Kapal Pesiar dari Australia Sandar di Makassar, Ini Kata Anggota DPRD Sulsel

19
Bagikan via

Timurindonesia.com, Makassar – Anggota DPRD Sulsel, Andi Rachmatika Dewi, angkat bicara perihal sandarnya kapal pesiar MS Coral Adventure asal Australia┬ádi pelabuhan Soekarno Hatta, Rabu (11/3) malam. Kapal pesiar tersebut membawa sedikitnya 78 orang, terdiri dari 34 awak kapal dan 44 penumpang.

Sebelumnya, kapal tersebut mendapat penolakan di kota Palopo, Sulsel, karena kekhawatiran pemerintah setempat terkait virus Corona atau Covid-19.
“Sebenarnya kita tidak mau menolak wisatawan asing masuk ke Makassar. Tetapi dibutuhkan pengawasan, dari pihak pelabuhan dan juga dinas kesehatan untuk mengantisipasi wisatawan asing ini apakah terjangkit virus, dan ini perlu mendapat perhatian khusus,” kata ketua Komisi B DPRD Sulsel ini, Kamis (12/3).

Apalagi, kata Rachmatika, Australia asal kapal pesiar itu merupakan negara yang turut terpapar virus dari Wuhan.
“Jangan sampai kita tertular virus dari kedatangan mereka. Karena Australia salah satu negara yang cukup tinggi penderita virus Korona,” katanya.

Menurut informasi, kapal pesiar MS Coral sudah cukup lama keliling di beberapa wilayah di Indonesia. Pada 27 Februari lalu, pemerintah kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, melakukan pemeriksaan terhadap penumpang kapal, dan mereka negatif dari Covid – 19.
Kapal pesiar MS Coral, menurut informasi, sudah mengantongi kartu Kewaspadaan Kesehatan atau Health Alert Card untuk membuktikan bahwa mereka dinyatakan sehat.

Tapi, politikus partai Nasdem ini mengatakan, pemerintah seharusnya tetap mewaspadai penyebaran virus mematikan tersebut. Pasalnya, lanjut Rachmatika, Covid-19 mampu berkembang setiap harinya.

“Artinya kan, kita tidak bisa semerta – merta menerima data tersebut, karena kan virus ini berkembang perhari. Dalam artian, saat mereka berangkat dinyatakan sehat, tapi mungkin saja dalam perjalanan bisa terjadi (terkena Covid-19), kan kita tidak tahu,” beber politikus yang kerap disapa Cicu.

Terkait penolakan kapal pesiar MS Coral di kota Palopo, Cicu menuturkan, kemungkinan pemerintah setempat tidak memiliki alat pendeteksi Covid-19. Ataukah lebih kepada untuk mengantisipasi penyebaran virus menakutkan itu.

“Mungkin mereka tidak bersedia menerima karena Sumber Daya Manusia yang kurang dalam mengantisipasi, dan juga alat yang tidak ada untuk mengecek virus tersebut. kita berharap kalau Makasssar bersedia. Artinya, Makassar siap dengan beberapa langkah preventif yang ada,” jelasnya.

Leave a Reply