{"id":6838,"date":"2025-10-25T06:00:51","date_gmt":"2025-10-24T22:00:51","guid":{"rendered":"https:\/\/timurindonesia.com\/?p=6838"},"modified":"2025-10-25T06:07:03","modified_gmt":"2025-10-24T22:07:03","slug":"kala-teater-dan-mtn-seni-budaya-menyapa-dunia-tengah-lewat-festival-kala-monolog-2025","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/timurindonesia.com\/kala-teater-dan-mtn-seni-budaya-menyapa-dunia-tengah-lewat-festival-kala-monolog-2025\/","title":{"rendered":"Kala Teater dan MTN Seni Budaya: Menyapa Dunia Tengah Lewat Festival Kala Monolog 2025"},"content":{"rendered":"<p><strong>MAKASSAR<\/strong>\u2013 Tahun ini, Festival Kala Monolog (FKM) berkolaborasi dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya, salah satu program prioritas nasional Kementerian Kebudayaan.<\/p>\n<p>Kolaborasi ini bertujuan untuk menjaring, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara lebih terstruktur dan berkelanjutan.<\/p>\n<p>Melalui MTN Seni Budaya, para pelaku seni dan teater yang terlibat dalam FKM berkesempatan terhubung dengan berbagai program pengembangan kapasitas, serta memperoleh akses lebih luas ke pasar nasional maupun global.<\/p>\n<p>Sinergi ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperkuat ekosistem seni pertunjukan Indonesia sekaligus memperkenalkan potensi seniman daerah ke panggung yang lebih besar.<\/p>\n<p>Program FKM 2025 menghadirkan beragam kegiatan yang dirancang untuk memperluas pengalaman berkesenian para peserta sekaligus mempererat hubungan antara seni dan masyarakat. Rangkaian acaranya meliputi Pertunjukan, Studio Aktor, Mengalami Makassar, Bicara Karya, serta Penerbitan dan Peluncuran Buku Naskah Monolog.<\/p>\n<p>Seluruh kegiatan tersebut digelar di berbagai ruang publik, agar masyarakat dapat menyaksikan, merasakan, dan berinteraksi langsung dengan seni teater.<\/p>\n<p>Melalui pendekatan ini, FKM ingin menghadirkan pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan kota, masyarakat, dan sejarahnya, sekaligus menegaskan bahwa seni bukan hanya milik panggung, tetapi juga bagian dari denyut kehidupan sehari-hari di Makassar.<\/p>\n<p>Melalui program MTN Presentasi, FKM 2025 menampilkan pertunjukan monolog yang telah dikurasi secara ketat dari hasil panggilan terbuka (open call). Dari total 65 pendaftar, terpilih 11 aktor yang mewakili beragam kota di Indonesia, di antaranya Bukittinggi, Kendari, Yogyakarta, Makassar, Banda Aceh, Depok, Malang, Denpasar, Gowa, dan Pontianak.<\/p>\n<p>Proses kurasi ini menjadi bukti komitmen FKM dalam memberikan ruang yang setara bagi para pelaku teater dari berbagai daerah, sekaligus memperlihatkan kekayaan ragam suara, dialek, dan perspektif yang hidup dalam dunia seni pertunjukan Indonesia.<\/p>\n<p>Sementara itu, MTN Lab hadir melalui Studio Aktor sebagai ruang penciptaan dan pengembangan karya melalui lokakarya yang melibatkan 10 aktor terpilih dari Makassar, Bone, Gowa, dan Mamasa.<\/p>\n<p>Program ini bertujuan mempertajam dan memperdalam kemampuan akting para aktor melalui pendekatan kreatif yang menekankan eksplorasi teknik akting, seperti pengembangan karakter, studi adegan, dan improvisasi.<\/p>\n<p>Studio Aktor akan diampu oleh Joned Suryatmoko, seorang sutradara, aktor, dan penulis asal Yogyakarta.<\/p>\n<p>Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra, menegaskan pentingnya kolaborasi ini dalam memperkuat ekosistem seni pertunjukan di Indonesia.<\/p>\n<p>\u201cDari tanah asal epos I La Galigo, kita belajar bahwa kisah dan panggung merupakan napas kebudayaan Indonesia. Kolaborasi Kementerian Kebudayaan melalui program MTN Seni Budaya dengan Festival Kala Monolog, menjadi upaya untuk merawat tradisi bercerita dalam bentuk-bentuk baru yang relevan dengan zaman, sekaligus membuka ruang bagi talenta seni pertunjukan untuk berkembang, terhubung, dan diakui,\u201d ujar Ahmad Mahendra.<\/p>\n<p><strong>Makna \u201cAle\u2019 Lino\u201d dan hubungan dengan MTN Seni Budaya.<\/strong><\/p>\n<p>Direktur Festival Kala Monolog, Dwi Lestari Johan, menjelaskan bahwa \u201cAle\u2019 Lino\u201d terinspirasi dari konsep kosmologi dan epos mitologi Bugis I La Galigo, yang berarti Dunia Tengah.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-6840 aligncenter\" src=\"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/IMG-20251024-WA0073-250x190.jpg\" alt=\"\" width=\"250\" height=\"190\" srcset=\"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/IMG-20251024-WA0073-250x190.jpg 250w, https:\/\/timurindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/IMG-20251024-WA0073-100x75.jpg 100w\" sizes=\"(max-width: 250px) 100vw, 250px\" \/><\/p>\n<p>Dalam kepercayaan tersebut, Ale\u2019 Lino berada di antara botting langi\u2019 (dunia atas) dan uri\u2019 lino (dunia bawah), menjadi ruang penyeimbang di mana manusia hidup, berinteraksi dengan alam, menghormati leluhur, dan terhubung dengan entitas spiritual di sekitarnya.<\/p>\n<p>Tema ini dipilih sebagai refleksi atas posisi manusia di tengah perubahan zaman, bagaimana ia menjaga keseimbangan antara spiritualitas, budaya, dan realitas kehidupan modern.<\/p>\n<p>\u201cFilosofi Ale\u2019 Lino sejalan dengan tujuan MTN Seni Budaya sebagai wadah yang berperan dalam mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengelola talenta seni budaya demi pemajuan kebudayaan Indonesia,\u201d ujar Dwi.<\/p>\n<p>Ia menambahkan, melalui kolaborasi ini, FKM diharapkan tidak hanya menjadi ruang ekspresi artistik, tetapi juga ekosistem pembelajaran dan pengembangan talenta yang berkelanjutan bagi para pelaku teater di Indonesia.<\/p>\n<p>Menurut Dwi, onteks kota yang kita diami saat ini sering kali tumbuh tanpa mempertimbangkan keseimbangan ekologis. Dalam kondisi itu, konsep Ale\u2019 Lino menjadi semakin relevan bukan sekadar ruang fisik, melainkan ruang sakral yang menyimpan nilai-nilai adat dan kearifan leluhur.<\/p>\n<p>Nilai-nilai inilah yang dapat dijadikan acuan untuk menata kota secara lebih berkelanjutan dan inklusif, di mana manusia, alam, dan budaya berjalan beriringan dalam harmoni.<\/p>\n<p><strong>Kolaborasi Seniman dari Berbagai Daerah<\/strong><\/p>\n<p>Pertunjukan monolog akan dimainkan oleh aktor dari Banda Aceh, Bali, Yogyakarta, Depok, Malang, Kendari, Pontianak, Gowa, dan Makassar. Naskah-naskah yang dipentaskan ditulis khusus untuk Festival Kala Monolog 2025 oleh sembilan penulis dari berbagai daerah di Indonesia.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-6841\" src=\"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/IMG-20251024-WA0075-250x190.jpg\" alt=\"\" width=\"250\" height=\"190\" srcset=\"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/IMG-20251024-WA0075-250x190.jpg 250w, https:\/\/timurindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/IMG-20251024-WA0075-100x75.jpg 100w\" sizes=\"(max-width: 250px) 100vw, 250px\" \/><br \/>\nKarya-karya tersebut merupakan hasil Workshop Daya Ungkap Naskah bersama Satoko Ichihara (sutradara dan penulis Jepang) pada Festival Kala Monolog 2024, yang kemudian diterbitkan dalam buku Antologi Kota: Ingatan dan Ancaman, dan akan diluncurkan dalam edisi festival tahun ini.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MAKASSAR\u2013 Tahun ini, Festival Kala Monolog (FKM) berkolaborasi dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya, salah satu program prioritas nasional Kementerian Kebudayaan. Kolaborasi ini bertujuan untuk menjaring, mengembangkan, dan mempromosikan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":6839,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[1287],"tags":[1740,3369],"newstopic":[],"class_list":["post-6838","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-film","tag-kala-teater","tag-monolog"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6838","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6838"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6838\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6846,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6838\/revisions\/6846"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6839"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6838"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6838"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6838"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=6838"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}