{"id":7071,"date":"2025-11-10T17:58:28","date_gmt":"2025-11-10T09:58:28","guid":{"rendered":"https:\/\/timurindonesia.com\/?p=7071"},"modified":"2025-11-10T17:58:28","modified_gmt":"2025-11-10T09:58:28","slug":"objektivitas-sejarah-dan-kepahlawanan-di-momentum-hari-pahlawan-2025","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/timurindonesia.com\/objektivitas-sejarah-dan-kepahlawanan-di-momentum-hari-pahlawan-2025\/","title":{"rendered":"Objektivitas Sejarah dan Kepahlawanan di Momentum Hari Pahlawan 2025"},"content":{"rendered":"<p>MAKASSAR, 10 November 2025 \u2013 Peringatan Hari Pahlawan Nasional tahun ini kembali menjadi momentum refleksi bagi bangsa Indonesia untuk menilai ulang makna sejati dari sejarah dan kepahlawanan. Melalui tulisan berjudul \u201cObjektivitas Sejarah dan Kepahlawanan\u201d, tokoh masyarakat dan aktivis , Dahsyat mengajak publik untuk memahami bahwa sejarah dan gelar pahlawan seharusnya ditulis serta diberikan secara objektif dan berlandaskan nilai kebenaran.<\/p>\n<p>\u200eDalam pandangannya, sejarah menurut ilmu pengetahuan merupakan rekaman peristiwa masa lalu yang disusun secara ilmiah dan sistematis, dengan fokus pada aktivitas manusia sebagai makhluk sosial agar dapat memberi pelajaran bagi masa kini dan masa depan.<\/p>\n<p>\u200eSementara pahlawan, secara umum didefinisikan sebagai sosok yang gagah berani, rela berkorban untuk membela kebenaran, serta berbuat dengan ikhlas demi kepentingan orang banyak, bangsa, dan negara.<\/p>\n<p>\u200e Dahsyat menilai, penulisan sejarah sering kali tidak lepas dari kepentingan ideologi, politik, dan kekuasaan. \u201cSejarah sering dijadikan alat untuk membangun identitas nasional sesuai agenda politik tertentu,\u201d ujarnya. Karena itu, menurutnya, penulisan sejarah yang jujur, lengkap, dan objektif sangat penting agar masyarakat dapat belajar dari kesalahan masa lalu dan membangun peradaban yang lebih baik.<\/p>\n<p>\u200e\u201cSejarah seharusnya memberi ruang bagi semua suara, bukan untuk menghapus masa lalu, tetapi untuk melengkapi narasi yang ada,\u201d tulisnya.<\/p>\n<p>\u200eTerkait gelar kepahlawanan, Dahsyat menegaskan bahwa penentuannya harus bersumber pada sejarah yang utuh dan memenuhi aturan ketat berdasarkan nilai kebenaran, objektivitas, transparansi, serta kemanfaatan nyata bagi masyarakat.<\/p>\n<p>\u200eDalam momentum Hari Pahlawan 10 November 2025 ini, Presiden Prabowo Subianto atas nama negara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 40 tokoh yang dinilai berjasa bagi bangsa. Meski keputusan ini menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat, Dahsyat mengajak publik untuk menghormati keputusan negara.<\/p>\n<p>\u200e\u201cPahlawan itu bukan nabi yang hidup tanpa cacat dan dosa. Pahlawan tidak harus disukai semua orang, tetapi mereka yang telah berbuat baik dan berjasa bagi bangsa dan negara,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>\u200eIa menutup refleksi Hari Pahlawan tahun ini dengan pesan klasik namun sarat makna:<\/p>\n<p>\u200e \u201cBangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan jasa para pahlawannya.\u201dtutup Dahsyat<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MAKASSAR, 10 November 2025 \u2013 Peringatan Hari Pahlawan Nasional tahun ini kembali menjadi momentum refleksi bagi bangsa Indonesia untuk menilai ulang makna sejati dari sejarah dan kepahlawanan. Melalui tulisan berjudul&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":7072,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[1727],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-7071","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7071","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7071"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7071\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7073,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7071\/revisions\/7073"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7072"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7071"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7071"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7071"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=7071"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}