{"id":1448,"date":"2023-10-09T06:45:09","date_gmt":"2023-10-09T06:45:09","guid":{"rendered":"https:\/\/timurindonesia.com\/?p=1448"},"modified":"2023-10-09T06:45:09","modified_gmt":"2023-10-09T06:45:09","slug":"barongko-kue-kejujuran-yang-tak-lekang-waktu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/timurindonesia.com\/barongko-kue-kejujuran-yang-tak-lekang-waktu\/","title":{"rendered":"Barongko, Kue Kejujuran yang Tak Lekang Waktu"},"content":{"rendered":"<p><strong>MAKASSAR<\/strong>, <strong>timurindonesia.com<\/strong> &#8211; Barongko, kue tradisonal khas Sulawesi Selatan. Bentuknya unik dengan rasa yang manis. <\/p>\n<p> Kue ini juva merupakan salah satu kudapa yang disajikan di hajatan di Sulsel, baik itu pernikahan, sunatan atau pun aqiqah.<\/p>\n<p>Selain bentuknya yang unik berbentuk babgun ruang segitiga, bahan untuk membut kue ini juga unik.<\/p>\n<p>Mulak dari bagian luar hingga dalam kue ini terbuat dari pisang. Pembungjus kue dari daun pisang, sedangkan isinya juga berbahan dasar oisang yang dilumatkan dicampur bahan lainnya kemudian dikukus.<\/p>\n<p>Sebagian besar masyarakat Bugis menyebut\u00a0barongko\u00a0sebagai kue kejujuran, karena kue pisang yang dibungkus daun pisang yang merepresentasikan kejujuran.<\/p>\n<p>Ibaratnya apa yang terlihat di luar dengan apa yang tersimpan di dalam diri kita. <\/p>\n<p>Selain keunikannya kue ini juga pernah dinobatkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2017 lalu.<\/p>\n<p>Meski sudah ada sejak zaman dulu, namun kur ini tetap eksis tanpa tergerus hadirnya kue dan kuliner kekinian.<\/p>\n<p>Masih banyak penjual kue yang menjajakan barongko di Makassar. Salah satunya di Jalan Perintis Kemerdekaan. Rata-rata kue Barongko dijual Rp3.000 &#8211; Rp5.000 per biji.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MAKASSAR, timurindonesia.com &#8211; Barongko, kue tradisonal khas Sulawesi Selatan. Bentuknya unik dengan rasa yang manis. Kue ini juva merupakan salah satu kudapa yang disajikan di hajatan di Sulsel, baik itu&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":1449,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[22],"tags":[799,801,800,302],"newstopic":[],"class_list":["post-1448","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-barongko","tag-khas-sulsel","tag-kue-tradisional","tag-kuliner"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1448","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1448"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1448\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1450,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1448\/revisions\/1450"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1449"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1448"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1448"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1448"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=1448"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}