadi bagian dari upaya membangun citra positif Israel dan mengikis persepsi kritis masyarakat dunia terhadap kebijakan Israel di Palestina,” tegas Sudarnoto.
Pernyataan tersebut menempatkan kontroversi promosi Adidas dalam konteks yang lebih luas, yakni bagaimana citra sebuah negara dibangun melalui berbagai kegiatan nonpolitik yang menyentuh masyarakat internasional.
Kontroversi Adidas Bermula dari Kampanye di Israel
Sebelumnya, Adidas menuai kritik setelah menampilkan Shalev Biton, mantan anggota militer Israel yang kehilangan salah satu kakinya, dalam kampanye layanan Single Shoe di Israel.
Layanan tersebut memungkinkan konsumen membeli satu sepatu, bukan sepasang, khususnya bagi mereka yang hanya membutuhkan satu sepatu karena kondisi tertentu, termasuk pengguna kaki prostetik.
Namun, keterlibatan Biton memicu kritik karena latar belakangnya sebagai mantan anggota IDF. Aktivis pro-Palestina menilai pemilihan figur tersebut menjadi persoalan sensitif karena kampanye dilakukan ketika perhatian dunia tertuju pada banyaknya warga Palestina yang mengalami luka dan amputasi akibat perang di Gaza.
Adidas Minta Maaf
Adidas kemudian menyampaikan permintaan maaf atas kontroversi tersebut.
Perusahaan mengatakan gambar yang digunakan berasal dari aktivasi lokal tim Adidas di Israel dan menimbulkan kekhawatiran serta reaksi keras.
“We recognize that an image used in a recent local activation by the local team has raised concerns and strong reactions,” demikian pernyataan Adidas.
Perusahaan juga menegaskan tidak bermaksud menyinggung pihak mana pun dan menyampaikan permintaan maaf kepada mereka yang terdampak.
Kontroversi tersebut kemudian memunculkan seruan boikot dari sejumlah aktivis dan pengguna media sosial.
Meski demikian, penting membedakan antara seruan boikot yang berkembang di publik dengan pernyataan pejabat MUI yang mengecam promosi Adidas. Pernyataan Prof. Sudarnoto merupakan kritik keras terhadap promosi Adidas dan IIFP, bukan dalam kutipan yang diberikan sebagai keputusan resmi MUI untuk melakukan boikot terhadap Adidas.










