Keluarkan Rekomendasi, PKS Minta Deng Ical Cari Pendamping

24
Bagikan via

timurIndonesia.com, Makassar – Partai Keadilan Sejahtera telah mengeluarkan rekomendasi kepada Syamzu Rizal (Deng Ical) di pemilihan wali kota Makassar 2020. Dalam surat tugas tersebut Deng Ical diberi waktu untuk mencari pendamping hingga 31 Maret.

Ketua DPW PKS Sulsel, Surya Dharma mengatakan, pihaknya tidak akan melepas begitu saja Deng Ical. Untuk pendamping menyerahkan sepenuhnya kepada mantan wakil wali kota Makassar periode 2014-2019 itu.

“Kita berikan kesempatan beliau. Karena sampai sekarang beliau tidak menyebut paketnya dan partai apa yang menjadi pelengkap dari PKS,” kata Surya Dharma di Makassar, Kamis (5/3) malam.

“Ibarat pesawat, ini sudah lengkap ada kabin, ada pilot, kita sisa mencari satu mesin lagi. Dan kita akan bahu membahu mencari mesin itu. Karena tidak mungkin kita lepaskan begitu saja,” jelasnya.

Menurut Surya, ada empat kandidat yang direkomendasikan ke Dewan Pimpinan Pusat, yakni, Moh Ramdhan Pomanto, Irman Yasin Limpo, Deng Ical dan Munafri Arifuddin. Kata Surya, PKS memilih Deng Ical karena memiliki mesin politik yang bagus dan kesamaan visi – misi.

“Secara visi, lewat lobi-lobi dengan teman, dekat lah dengan PKS visi misinya. Beliau ini punya pengalaman, dia pernah legislator dan mantan wakil wali kota. Jadi modal itu yang utama, jadi paham dengan peta Makassar, sosial politik. Dan survei internal kami dia yang terbaik, sangat siginifikan hasil presentasenya,” kata Surya.

“Orang kalau mesin politiknya bagus, kalaupun rendah itu bisa di full up dia punya presentase. Itu bisa, yang penting mesin politiknya bagus. Apalagi memang kalau orangnya sudah populer. Lima tahun jadi wakil wali kota minimal kenal RT RW di mana mana,” bebernya.

Diketahui, beberapa kader PKS turut mengikuti penjaringan untuk maju di Pilwali Makassar, seperti, Andi Mustaman dan Muhammad Iqbal Djalil (Ustad Ije). Tapi keduanya, kata Surya, tidak memiliki suara signifikan dari survei internal.

“Di antaranya yang terjaring namanya, ada Andi Mustaman, Anwar Faruk, Sri Rahmi dan Iqbal Djalil. Tapi kita harus realitas pada survei, karena tidak signifikan. Kalau dari kacamata, kita politisi. Kita harus realistis tidak boleh paksakan sesuatu yang mungkin pada akhirnya tidak memberikan warna yang siginfikan,” katanya.

Leave a Reply