Mengenang WR Supratman, 80 Tahun Indonesia Merdeka

  • Bagikan

Delapan puluh tahun Indonesia Merdeka, ada satu nama yang selalu hidup di setiap pengibaran bendera merah putih pada perayaan hari kemerdekaan.

WR Supratman, nmanya mungkin tak selalu disebut lantang dalam pidato-pidato kenegaraan, tetapi karyanya terus mengalun, menyatukan hati bangsa dari Sabang sampai Merauke.

Dialah pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, sebuah nyanyian yang tidak hanya menggetarkan jiwa, tetapi juga menjadi penanda kelahiran sebuah bangsa.

Lagu Indonesia raya selalu menjadi latar yang tak tergantikan, ia mengikat jutaan rakyat dalam satu rasa yang sama yakni cinta tanah air.
Dari upacara bendera di sekolah, perayaan desa, hingga detik-detik proklamasi di Istana Negara, Indonesia Raya selalu hadir sebagai penanda bahwa kemerdekaan ini bukan sekadar hadiah, melainkan hasil dari perjuangan panjang.

Data yang dihimpun dari berbagai sumber, menjelaskan bahwa WR Supratman menulis lagu ini bukan di masa merdeka, melainkan ketika bangsa masih berada dalam belenggu kolonial.
Tahun 1928, pada Kongres Pemuda II, Indonesia Raya pertama kali diperdengarkan lewat gesekan biola. Tidak ada yang menyangka bahwa alunan sederhana itu akan menjadi nyanyian agung bangsa. Tetapi saat nada-nada itu mengalun, seakan lahir satu jiwa baru bagi Indonesia yakni jiwa persatuan.

Generasi muda hari ini mungkin tidak lagi mengenal WR Supratman secara dekat. Nama itu hanya disebut di buku pelajaran, tetapi melalui Indonesia Raya, mereka masih bisa merasakan semangatnya. Lagu yang diciptakan WR Supratman sebagai jembatan sejarah, yang menghubungkan masa lalu penuh perjuangan dengan masa depan penuh harapan.

Setiap bait Indonesia Raya bukan sekadar lirik, melainkan doa. “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya.” Kalimat itu seakan menegaskan bahwa merdeka tidak cukup dengan mengibarkan bendera, tetapi juga membangun manusia Indonesia berilmu, bermoral, dan berkarakter.

Kini, 80 tahun sudah kita merdeka. Tetapi apakah kita sudah sungguh-sungguh membangun jiwa dan badan bangsa? Pertanyaan itu layak kita renungkan setiap kali Indonesia Raya dikumandangkan. Karena lagu itu bukan sekadar pengingat sejarah, melainkan arah yang harus terus kita tuju.

Siapakah WR Supratman?

Dilansir dari wikipedia, Wage Rudolf Soepratman lahir di Meester Cornelis (sekarang Jatinegara), pada 9 Maret 1903. Ia adalah anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Ayahnya bernama Djoemeno Senen Sastrosoehardjo, seorang tentara KNIL Belanda, dan ibunya bernama Siti Senen.Setelah berusia enam tahun, ia masuk sekolah Boedi Oetomo di Batavia. Namun, ibunya meninggal dunia sehingga dia tidak menyelesaikan pendidikannya.

Dalam buku berjudul Wage Rudolf Soepratman karya Anthony C Hutabarat, dijelaskan bahwa Djoemeno Senen Sastrosoehardjo membesarkan anak-anaknya dengan tata cara islam, dan semua anaknya beragama islam.

Pada tahun 1914, Soepratman dibawa oleh kakaknya yang tertua Roekijem Soepratijah dan kakak iparnya Willem van Eldik ke Makassar. Dia dimasukkan ke sekolah Belanda, ELS (Europese Lagere School), setelah menambahkan namanya dengan “Rudolf” sebagai suatu siasat, supaya diterima disekolah tersebut.Namun, tidak lama belajar di sekolah itu, Supratman di keluarkan sebab diketahui bukan anak kandung William Van Eldik.

Tanpa sepengetahuan kakaknya dia mengenyam pendidikan di sekolah Melayu, di sana Supratman sangat rajin belajar bahkan tipa tahun naik kelas dengan nilai yang sangat memuaskan. Pada usia 20 tahun, ia mengawali kiprahnya sebagai guru di Sekolah Angka 2. Dua tahun kemudian, ia berhasil meraih ijazah Klein Ambtenaar, sebuah pencapaian penting pada masa itu. Setelahnya, ia sempat bekerja di sebuah perusahaan dagang, hingga akhirnya perjalanan hidup membawanya meninggalkan Makassar menuju Bandung.

Di kota itu, ia menekuni profesi sebagai wartawan pada harian Kaoem Moeda dan Kaoem Kita, dua media yang menjadi corong pemikiran kaum muda kala itu. Pekerjaan jurnalistik ini tetap ia jalani meskipun kemudian ia pindah ke Batavia. Justru di sanalah ketertarikannya terhadap pergerakan nasional semakin kuat. Lingkaran pergaulannya pun meluas, mempertemukannya dengan banyak tokoh pergerakan yang kelak turut menginspirasi perjuangan bangsa.

Sewaktu tinggal di Makassar, Soepratman mendapat pelajaran musik dari kakak iparnya, Willem van Eldik. Dari sanalah ia mulai pandai memainkan biola dan akhirnya mampu menggubah lagu. Saat menetap di Batavia, ia pernah membaca sebuah karangan di majalah Timbul yang menantang para musikus Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan. Tantangan itu membangkitkan semangatnya, hingga kelak menjadi awal lahirnya karya besar yang dikenang sepanjang masa.

lagu Indonesia Raya lahir, saat WR Supratman berusia 21 tahun. Saat itu, doa sedang berada di Bandung, lahirlah karyanya yang sampai saat ini menjadi lagu kebangsaan Indonesia Raya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *