{"id":687,"date":"2017-10-12T16:09:44","date_gmt":"2017-10-12T16:09:44","guid":{"rendered":"http:\/\/timurindonesia.com\/?p=687"},"modified":"2017-10-12T16:09:44","modified_gmt":"2017-10-12T16:09:44","slug":"kopi-bisang-surga-di-kaki-latimojong","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/timurindonesia.com\/kopi-bisang-surga-di-kaki-latimojong\/","title":{"rendered":"Kopi\u00a0Bisang\u00a0Surga di Kaki Latimojong"},"content":{"rendered":"<p>Bahan boleh sama. Tapi proses, rasa, dan cara menyuguhkan yang berbeda. Itulah yang ditawarkan\u00a0kopi\u00a0bisang. Selain rasanya tak kalah dengan\u00a0kopi luwak, cara menyajikannya pun beda.<\/p>\n<p>Biasanya minum kopi menggunakan cangkir atau gelas, saat meminum kopi bisang akan disuguhkan dengan batok kelapa.<\/p>\n<p>Disebut\u00a0kopi\u00a0bisang\u00a0karena,\u00a0kopi\u00a0ini dihasilkan dari gumoh (muntahan)\u00a0bisang, binatang endemik Sulawesi Selatan. Bisang\u00a0sejenis binatang pengerat, laiknya Luwak atau Musang (<em>Paradoxurus Hermaphrodirus<\/em>).<\/p>\n<p>Tubuhnya sedikit lebih kecil dari luwak. Jika warna luwak didominasi warna hitam, maka warna cokelat buram menjadi ciri khas\u00a0Bisang. Ekornya pun tak sepanjang Luwak.\u00a0\u00a0Kopi\u00a0Bisang\u00a0ini hanya bisa ditemukan di Kecamatan Latimojong, Luwu.<\/p>\n<p>Menariknya,\u00a0bisang\u00a0hanya akan muntah jika pada sore hari setelah pagi harinya ia memakan\u00a0kopi. Muntahannya pun di letakkan pada tempat-tempat tertentu saja. \u201cJika\u00a0kopi\u00a0luwak diproduksi dari kotoran binatang luwak, maka\u00a0kopi\u00a0bisang\u00a0diperoleh dari muntahan\u00a0Bisang.<\/p>\n<p>Kopi\u00a0yang di makan\u00a0Bisang\u00a0di Latimojong, awalnya tumbuh liar di sejumlah desa. Namun setelah mengetahui dan telah merasakan\u00a0kopi\u00a0bisang, pelan-pelan masyarakat mulai serius memperhatikan tanaman kopinya,\u201d ujar Basir, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Luwu pada waktu itu wawancara tahun 2015.<\/p>\n<p>Menurut Basir,\u00a0\u00a0tanaman\u00a0kopi\u00a0di Latimojong umumnya tumbuh di Desa Lambanan, Posi, Tibussang, Pajang, Ulusalu, Bone Posi. \u201cDi situlah pusat tanaman\u00a0kopi. Informasi\u00a0kopi\u00a0bisang\u00a0ini awalnya kami peroleh dari informasi masyarakat sekitar, yang menceritakan bahwa kopinya sering dimakan binatang yang menyerupai kus-kus. Juga dibagian bawah tanaman\u00a0kopi, banyak dijumpai kotoran binatang itu yang bercampur biji\u00a0kopi. Masyarakat lalu iseng-iseng mengolah biji\u00a0kopi\u00a0tersebut hingga menjadi bubuk\u00a0kopi. Ternyata setelah diseduh, rasanya sangat nikmat,\u201d cerita Basir.<\/p>\n<p>Untuk mempatenkan\u00a0Kopi\u00a0Bisang\u00a0sebagai salah satu kekayaan Luwu. Pemerintah Kabupaten Luwu telah memiliki dua hak paten, dari Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) yaitu lisensi atas nama\u00a0kopi\u00a0Bisang\u00a0dan\u00a0KopiLatimojong. \u201cKita tidak mau\u00a0kopi\u00a0Bisang\u00a0ini bernasib sama dengan\u00a0kopi\u00a0luwak. Semua bebas memproduksi atas nama\u00a0kopi\u00a0luwak.<\/p>\n<p><strong>Kopi\u00a0Lokal Kualitas Internasional<\/strong><\/p>\n<p>Anda termasuk pencinta\u00a0kopi\u00a0atau sekadar penikmat saja? Bagaimana dengan sensasikopi\u00a0khas Tana Toraja, Enrekang, dan Luwu? Ketiganya memang nikmat di seruput bukan? Inilah produk\u00a0kopi\u00a0khas Sulawesi Selatan dengan kualitas internasional.<\/p>\n<p>Kopi\u00a0asal Tana Toraja memang sudah lama jadi primadona dan telah menjadi merk dagang khas daerah ini. Terkenal di seluruh daerah bahkan ke tingkat internasional.\u00a0Aroma\u00a0\u00a0kopi\u00a0jenis Arabika sangat menggoda, dan memberikan sensasi tersendiri bagi penikmatnya.<\/p>\n<p>Tidak heran jika,\u00a0kopi\u00a0tersebut\u00a0\u00a0di ekspor ke Jepang dan Amerika. Bahkan\u00a0kopi\u00a0ini, mengungguli Brazil dan Vietnam.\u00a0\u00a0Hal ini tentu tidak lepas dari\u00a0rekor yang telah dipecahkan\u00a0kopi\u00a0Toraja sebagai\u00a0kopi\u00a0termahal yang pernah dijual tahun 2012 silam.<\/p>\n<p>Tidak tanggung-tanggung Jepang, Taiwan dan Korea tidak ragu membeli walaupun masih dalam bentuk biji\u00a0kopi\u00a0hijau alias masih mentah.<\/p>\n<p>Harganya US$ 45\/kg, padahal saat itu harga\u00a0kopi\u00a0rata-rata hanya US$ 6-8\/kg.\u00a0\u00a0Akibat harganya yang mahal, Toraja Sapan kini sejajar dengan\u00a0kopi\u00a0mahal lainnya seperti Kilimanjaro\u00a0<em>Coffee<\/em>\u00a0dan Columbia Supremo. Toraja Sapan masuk ke dalam jenis\u00a0<em>specialty coffee<\/em>\u00a0atau\u00a0kopi\u00a0spesial.<\/p>\n<p>Untuk menikmati secangkir\u00a0kopi\u00a0mahal ini tidak perlu jauh-jauh ke Tana Toraja. Anda bisa mendapatkannya di beberapa warung\u00a0kopi\u00a0(warkop),\u00a0<em>cafe<\/em>, hingga restoran berkelas lainnya. Antara lain di warkop phoenam, Dg sija\u2019, warkop Bundu, dan restoran CCR.<\/p>\n<p>Soal harga memang cukup terjangkau. Rata-rata dipatok Rp10 ribu untuk\u00a0kopi\u00a0plus susu dan Rp8.000 saja untuk\u00a0kopi\u00a0hitam tanpa susu.<\/p>\n<p>Kendati demikian, harga ini menjadi dua kali lipat ketika Anda menikmatinya di restoran. Sebab hasil seduhan menggunakan mesin modern, ditambah suasana yang tidak Anda temukan di warkop. Harganya dibanderol Rp23 ribu per gelasnya.\u00a0<strong>andi amriani<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bahan boleh sama. Tapi proses, rasa, dan cara menyuguhkan yang berbeda. Itulah yang ditawarkan\u00a0kopi\u00a0bisang. Selain rasanya tak kalah dengan\u00a0kopi luwak, cara menyajikannya pun beda. Biasanya minum kopi menggunakan cangkir atau&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":704,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[295,331,598],"newstopic":[],"class_list":["post-687","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-kopi-bisang","tag-luwu-timur","tag-surga-di-kaki-latimojong"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/687","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=687"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/687\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=687"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=687"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=687"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/timurindonesia.com\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=687"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}