Shafiyyah binti Huyay, Istri Rasul yang Benarkan Islam

39
Bagikan via

Oleh: Indrawati

Berlatar belakang sebagai kaum Yahudi membuat Ummul Mukminin, Shafiyyah binti Huyay sering kali mendapat sindiran dari beberapa sahabat terkait statusnya. Bahkan Shafiyyah pernah menangis karena Aisyah dan Hafsah, istri Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam yang lain menyindirnya sebagai wanita Yahudi.

Rasulullah pun menghiburnya dengan berkata: “Mengapa tidak kau katakan bahwa aku lebih baik dari kamu. Ayahku Harun, pamanku Musa, dan suamiku Muhammad Shalallahu Alahi Wasallam.”

Dalam beribadah, Shafiyyah berusaha mengejar ketertinggalannya dalam berislam. Oleh karenanya, setiap waktu selalu digunakan untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Ia adalah orang yang sangat jujur, berkata apa adanya, hatinya bersih, dan tulus.

Bahkan dikisahkan ketika Rasulullah mengambil keputusan untuk memerdekakan dan menikahi Shafiyyah, Nabi Shalallahu Alahi Wasallam bersabda: “Pilihlah! Jika engkau memilih Islam, aku akan menikahimu. Dan jika engkau memilih agama Yahudi, Insya Allah aku akan membebaskanmu supaya engkau bisa bergabung dengan kaummu,” tawar Rasulullah dengan bijaksana.

“Ya Rasulullah, Aku telah menyukai Islam dan membenarkanmu sebelum engkau mendakwahiku. Aku tidak meyakini agama Yahudi. Orangtua dan saudara-saudaraku pun telah tiada. Allah dan Rasul-Nya lebih aku sukai daripada dibebaskan untuk kembali kepada kaumku,” jawab Shafiyah tegas.

Setelah Rasulullah wafat, latar belakang Shafiyyah sebagai Yahudi semakin sering terdengar. Namun ia tetap tegar dan membuktikan kesetiaannya pada Islam dengan membantu Khalifah Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Shafiyah wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Sufyan sekitar tahun 50 Hijriyah. Jenazahnya dimakamkan di Baqi, berdampingan dengan makam istri Rasulullah yang lain.

Berhati Bersih

Zaid bin Aslam menuturkan bahwa ketika Rasulullah sakit yang kemudian mengantarkan ajalnya, Shafiyyah binti Huyay Radiallahu Anha berkata: “Wahai Nabi, sesungguhnya aku lebih senang jika penyakit yang menimpahmu pindah ke tubuhku.”

Istri-istri Nabi yang lain memberi isyarat setengah mencibirnya. Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam menatap mereka dan berkata: “Muntahkanlah.” Mereka bertanya, apa yang harus kami muntahkan? Nabi menjawab: “Cibiran kalian terhadap Shafiyyah. Demi Allah, ia telah berkata jujur kepadaku.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, vol. 8 hlm. 128. Para perawinya tsiqah, tapi mursal).

Kesaksian Rasulullah telah menunjukkan keagungan Ummul Mukminin, Shafiyyah Radiallahu Anha. Ketika beri’tikaf Shafiyyah menemui Rasulullah dan berbincang dengannya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengantarkan Shafiyyah kembali ke rumahnya (mengantar tanpa meninggalkan masjid tempat beri’tikaf).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata, “Sesungguhnya setan mengikuti manusia (untuk menggodanya) seperti aliran darah. Aku takut dia telah meletakkan suatu kejahatan di dalam hatimu.” (Diriwayatkan oleh Muslim, 24/2175. Kitab As-Salaam).

Keistimewaan

1. Taat kepada Allah Ta’ala

Shafiyah mempergunakan setiap waktunya untuk beribadah kepada Allah. Ia mempelajari akhlak, petunjuk, kasih sayang, kecerdasan, dan ilmu pengetahuan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

2. Istiqomah dan memegang komitmen

Setelah Rasulullah wafat, Shafiyyah Radiyallahu Anha tetap memegang komitmen untuk menjadi istri yang baik, sehingga ia terus berpuasa dan beribadah kepada Allah Ta’ala. Shafiyyah tetap menjalin hubungan baik kepada kerabatnya yang beragama Yahudi dan tidak memerangi agama Islam.

3. Tidak suka perbuatan dzalim

Kinanah, pembantu Shafiyyah Radhiyallahu Anha berkata, “Aku menuntun kendaraan Shafiyyah ketika hendak membela Utsman Radhiyallahu Anhu. Kami dihadang oleh Al-Asytar (pemimpin kelompok kufah yang memberontak kepada khalifah Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu Anhu), lalu ia memukul wajah keledainya hingga miring.

Melihat hal itu Shafiyyah berkata, ‘Biarkan aku kembali, jangan sampai orang ini mempermalukanku.’ Kemudian Shafiyyah membentangkan kayu antara rumahnya dengan rumah Utsman guna menyalurkan makanan dan air minum.” (Al-Ishaabah, vol 4 hlm 339, Tabaaqat Ibnu Sa’ad, vol 8 hlm. 128, dan Syi’ar A’laam An-Nubalaa’, vol. 2 hlm 237. al-Arna’uth berkata, “Perawinya tsiqah.”)

*Berbagai Sumber

Leave a Reply