Kasus Penipuan dan Penggelapan, Saksi Sebut Iptu Yusuf Pinjam Uang Rp 1 Miliar untuk Bayar Tukin

16
Bagikan via

timurIndonesia.com, Makassar – Kasus dugaan penipuan dan penggelapan uang senilai Rp1 miliar yang menyeret mantan bendahara Brimob Polda Sulsel, IPTU Yusuf Purwantoro, memasuki sidang keempat di Pengadilan Negeri Makassar, Rabu (4/3/2020). Dalam sidang itu, satu saksi fakta dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Saksi yang merupakan adik kandung korban A Wijaya, A As’ad mengaku, saat Iptu Yusuf meminjam uang dia beralasan ingin membayar Tunjangan Kinerja (Tukin) Brimob Polda Sulsel pada 23 Mei 2018 lalu.

“Pak Yusuf datang ke rumah di Sidrap.
Saya dengar pembicaraan mereka.
Pak Yusuf meminjam uang satu miliar, ke kakak saya (A Wijaya),” katanya.

Diakui A As’ad, saat proses peminjaman dia mendengar percakapan antara Iptu Yusuf dan A Wijaya. Kata A As’ad, Iptu Yusuf berjanji akan mengembalikan uang tersebut dalam tenggak waktu satu pekan kemudian.

“Janjinya Pak Yusuf satu pekan dia kembalikan uang (yang dipinjam). Katanya, untuk membayar tukin. Kalau tidak membayar tukin dia dipecat,” kata As’ad saat memberikan keterangan di muka sidang.

A As’ad mengaku, uang yang dipinjam Iptu Yusuf dari kakaknya diambil dari tante A Wijaya. Setelah itu, Iptu Yusuf tak kunjung mengembalikan uang tersebut hingga saat ini.

A As’ad menjelaskan, untuk mengembalikan uang senilai Rp1 miliar tersebut. A Wijaya harus menggadaikan sertifikat rumah ke bank untuk menebus uang yang dipinjam Iptu Yusuf.

“Uangnya tante, kakak pinjam ke tante.
Dia jaminkan sertifikat rumah ke bank untuk mengganti uang ke tante,” kata As’ad menjawab pertanyaan salah satu majelis hakim terkait uang senilai Rp1 miliar tersebut.

Dalam persidangan, Iptu Yusuf sempat melayangkan bantahan terkait kesaksian A As’ad. Menurutnya, A As’ad tidak berada di tempat saat proses peminjaman dan dilakukan sebelum Mei 2018 lalu.

“Saya ke rumah (A Wijaya) sebelum bulan puasa (Mei) dan saat itu saya hanya berdua (A Wijaya),” kata Iptu Yusuf.
“Saya dengar pembicaraan mereka,” tegas As’ad. Saat itu, kata As’ad, dia berada di salah satu ruangan dan mendengar pembicaraan A Wijaya dan Iptu Yusuf.

A As’ad juga mengaku, uang senilai Rp1 miliar tersebut dibayar secara tunai melalui transfer. “Saya diperlihatkan kakak saya bukti (struk transfer) dan dikirim ke rekening atas nama Pak Yusuf,” katanya.

Sementara, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Ridwan Sahputra menilai, sanggahan Iptu Yusuf terkait proses peminjaman uang, tidak memiliki pengaruh signifikan.

“Tapi di sini (sanggahan Iptu Yusuf) bukan masalah. Yang jelas tujuannya datang pinjam uang pada 23 Mei. Kebetulan saksi dengar percakapan mereka pada 23 Mei. Dan saksi juga tetap pada keterangan awal,” kata Ridwan.

Sebelumnya, Iptu Yusuf didakwa pasal 378 KUHP atas penggelapan dan penipuan dengan ancaman empat tahun penjara.

Sidang yang dipimpin Zulkifli dan didampingi Heyneng dan Suratno tersebut berjalan singkat di ruang Bagir Manan. Selanjutnya, sidang selanjutnya bakal digelar 9 Maret nanti dengan agenda mendengar keterangan saksi dari terdakwa.

Leave a Reply