Mengulik Sejarah Benteng Rotterdam di Pentas Seni Tari

14
Bagikan via

Makassar, Timurindonesia.com — Seni pertunjukan di Makassar khususnya seni tari terus mengalami perkembangan dari masa ke masa. Salah satu pagelaran tari bertajuk A’karena ri Benteng Panyua pun akan segera dipertontonkan akhir Agustus mendatang di Benteng Rotterdam.

“Jangan lewatkan, pertunjukan tari ini akan digelar di Fort Rotterdam pada hari Rabu 28 Agustus 2019 Pukul 19.30 wita. Anda akan mengalami peristiwa artistik yang menarik dan inspiratif selama pertunjukan ini berlangsung, ” kata Nurlina Syahrir Koreografer Tari A’karena ri Benteng Panyua.

Menurutnya, karya ini mengisahkan tentang sejarah Benteng Pannyua atau biasa juga disebut benteng Ujung Pandang. Benteng Ujung Pandang yang dibangun oleh oleh Raja Gowa X Karaeng Tumapakrisi, Diambilalih oleh Belanda melalui Perjanjian Bongayya 18 November 1667. Kemudian benteng tersebut menjadi pusat perdagangan dan militer. Saat bersamaan Benteng Pannyua/Benteng Ujung Pandang berubah menjadi Fort Rotterdam.

“Pertunjukan tari A’karane ri Benteng Pannyua yang berakar dari mitos atau tradisi Pakarena memperlihatkan bagaimana kesenian tari memiliki hubungan sejarah, sosial, budaya dan politik dengan benteng Pannyua dan lingkungan sekitarnya di masa lalu dan masa kini, ” kata Nurlina yang juga peneliti tari tradisional “Pakarena” Sulawesi Selatan.

Dekan Fakultas Seni Dan Desain UNM ini juga menjelaskan, ada lima struktur dramatik dalam karya ini yang akan dipentaskan pada hari Rabu, 28 Agustus 2019 Pukul 19.30 WITA di Benteng Fort Rotterdam. Yang pertama adalah “Amuntuli Aparrapa Empo” dalam tradisi Makassar untuk menyambut dan mengiringi tamu menuju ke tempat duduk sebelum acara dimulai.

Selanjutnya ke dua, “Tomanurung Menitiskan Assulapa Appa” menggambarkan mitos Tomanurung, seperti cahaya turun dari langit (boting langi) ke bumi (lino). Ke tiga “Karenang Bate Salapang”, Bate Salapang adalah majelis yang memilih dan melantik raja.

Kemudian ke empat “Komunitas Kota yang Kosmopolitan”. Dan yang terakhir adalah “A’karena dalam Pusaran Waktu” Menggambarkan tentang kesabaran, ketabahan, keteguhan manusia Makassar dalam mengarungi pusaran waktu yang lalu, kini, dan bahkan yang akan datang.

Produksi pertunjukan A’karena ri Benteng Panyua yang dipimpin oleh Misbahuddin, melibatkan beberapa seniman-seniman dalam tim produksi. Dramaturgi oleh Ram Prapanca, Asisten Koreografer Bau Salawati, Penata Musik Maskur Al Alief, Memet Chaerul Selamet dan Dg. Serang. Penata Cahaya oleh Sukma Silanan dan Mustakim. Penata Artistik oleh Is Hakim. Stage Manager oleh Prusdianto, Design Grafis oleh Irfan Arifin. Mapping, oleh A.P.E Motion Bali. (haryudi)

Leave a Reply