Makassar – Bulan Ramadan sering kali hanya dipandang sebagai momentum memburu pahala dan melipatgandakan amalan zahir. Namun, dalam sebuah ceramah mendalam yang baru-baru ini dishare di youtube, Abuya Dr. KH. Mohammad Rusfi, M.Ag, membedah sisi lain Ramadan yang jarang diketahui awam, yakni sebagai sarana Makrifatullah atau mengenal Allah secara hakiki.
Dalam penyampaiannya yang menyejukkan, Abuya Rusfi menegaskan bahwa beragama tidak boleh berhenti pada “kulit” atau syariat saja. Beliau menganalogikan agama seperti buah apel.
“Islam itu kulitnya, Iman itu isinya, dan Ihsan (Tasawuf) itu rasanya. Bagaimana mungkin kita menikmati buah jika hanya memegang kulitnya saja? Wajah kita jadi sangar karena hanya bicara halal-haram dan surga-neraka, tanpa merasakan manisnya kasih sayang Allah,” ujar Abuya Rusfi dalam video tersebut.
Salah satu poin paling menarik adalah pembagian tingkatan puasa. Menurut Abuya, jika puasa syariat hanya menahan lapar dari fajar hingga maghrib, maka ada Puasa Tarekat yang durasinya adalah seumur hidup. Puasa ini menuntut seseorang untuk menjaga seluruh anggota tubuhnya dari dosa hingga ajal menjemput.
Beliau juga menyentil fenomena “Orang berpuasa tapi berbuka”, yaitu mereka yang menahan lapar namun tetap melakukan korupsi, berbohong, atau melakukan maksiat lainnya.
Membongkar Rahasia Lailatul Qadar di Balik Angka Ganjil
Abuya Rusfi juga memberikan perspektif baru tentang pencarian Lailatul Qadar. Alih-alih hanya menunggu fenomena alam, beliau mengajak jemaah untuk “mengkaji diri” melalui angka-angka malam ganjil.
“Jika Lailatul Qadar (Makrifat) itu datang, maka angin masalah dalam hidupmu akan berhenti berhembus. Kamu akan menjadi tenang karena yang kamu lihat bukan lagi masalahnya, melainkan Allah yang memberi masalah tersebut,” tambahnya.
Ceramah ini menjadi pengingat bagi kita semua agar Ramadan tahun ini tidak berlalu begitu saja sebagai rutinitas tahunan, melainkan menjadi perjalanan pulang menuju Allah SWT.










