Gubernur Sulsel Jamin Stok Gula di Sulsel

14
Bagikan via
Gubernur Sulsel bersama kaukus perempuan parlemen se Sulsel

Oleh: Akbar

Timurindonesia.com, Makassar – Gubernur Sulawesi Selatan, Prof Nurdin Abdullah menjamin ketersediaan gula di wilayah Sulsel. Dia juga angkat bicara soal isu stok gula di Sulsel hanya bertahan selama 10 hari kedepan.

“Tidak usah ragu, gak usah ragulah, kebutuhan gula kita masih cukup. Bagaimana ketersediaan gula di Sulsel itu tugas kita,” kata Nurdin saat ditemui di gedung DPRD Sulsel, Jumat (13/3).

Menurut Nurdin, saat ini pihaknya masih melakukan pengecekan di distributor gula pasir dan di pengecer. Pengecekan tersebut dilakukan, kata Nurdin, untuk mengantisipasi adanya indikasi penimbunan gula pasir dalam jumlah banyak.

“Sekarang kita lagi cek, apakah  stoknya yang kurang ataukah ada yang menimbun, itu lagi yang kita cek, tunggu aja hasilnya,” jelas mantan bupati Bantaeng dua periode ini.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perdagangan Sulsel, Hadi Basamalah, mengatakan, bahwa data saat ini, sebanyak 3.000 sampai 4.000 ton stok gula yang ada di PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XIV . Namun jumlah tersebut, kata Hadi, hanya tahan dalam jangka waktu dua pekan.

“Stok kita hari ini kurang lebih 3000 ton, ketahanannya nggak sampai 10 hari.
Jadi yang pertama gula yang ada di Sulawesi Selatan hari ini, yang dimiliki oleh PTPN, distributor dan lain-lain. Untuk tidak dibawa keluar (dari wilayah Sulsel), dijual,” kata Hadi usai rapat dengar pendapat di gedung DPRD Sulsel, Kamis (12/3) kemarin.

Hadi menyebutkan, terjadinya kekurangan stok gula atau kondisi terbatas yang mengalami defisit hingga 90 ribu ton. Bila melihat kondisi tiga pabrik gula di Sulsel yakni di PGB Arasoe, PGB Camming Kabupaten Bone, dan Pabrik Gula di Takalar, hanya bisa memproduksi 30 ribu ton per tahun.

“Sementara kebutuhan serapannya sekitar 120 ribu ton, itu pun bisa naik antara 10-15 persen di peak season (musim puncak),” sebut Hadi Basalamah.

Namun,  neraca gula Sulsel, PT PTPN XIV yang sekarang ditangani PTPN IX, produksi yang dihasilkan masih minim, sedangkan permintaan cukup tinggi.

Selain itu, gula yang diambil dari dalam negeri tidak mencukupi permintaan pasar sehingga rencana impor gula dari negara lain diputuskan untuk menambah kekurangan.

Leave a Reply