{"id":1381,"date":"2023-10-05T06:58:43","date_gmt":"2023-10-05T06:58:43","guid":{"rendered":"https:\/\/timurindonesia.com\/?p=1381"},"modified":"2023-10-05T07:04:52","modified_gmt":"2023-10-05T07:04:52","slug":"4-lokasi-sejarah-di-sulawesi-selatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/timurindonesia.com\/4-lokasi-sejarah-di-sulawesi-selatan\/","title":{"rendered":"4 Lokasi Sejarah di Sulawesi Selatan"},"content":{"rendered":"<p><strong>MAKASSAR<\/strong>, <strong>timurindonesia.com<\/strong> &#8211; Bagi Anda yang senang berwisata ke lokasi bersejarah, pilihan yang tepat jika bertandang ke Sulawesi Selatan.<\/p>\n<p>Ada banyak lokasi bersejarah yang dapat Anda kunjungi di Sulsel. Selain tempatnya yang indah, pengunjung juga dapat menambah wawasan.<\/p>\n<p>Berikut ini 4 lokasi wisata sejarah yang sapat menjadi referensi tempat liburan Anda.<\/p>\n<p><strong>1. Gong Nekara<\/strong><\/p>\n<p>Gong Nekara adalah benda purbakala yang masih terjaga asliannya.<\/p>\n<p>Benda ini ditemukan pada tahun 1868 di Dusun Bontobangun , Pulau Selayar.<\/p>\n<p>Gong perunggu buatan kebudayaan Dong Son terdapat di Sungai Merah Vietnam Utara.<\/p>\n<p>Gong ini diproduksi pada sekitar 600 tahun sebelum masehi atau sebelumnya, sampai abad ketiga masehi. <\/p>\n<p>Peninggalan sejarah Gong Nekara diyakini merupakan nekara tertua di Asia Tenggara. Nekara tersebut ditemukan oleh penduduk Kampung Rea-rea yang bernama Sabuna.<\/p>\n<p>Gong tersebut bermotif unik. Bergambar flora dan fauna berupa \u00a016 ekor gajah, 54 ekor burung, 11 pohon sirih, 18 ekor ikan. Pada permukaan gong, terdapat 4 arca yang berbentuk kodok dengan panjang 20 cm dan 4 daun telinga yang berfungsi sebagai pegangan.<\/p>\n<p><strong>2. Taman Arkeologi Leang-leang<\/strong><\/p>\n<p>Leang-leang merupakan taman purbakala yang berlokasi di Kabupaten Maros.<\/p>\n<p>Kata &#8220;Leang-leang&#8221; bermakna &#8220;gua&#8221;. Para arkeolog berpendapat bahwa beberapa gua yang terdapat di sekitar kawasan tersebut pernah dihuni manusia sekitar 3.000-8.000 tahun SM.<\/p>\n<p>Di tempat ini lukisan prasejarah berupa gambar babi rusa yang sedang melompat, puluhan gambar telapak tangan yang ada pada dinding-dinding gua dan beberapa bukti autentik lainnya.<\/p>\n<p><strong>3. Gua Passea<\/strong><\/p>\n<p>Gua Passea merupakah salah satu destinasi wisata sejarah yang berlokasi di Bulukumba, Sulawesi Selatan. <\/p>\n<p>Gua Passea artinya gua tempat orang bersedih karena kawasan ini merupakan tempat pemakaman pada masa tersebut. Gua Passea juga dipenuhi dengan benda arkeologis tradisi megalitihik.<\/p>\n<p>Di dalamnya terdapat beberapa peninggalan berumur ratusan tahun. Konon, tempat ini dihuni oleh manusia sejak abad ke-8 sebelum masehi.<\/p>\n<p><strong>4. Fort Rotterdam<\/strong><\/p>\n<p>Lokasi sejarah yang saru ini terletak di jantung Kota Makassar.<\/p>\n<p> Fort Rotterdam atau \u00a0Benteng Rotterdam terletak di Jalan Ujung Pandang, benteng ini adalah salah satu peninggalan sejarah Kerajaan Gowa-Tallo.<\/p>\n<p>Namun, pada tahun 1667 Kerajaan Gowa menyerahkan Benteng Ujung Pandang kepada Belanda. Sejak pasukan Belanda menempati benteng itulah, nama Benteng Ujung Pandang berubah menjadi\u00a0Fort Rotterdam\u00a0hingga sampai saat ini.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MAKASSAR, timurindonesia.com &#8211; Bagi Anda yang senang berwisata ke lokasi bersejarah, pilihan yang tepat jika bertandang ke Sulawesi Selatan. Ada banyak lokasi bersejarah yang dapat Anda kunjungi di Sulsel. Selain&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":1382,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[12],"tags":[461,592,751,661],"newstopic":[],"class_list":["post-1381","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-travelling","tag-peninggalan-sejarah","tag-sulsel","tag-traveling","tag-wisata"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1381","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1381"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1381\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1384,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1381\/revisions\/1384"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1382"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1381"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1381"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1381"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=1381"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}